Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Irak Kecam Serangan Gabungan AS-Saudi, Sebut Langgar Kedaulatan Negara

Irak Kecam Serangan Gabungan AS-Saudi, Sebut Langgar Kedaulatan Negara
Perdana Menteri Irak, Ali al-Zaidi. (U.S. Secretary of War, Public domain, via Wikimedia Commons)
Intinya Sih
  • Irak mengecam serangan gabungan AS-Arab Saudi terhadap pangkalan PMF di tujuh provinsi sebagai pelanggaran kedaulatan; sedikitnya 20 anggota PMF tewas dan 32 lainnya terluka.
  • AS dan Arab Saudi menyatakan operasi itu sebagai pembelaan diri terhadap fasilitas terkait kelompok pro-Iran, setelah drone yang diklaim diluncurkan dari Irak menargetkan infrastruktur minyak Saudi.
  • PMF membantah terlibat dalam serangan ke Arab Saudi dan menyebut tuduhan tanpa bukti; kelompok milisi pro-Iran mengancam membalas, sementara demonstrasi menuntut pengusiran dubes Saudi.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Jakarta, IDN Times Pemerintah Irak mengecam serangan gabungan Amerika Serikat (AS) dan Arab Saudi terhadap sejumlah pangkalan Pasukan Mobilisasi Populer (PMF) di tujuh provinsi Irak pada Rabu lalu. Rapat Dewan Keamanan Nasional, yang dipimpin oleh Perdana Menteri Ali al-Zaidi, menyebut serangan itu sebagai pelanggaran terang-terangan terhadap kedaulatan dan kesucian wilayah Irak.

Serangan yang membentang dari Kota Kirkuk di utara hingga Basra di selatan itu menewaskan sedikitnya 20 anggota PMF dan melukai 32 orang lainnya. Sejumlah media Irak dan Iran juga melaporkan sedikitnya empat penasihat Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) turut menjadi korban.

Menyusul serangan tersebut, al-Zaidi membatalkan kunjungan pertamanya ke Riyadh sejak menjabat sebagai perdana menteri. Baghdad menyerukan seluruh pihak untuk menghormati kedaulatan negaranya, serta menghindari tindakan yang dapat mengancam keamanan dan stabilitas kawasan, mengutip laporan Al Jazeera.

Pemerintah Irak juga mengatakan serangan Washington dan Riyadh telah menghambat penyelidikan terkait dugaan serangan terhadap wilayah Arab Saudi. Pihaknya mendesak penyelesaian berbagai krisis regional melalui jalur dialog untuk mencegah eskalasi lebih lanjut.

1. AS dan Arab Saudi klaim serangannya dilakukan untuk membela diri

bendera Arab Saudi (pixabay.com/Chickenonline)
bendera Arab Saudi (pixabay.com/Chickenonline)

Komando Pusat Militer AS (CENTCOM) mengatakan operasi gabungan pada Rabu menyasar fasilitas yang terkait dengan kelompok-kelompok bersenjata yang didukung Iran di Irak. Menurut Washington, lokasi tersebut telah digunakan untuk melancarkan serangan terhadap pasukan AS dan infrastruktur energi Arab Saudi.

Kementerian Pertahanan Arab Saudi mengatakan pihaknya sebelumnya berhasil mencegat dan menghancurkan sejumlah drone yang menargetkan fasilitas minyak di Provinsi Timur dan Riyadh. Pihaknya mengklaim serangan tersebut diluncurkan dari wilayah Irak.

Riyadh menegaskan serangannya dilakukan berdasarkan hak untuk membela diri sebagaimana diatur dalam Pasal 51 Piagam PBB, setelah adanya serangan terhadap fasilitas perminyakannya yang berasal dari wilayah Irak. Riyadh memperingatkan akan mengambil tindakan militer tambahan apabila kelompok-kelompok yang didukung Teheran kembali melancarkan serangan, dilansir Anadolu.

Sementara itu, Presiden AS, Donald Trump, mengatakan operasi pengeboman tersebut telah dikoordinasikan dengan Baghdad. Trump menyebut kelompok-kelompok milisi yang didukung Iran sebagai kanker bagi dunia dan mengatakan Washington sedang mempertimbangkan langkah tambahan terhadap kelompok proksi negara Teluk tersebut.

2. PMF bantah terlibat dalam serangan ke Arab Saudi

ilustrasi peta Arab Saudi (pexels.com/Lara Jameson)
ilustrasi peta Arab Saudi (pexels.com/Lara Jameson)

PMF membantah seluruh tuduhan bahwa kelompoknya berada di balik serangan terhadap Arab Saudi. Organisasi yang merupakan payung bagi puluhan faksi bersenjata itu menyebut tuduhan Riyadh sebagai rekayasa. Juru bicara Panglima Angkatan Bersenjata Baghdad mengatakan hingga kini tidak ada pihak yang mampu menunjukkan bukti bahwa serangan tersebut diluncurkan dari wilayah Irak.

Negara Teluk itu juga menegaskan bahwa wilayah negaranya tidak boleh digunakan sebagai tempat melancarkan serangan terhadap negara tetangga maupun arena penyelesaian sengketa regional dan internasional. Sikap itu merupakan komitmen Irak terhadap prinsip bertetangga yang baik, penghormatan terhadap kedaulatan negara, dan tidak mencampuri urusan dalam negeri negara lain.

3. Milisi Irak yang didukung Iran ancam lakukan aksi balasan

bendera Iran
ilustrasi bendera Iran (unsplash.com/mostafa meraji)

Ribuan pelayat di Kota Mosul menghadiri pemakaman sejumlah anggota PMF yang tewas dalam serangan. Sejumlah pelayat menyerukan aksi balasan terhadap AS dan Arab Saudi. Sementara itu, di Baghdad, para pendukung PMF juga menggelar demonstrasi menuntut pemerintah mengusir Duta Besar Arab Saudi dari Irak.

Mengutip Al Jazeera, kelompok paramiliter Irak yang didukung Iran, Kataib Hezbollah, menyatakan akan memberikan waktu hingga 6 Agustus kepada pemerintah negara Teluk tersebut untuk membuktikan bahwa mereka mampu melindungi kedaulatan negara. Kelompok tersebut menegaskan respons terhadap serangan gabungan Washington dan Riyadh tidak dapat dihindari.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More