Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Macron Minta Pertanggungjawaban Pihak yang Ingin Runtuhkan Republik
ilustrasi unjuk rasa ricuh (pexels.com/Maurício Mascaro)
  • Presiden Emmanuel Macron mengecam kerusuhan dan penjarahan dalam demonstrasi nasional terkait biaya hidup serta fasilitas sekolah, dengan sedikitnya 2.400 orang ditangkap.
  • Macron menggelar rapat darurat, memerintahkan perlindungan fasilitas publik dan bisnis, serta menegaskan penjarah wajib mengganti kerugian dan pelaku perusakan Republik akan dimintai pertanggungjawaban.
  • Demonstrasi yang diikuti ratusan ribu orang memicu pembakaran gedung, penjarahan, korban luka, dan saling tuding politik menjelang pemilihan presiden Prancis.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Presiden Prancis Emmanuel Macron, pada Minggu (18/10/2026), menyampaikan kemarahan serta rasa malu publik atas kerusuhan dan aksi penjarahan yang menodai unjuk rasa berskala nasional pada Sabtu sebelumnya. Gelombang demonstrasi massa yang memprotes kenaikan biaya hidup dan buruknya kondisi fasilitas sekolah tersebut berujung bentrokan hingga menyebabkan sedikitnya 2.400 orang ditangkap polisi.

Macron menuduh sebagian besar kekerasan dilakukan oleh aktivis sayap kiri radikal bersama para pelaku kriminal yang menyerang aparat kepolisian serta gedung pemerintahan demi menciptakan kekacauan. Dia menegaskan bahwa seluruh pihak yang menjarah wajib mengganti rugi kerusakan dan mereka yang berupaya meruntuhkan tatanan Republik akan dimintai pertanggungjawaban.

1. Macron gelar rapat darurat dan kecam kelompok sayap kiri

Presiden Prancis Emmanuel Macron (Kremlin.ru, CC BY 4.0, via Wikimedia Commons)

Dalam pidato nasional melalui televisi pada Minggu (18/10/2026), Macron mengecam kekerasan yang dilakukan oleh unsur pemberontak dari kelompok sayap kiri radikal bersama sejumlah pelaku kriminal. “Mereka yang menjarah harus membayar kerusakan yang ditimbulkan, dan mereka yang berusaha meruntuhkan Republik akan dimintai pertanggungjawaban,” kata Macron seperti dikutip PBS NewsHour.

Sebelum menyampaikan pidatonya, Macron menggelar pertemuan darurat bersama sejumlah pejabat tinggi pemerintah setelah kelompok bertopeng membakar dan menyerang kantor balai kota di beberapa wilayah. Dia menginstruksikan para prefek untuk bekerja sama dengan para wali kota guna melindungi fasilitas publik serta area bisnis dalam beberapa pekan ke depan. Instruksi tersebut mencakup penerapan larangan aksi unjuk rasa apabila situasi di lapangan dinilai memerlukan langkah pengamanan tersebut.

2. Ratusan toko dijarah dan gedung publik dibakar massa

ilustrasi penjarahan (unsplash.com/Gabe Pierce)

Gelombang unjuk rasa nasional pada Sabtu (17/10/2026) diperkirakan pihak berwenang diikuti sekitar 550 ribu orang, sementara pihak penyelenggara mengeklaim kehadiran 800 ribu demonstran. Aksi yang melibatkan serikat buruh, organisasi pelajar, dan aktivis yang berupaya menghidupkan kembali gerakan rompi kuning tersebut kemudian diwarnai kerusuhan hebat di sejumlah kota besar. Di Limoges, kobaran api menghanguskan gedung Balai Kota peninggalan abad ke-19 hingga atapnya runtuh setelah perusuh radikal menerobos masuk dan membakarnya saat pegawai, pejabat, dan warga masih berada di dalam.

Menurut laporan Assosiated Press, kekacauan juga meluas ke Marseille saat sejumlah pengunjuk rasa sempat memaksa masuk ke lobi Balai Kota dan kelompok bertudung serta bermasker merusak sebuah kantor polisi, sementara di Lyon kebakaran terjadi di dalam kantor pariwisata. Di Paris, polisi menembakkan gas air mata di Place de la République pada Minggu (18/10/2026) saat ketegangan berkobar secara sporadis ketika sekelompok kecil orang berupaya membakar sepeda dan tempat sampah. Kepolisian Paris mencatat 855 orang ditangkap di wilayah ibu kota, sementara pihak kejaksaan menyatakan 557 orang di antaranya masih ditahan kepolisian. Selain itu, kepolisian melaporkan satu korban meninggal dunia akibat serangan jantung yang perkaranya kini diselidiki pihak kejaksaan.

Bentrok dalam demonstrasi tersebut turut mengakibatkan cedera parah pada pengunjuk rasa di tengah sorotan publik atas penggunaan senjata antihuru-hara dan granat oleh polisi. Kejaksaan Mulhouse membuka penyelidikan terkait seorang remaja perempuan berusia 17 tahun yang terluka parah hingga kehilangan penglihatan pada sebelah matanya saat demonstrasi. Penyelidikan terpisah juga dibuka di Saint-Etienne menyusul insiden seorang demonstran muda yang kehilangan satu tangannya.

3. Para tokoh politik saling melempar tuduhan

Menteri Dalam Negeri Prancis Laurent Nuñez (Ministère de l'Intérieur, Licence Ouverte, via Wikimedia Commons)

Eskalasi kekerasan ini memicu saling tuding di kalangan elite politik menjelang pelaksanaan pemilihan presiden pada musim semi mendatang. Tokoh sayap kanan Marine Le Pen mengkritik pemerintahan sentris Macron sebagai rezim yang kehilangan arah, lelah, dan hanya mampu mengomentari ketidakberdayaan mereka sendiri. Sementara itu, politisi sayap kiri Jean-Luc Mélenchon menuduh Perdana Menteri Sébastien Lecornu bermain api dengan mengandalkan degradasi situasi yang berujung menyatukan kalangan pemuda dan serikat buruh.

Mélenchon yang turut mengikuti unjuk rasa di Paris menegaskan bahwa kelompoknya menolak keras aksi penjarahan maupun perusakan tempat usaha. “Pesan saya jelas: mereka yang berbagi perjuangan dengan kita tidak memiliki urusan dalam penjarahan atau penghancuran,” tegas Mélenchon.

Sementara itu, Menteri Dalam Negeri Laurent Nuñez menegaskan di media sosial X bahwa hak berdemonstrasi merupakan hak mendasar, tetapi menabur kekacauan secara sengaja dan kolektif melalui kekerasan bukanlah hak mendasar.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article