Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Fakta Misi Antariksa Jepang ke Bulan Mars Urai Teka-Teki Tata Surya
ilustrasi bendera Jepang (unsplash.com/HAYASHI KANNA)
  • Jepang meluncurkan wahana MMX dengan roket H3 dari Tanegashima untuk menjadi misi pertama yang mengumpulkan sampel batuan dan pasir dari Phobos, bulan terbesar Mars.
  • MMX dijadwalkan tiba di orbit Mars pada Agustus 2027, mencoba dua pendaratan di Phobos pada 2029, lalu mengirim kapsul sampel ke Australia pada Juli 2031.
  • Sampel Phobos diharapkan mengungkap asal-usul bulan Mars dan kondisi awal tata surya; misi senilai 55,3 miliar yen ini melibatkan JAXA serta mitra internasional.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Jepang sukses meluncurkan wahana antariksa Martian Moons eXploration (MMX) menggunakan roket H3 dari Pusat Antariksa Tanegashima di Prefektur Kagoshima, Selasa (20/10/2026), pukul 04.41 waktu setempat. Peluncuran ini menjadi misi pertama di dunia yang bertujuan mengumpulkan sampel batuan dan pasir dari Phobos, bulan terbesar Mars.

Badan Eksplorasi Antariksa Jepang atau Japan Aerospace Exploration Agency (JAXA) mengumumkan bahwa wahana tersebut berhasil memisahkan diri dari roket peluncur pada pukul 05.52 waktu setempat. Proyek yang dikembangkan dengan biaya 55,3 miliar yen atau setara Rp6,32 triliun ini dijadwalkan membawa sampel kembali ke Bumi pada Juli 2031.

1. Target pendaratan di Phobos dan pengamatan Deimos

ilustrasi peluncuran roket (pexels.com/Pixabay)

Wahana antariksa MMX dijadwalkan memasuki orbit Mars pada Agustus 2027 mendatang. Terkait bobot wahana, The Japan Times mencatat bobotnya sekitar 4,2 ton. MMX akan meneliti Phobos yang berdiameter sekitar 27 kilometer dan mengorbit Mars pada jarak sekitar 6.000 kilometer.

Sebelum pendaratan dilakukan, sebuah penjelajah kecil bernama Idefix buatan badan antariksa Prancis CNES dan Pusat Kedirgantaraan Jerman akan memeriksa medan untuk menemukan lokasi pendaratan yang aman. Wahana MMX selanjutnya akan mencoba dua kali pendaratan di Phobos pada 2029 untuk mengambil sedikitnya 10 gram materi dari kedalaman minimal 2 sentimeter di bawah permukaan.

Setelah menuntaskan pengumpulan sampel di Phobos, wahana tersebut akan melakukan pengamatan lintas terbang terhadap Deimos, bulan kedua milik Mars. Wahana MMX kemudian dijadwalkan meninggalkan orbit Mars pada November 2030, dan kapsul pembawa sampelnya dijadwalkan mendarat di Australia pada Juli 2031.

2. Mengurai teka-teki pembentukan tata surya

ilustrasi tata surya (pexels.com/Zelch Csaba)

Para ilmuwan berharap sampel tersebut dapat memecahkan perdebatan panjang mengenai proses terbentuknya bulan-bulan Mars guna memahami asal-usul tata surya. Salah satu teori menyebutkan kedua bulan tersebut merupakan asteroid yang terperangkap oleh gravitasi Mars. Teori lain menduga keduanya terbentuk dari puing-puing sisa tabrakan dahsyat antara Mars dan benda langit lain.

Jawaban atas teori tersebut berpotensi memberikan petunjuk mengenai persebaran air dan senyawa organik pada masa awal tata surya. Data ilmiah ini diharapkan dapat membantu ilmuwan memahami kondisi lingkungan yang memungkinkan munculnya kehidupan.

Proyek eksplorasi ini melibatkan JAXA, Mitsubishi Electric, sekitar 20 universitas dan lembaga riset, serta mitra internasional seperti NASA dan Badan Antariksa Eropa (ESA). Selain tujuan ilmiah utama, JAXA menyatakan harapannya agar misi ini dapat membantu pengembangan teknologi yang dibutuhkan untuk eksplorasi manusia ke Mars di masa depan.

3. Tantangan teknis roket dan respons para tokoh

Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi (内閣広報室|Cabinet Public Affairs Office, CC BY 4.0, via Wikimedia Commons)

Peluncuran MMX awalnya direncanakan pada 2024, tetapi tertunda menyusul kegagalan penerbangan perdana roket H3 pada 2023. Misi ini membawa tantangan teknis lebih tinggi dibandingkan misi Hayabusa2 pada 2020 karena wahana harus masuk jauh ke dalam gravitasi Mars sebelum terbang kembali pulang ke Bumi.

Dilansir The Japan TImes, General Manager Divisi Antariksa Mitsubishi Electric, Naoki Murakami, memberikan pernyataan usai peluncuran roket H3 kesepuluh tersebut. "MMX mengambil langkah pertamanya hari ini. Ini menandai awal dari perjalanan panjang lima tahun," ujar Naoki Murakami.

Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi turut menyambut peluncuran tersebut melalui unggahan di media sosial X pada Selasa pagi. "Ini adalah kabar yang sangat menggembirakan," kata Sanae Takaichi. Dia menambahkan, "Kami mendoakan keberhasilan upaya bersejarah ini dan keberhasilan pengembalian sampel dari sistem Mars."

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article