Alasan Roy Suryo Tertawa Saat Jokowi Tunjukkan Ijazah: Fotonya Baru!

Jakarta, IDN Times - Terdakwa kasus dugaan fitnah dan pencemaran nama baik, Roy Suryo, tertawa saat Presiden ketujuh RI, Joko "Jokowi" Widodo, menunjukkan ijazah S-1 Universitas Gadjah Mada (UGM) dalam persidangan di Pengadilan Negeri Jakarta Timur, Kamis (5/11/2026).
Roy mengaku langsung menyebut ijazah yang ditampilkan tersebut palsu. Ia beralasan, penilaiannya didasarkan pada pengalamannya sebagai fotografer dan percetakan foto sejak duduk di bangku SMP.
"Saya tadi tertawa dan langsung menyampaikan dengan kata-kata palsu. Kenapa? Saya sangat sependapat dengan Mas Refly. Penglihatan saya adalah penglihatan seorang fotografer yang sudah sejak SMP itu mencetak," kata Roy.
Roy juga menyebut telah menyiapkan pertanyaan kunci untuk Jokowi yang akan disampaikan dalam persidangan berikutnya. Namun, ia enggan membocorkan pertanyaan tersebut.
"Enggak, enggak, enggak akan saya bocorkan di sini. Yaitu terkait di persidangan berikutnya nanti, siang nanti terkait dengan foto tersebut," ujarnya.
Roy kemudian mempersoalkan perbedaan ijazah yang ditampilkan Jokowi dengan ijazah bertanggal 15 Desember yang sebelumnya menjadi bahan pembahasan.
Menurut Roy, ijazah yang ditampilkan dalam persidangan memiliki kondisi fisik berbeda. Ia menilai ijazah tersebut tidak memiliki kerusakan atau lubang di bagian bawah seperti yang disebutnya terdapat pada dokumen lain.
"Tapi yang jelas, memang ijazah itu berbeda dengan ijazah tanggal 15 Desember. 15 Desember itu ijazahnya rapi, tidak ada rusak di bawah, tidak ada apa, lubang-lubang di bawah. Itu tadi jelas betul ijazahnya berbeda," katanya.
Roy juga mempertanyakan keberadaan embos dan watermark pada ijazah tersebut. Ia mengklaim tidak melihat embos dan menilai watermark-nya berbeda dengan dokumen bertanggal 15 Desember.
"Yang dikatakan ada embos, ada enggak? Enggak ada. Tapi watermark-nya pun berbeda," ucapnya.
Selain itu, Roy menyoroti foto yang terpasang pada ijazah. Ia mengklaim menemukan perbedaan antara usia berkas dan foto yang tercantum di dalamnya.
"Berkasnya lama, fotonya baru! Tidak ada capnya tadi! Ada tadi ditempelkan di situ. Itu baru tadi," ujar Roy.
Roy menegaskan penilaiannya didasarkan pada pengalamannya di bidang fotografi dan percetakan. Ia menyatakan dapat mengenali keaslian foto berdasarkan pengalamannya mencetak foto sejak SMP.

















