ilustrasi penjarahan (unsplash.com/Gabe Pierce)
Gelombang unjuk rasa nasional pada Sabtu (17/10/2026) diperkirakan pihak berwenang diikuti sekitar 550 ribu orang, sementara pihak penyelenggara mengeklaim kehadiran 800 ribu demonstran. Aksi yang melibatkan serikat buruh, organisasi pelajar, dan aktivis yang berupaya menghidupkan kembali gerakan rompi kuning tersebut kemudian diwarnai kerusuhan hebat di sejumlah kota besar. Di Limoges, kobaran api menghanguskan gedung Balai Kota peninggalan abad ke-19 hingga atapnya runtuh setelah perusuh radikal menerobos masuk dan membakarnya saat pegawai, pejabat, dan warga masih berada di dalam.
Menurut laporan Assosiated Press, kekacauan juga meluas ke Marseille saat sejumlah pengunjuk rasa sempat memaksa masuk ke lobi Balai Kota dan kelompok bertudung serta bermasker merusak sebuah kantor polisi, sementara di Lyon kebakaran terjadi di dalam kantor pariwisata. Di Paris, polisi menembakkan gas air mata di Place de la République pada Minggu (18/10/2026) saat ketegangan berkobar secara sporadis ketika sekelompok kecil orang berupaya membakar sepeda dan tempat sampah. Kepolisian Paris mencatat 855 orang ditangkap di wilayah ibu kota, sementara pihak kejaksaan menyatakan 557 orang di antaranya masih ditahan kepolisian. Selain itu, kepolisian melaporkan satu korban meninggal dunia akibat serangan jantung yang perkaranya kini diselidiki pihak kejaksaan.
Bentrok dalam demonstrasi tersebut turut mengakibatkan cedera parah pada pengunjuk rasa di tengah sorotan publik atas penggunaan senjata antihuru-hara dan granat oleh polisi. Kejaksaan Mulhouse membuka penyelidikan terkait seorang remaja perempuan berusia 17 tahun yang terluka parah hingga kehilangan penglihatan pada sebelah matanya saat demonstrasi. Penyelidikan terpisah juga dibuka di Saint-Etienne menyusul insiden seorang demonstran muda yang kehilangan satu tangannya.