Presiden Amerika Serikat Donald Trump (x.com/WhiteHouse)
Direktur Program Timur Tengah dan Afrika Utara Chatham House, Sanam Vakil, menilai kekalahan Partai Republik akan meningkatkan tekanan terhadap Trump untuk mengakhiri perang. Akan tetapi, hasil pemilu tersebut tidak menutup kemungkinan AS melancarkan serangan lanjutan terhadap Iran.
"Dia membutuhkan kemenangan diplomatik atau setidaknya jalan keluar dari konflik. Namun, ketika menghadapi kekalahan, ia mungkin enggan terlihat lemah," kata Vakil kepada Al Jazeera.
Sementara itu, analis senior Iran dari International Crisis Group, Hamidreza Azizi, menilai kemenangan Demokrat dapat membuat para pengambil keputusan di Iran kian teguh mempertahankan tuntutan. Hal ini mencakup tujuh syarat untuk membuka kembali sebagian Selat Hormuz serta tuntutan agar AS mengambil langkah pertama. Ia juga memperkirakan peluang Iran memberikan konsesi dalam persoalan nuklir bisa makin kecil dari sebelumnya.
Kekhawatiran terhadap kemungkinan serangan baru AS turut disampaikan peneliti senior Stimson Center, Barbara Slavin. Ia memperingatkan bahwa Trump masih punya kewenangan besar sebagai panglima tertinggi militer, terutama sebelum anggota Kongres baru mulai bertugas pada Januari 2027.
Wakil Presiden Eksekutif Quincy Institute for Responsible Statecraft, Trita Parsi, juga memperingatkan bahwa periode sebelum anggota Kongres baru mulai bertugas berpotensi menjadi masa yang tidak stabil. Menurutnya, Trump dapat meningkatkan serangan terhadap Iran sebagai bentuk pembalasan dendam usai kekalahan Partai Republik.
Trump sendiri mengakui agresi AS-Israel terhadap Iran kemungkinan turut memengaruhi buruknya hasil pemilu bagi Partai Republik. Akan tetapi, ia berpendapat kenaikan harga bensin lebih menjadi perhatian pemilih ketimbang perang. Ia mengatakan kepada Fox News bahwa para pemilih mungkin mendukung kebijakannya terhadap Iran, tetapi tidak bersedia membayar lebih mahal untuk bensin.