Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Ilustrasi tanaman opium. (unsplash.com/Tim Cooper)
  • UNODC melaporkan luas lahan opium Afghanistan naik 330 persen menjadi 43.000 hektare pada 2026, dengan produksi hampir 1.500 ton atau lima kali lipat dari tahun sebelumnya.
  • Kondisi ekonomi memburuk dan tingginya harga opium mendorong petani kembali menanam secara sembunyi-sembunyi, sementara UNODC menilai mata pencaharian alternatif belum memadai.
  • Taliban membantah temuan UNODC, mengklaim telah memusnahkan lebih dari 26.000 hektare tanaman narkotika pada 2026 dan mempertanyakan metode penilaian berbasis citra satelit.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) melaporkan peningkatan tajam penanaman dan produksi opium di Afghanistan sepanjang tahun ini. Berdasarkan laporan Kantor PBB untuk Narkoba dan Kejahatan (UNODC) pada 29 Oktober 2026, luas lahan penanaman opium melonjak 330 persen menjadi 43.000 hektare. Sementara itu, produksinya diperkirakan mencapai hampir 1.500 ton atau sekitar 5 kali lipat dibandingkan tahun sebelumnya.

UNODC menyebutkan bahwa penanaman opium kini ditemukan di 16 dari 34 provinsi di Afghanistan. Peningkatan tersebut menjadi yang tertinggi sejak rezim Taliban memberlakukan larangan narkotika pada April 2022. Meski demikian, total luas lahan dan produksi saat ini masih berada di bawah tingkat sebelum larangan tersebut diterapkan.

Afghanistan dahulu merupakan produsen opium ilegal terbesar di dunia, sekaligus pemasok utama bahan baku heroin ke pasar Eropa dan Asia. PBB melaporkan, sebelum larangan diberlakukan, negara ini menyumbang sekitar 80 persen dari pasokan global.

1. Larangan Taliban belum menghentikan budidaya opium di Afghanistan

Bendera Afghanistan. (Unsplash.com/Sohaib Ghyasi)

Setelah mengambil alih kekuasaan pada Agustus 2021, Taliban melarang penanaman dan perdagangan narkotika atas dasar agama dan pertimbangan keamanan. Kebijakan tersebut berdampak pada ratusan ribu petani dan pekerja harian yang menggantungkan hidup pada sektor tersebut.

Menurut UNODC, memburuknya kondisi ekonomi membuat sejumlah petani kembali menanam opium secara sembunyi-sembunyi. Sebagian di antaranya menyisipkan tanaman tersebut di antara ladang sereal atau di dalam kompleks berpagar untuk menghindari pengawasan aparat. UNODC menilai tingginya harga opium turut mendorong petani miskin mempertahankan komoditas tersebut sebagai sumber penghasilan.

"Pemberantasan tanaman ilegal belum diimbangi dukungan memadai untuk menyediakan mata pencaharian alternatif bagi masyarakat terdampak, baik dari otoritas de facto maupun dari komunitas internasional," kata Polleak Ok Serei, perwakilan UNODC di Afghanistan, dikutip dari NHK News pada Senin (2/11/2026).

2. PBB desak dukungan ekonomi bagi petani

Ilustrasi bendera PBB. (pexels.com/Niklas Jeromin)

Direktur Eksekutif UNODC, Monica Juma, menegaskan bahwa peningkatan penanaman opium menunjukkan sulitnya mempertahankan penurunan produksi narkotika apabila petani tidak memiliki sumber penghasilan lain. Ia mendesak Taliban dan komunitas internasional bekerja sama menyediakan bantuan ekonomi, infrastruktur pertanian, serta akses pasar bagi masyarakat pedesaan.

UNODC juga menekankan pentingnya pemantauan berkelanjutan, guna memastikan apakah peningkatan tersebut hanya bersifat sementara atau menjadi indikasi kebangkitan kembali industri opium Afghanistan. Badan itu menilai dukungan terhadap sektor pertanian legal diperlukan agar petani tidak lagi bergantung pada tanaman ilegal untuk memenuhi kebutuhan keluarga.

3. Taliban membantah temuan UNODC

Ilustrasi tanaman opium. (pexels.com/hasan kurt)

NBC News melaporkan, Pemerintah Taliban menolak hasil laporan tersebut karena dinilai tidak mencerminkan kondisi sebenarnya. Melalui Kementerian Dalam Negeri, Taliban menyatakan telah memusnahkan lebih dari 26 ribu hektare tanaman penghasil narkotika sepanjang 2026. Mereka juga mempertanyakan keakuratan penilaian UNODC yang disebut mengandalkan citra satelit, perkiraan, dan informasi dari kelompok yang dianggap bias.

Sebelumnya, Menteri Luar Negeri Afghanistan Amir Khan Muttaqi menyebut pemberantasan narkotika sebagai salah satu pencapaian utama pemerintahan Taliban. Namun, ia mengakui bahwa penanganan masalah tersebut membutuhkan tanggung jawab bersama. Ia menyerukan dukungan internasional untuk menyediakan mata pencaharian alternatif dan layanan rehabilitasi bagi pengguna narkotika. Ia juga menyerukan kerja sama regional dalam memberantas jaringan perdagangan narkoba.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article