Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Irak Bantah Tuduhan Trump Soal Fasilitasi Serangan AS-Saudi

Irak Bantah Tuduhan Trump Soal Fasilitasi Serangan AS-Saudi
bendera Irak. (unsplash.com/engin akyurt)
Intinya Sih
  • Irak membantah mengetahui atau memfasilitasi serangan gabungan AS-Arab Saudi, meski Donald Trump menyatakan operasi itu dikoordinasikan dengan Baghdad.
  • Baghdad mengecam serangan sebagai pelanggaran kedaulatan, menunda kunjungan Perdana Menteri Ali al-Zaidi ke Arab Saudi, dan meminta Riyadh membuktikan tuduhan peluncuran drone dari Irak.
  • Investigasi awal Irak tidak menemukan bukti tuduhan Saudi, sementara pemerintah Zaidi menghadapi tekanan menyeimbangkan hubungan dengan AS dan Iran di tengah risiko eskalasi konflik regional.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Jakarta, IDN Times Pemerintah Irak membantah tuduhan bahwa pihaknya memfasilitasi serangan gabungan Amerika Serikat (AS) dan Arab Saudi terhadap sejumlah target di wilayahnya. Baghdad mengaku tidak mengetahui rencana operasi tersebut sebelum serangan pada Rabu dilancarkan.

Pernyataan itu disampaikan pada Kamis (30/7/2026), sehari setelah Washington dan Riyadh melancarkan serangan terkoordinasi ke sejumlah sasaran di Irak. Sebelumnya, Presiden AS, Donald Trump, mengatakan bahwa operasi tersebut telah dikoordinasikan dengan Baghdad.

Juru Bicara Pemerintah Irak, Haider al-Aboudi, mengatakan Dewan Menteri Keamanan Nasional telah mengecam serangan tersebut karena dinilai sebagai pelanggaran terhadap kedaulatan negara. Aboudi menyebut bahwa Baghdad selalu meyakini bahwa diplomasi dan dialog merupakan satu-satunya cara untuk menyelamatkan kawasan dari krisis dan eskalasi lebih lanjut.

Dilansir Anadolu, Aboudi juga mengungkapkan bahwa Perdana Menteri Ali al-Zaidi menunda kunjungan resminya ke Arab Saudi menyusul serangan pada Rabu. Menurutnya, Irak tetap berkomitmen untuk menjaga hubungan kemitraan dan bertetangga yang baik dengan seluruh negara, serta tidak ingin terseret ke dalam konflik regional.

1. Irak minta Arab Saudi buktikan tuduhannya

ilustrasi peta Arab Saudi (pexels.com/Lara Jameson)
ilustrasi peta Arab Saudi (pexels.com/Lara Jameson)

Pemerintah Irak meminta Arab Saudi menunjukkan bukti atas tuduhannya bahwa wilayah negaranya digunakan sebagai lokasi peluncuran serangan terhadap kerajaan tersebut. Riyadh sebelumnya mengklaim berhasil mencegat drone yang disebut diluncurkan oleh milisi yang didukung Iran di Irak dan menargetkan fasilitas minyak milik kerajaan.

Tuduhan Arab Saudi telah menjadi dalih untuk melancarkan serangan bela diri ke Irak pada Rabu. Meski demikian, Riyadh hingga kini belum mengungkapkan secara rinci bentuk keterlibatannya dalam operasi gabungan tersebut.

Aboudi mengatakan bahwa Baghdad telah membentuk sejumlah komite investigasi untuk menyelidiki tuduhan tersebut. Namun, hasil penyelidikan sementara tidak menemukan bukti yang mendukung klaim bahwa serangan terhadap Arab Saudi berasal dari wilayah Irak.

2. Pemerintahan Zaidi dihadapkan pada dilema hubungan dengan AS dan Iran

Perdana Menteri Irak
Perdana Menteri Irak, Ali al-Zaidi. (U.S. Secretary of War, Public domain, via Wikimedia Commons)

Insiden terbaru itu semakin memperumit posisi pemerintahan Zaidi yang baru menjabat sebagai perdana menteri pada awal tahun ini. Zaidi, yang memperoleh dukungan dari Trump saat pembentukan pemerintahannya, berjanji akan melucuti kelompok-kelompok bersenjata yang berafiliasi dengan Iran sesuai dengan apa yang ditekankan Washington, mengutip Turkiye Today.

Kondisi tersebut membuat pemerintah Irak harus menjaga keseimbangan antara dua mitra strategis yang saling berseberangan. Baghdad memiliki hubungan ekonomi dan keagamaan yang erat dengan Teheran, yang selama bertahun-tahun mendukung berbagai kelompok milisi berpengaruh di negara tersebut. Di sisi lain, Irak masih bergantung pada AS dalam kerja sama keamanan dan dukungan politik.

3. Analis peringatkan konflik kawasan makin sulit diprediksi

ilustrasi konflik AS dan Iran
ilustrasi konflik AS dan Iran (unsplash.com/Saifee Art)

Sejumlah analis memperingatkan bahwa serangan gabungan AS dan Arab Saudi terhadap milisi yang didukung Iran di Irak telah membawa kawasan ke situasi yang belum pernah terjadi sebelumnya. Mereka menilai konflik kini memasuki fase yang semakin luas dan sulit diprediksi apabila aksi balasan terus berlanjut, dilaporkan The Guardian.

Kelompok milisi pro-Iran, Harakat Hezbollah al-Nujaba, memperingatkan bahwa kepentingan dan keamanan AS maupun Arab Saudi akan menghadapi konsekuensi atas serangan tersebut. Di kota Mosul, ribuan pelayat yang mengiringi pemakaman anggota milisi yang tewas juga meneriakkan slogan dan seruan "Matilah Amerika!" sebagai bentuk kemarahan terhadap operasi militer tersebut.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More