Pemerintah Yaman Umumkan Serangan Besar, Rebut Wilayah Houthi

- Pemerintah Yaman mengumumkan operasi militer besar untuk merebut wilayah Houthi, mengerahkan seluruh matra bersenjata dan didukung koalisi pimpinan Arab Saudi.
- Militer Yaman mengklaim 257 serangan menewaskan sedikitnya 700 anggota Houthi, sementara koalisi melakukan 97 operasi tambahan di front Tor al-Baha dan Taiz.
- Houthi memutus jalur logistik Aden-Taiz, mengepung Taiz, serta menyerang fasilitas Saudi Aramco; pengamat meragukan operasi pemerintah karena posisi strategis Houthi.
Jakarta, IDN Times - Pemerintah Yaman mengumumkan operasi militer besar-besaran untuk merebut kembali seluruh wilayah yang dikuasai milisi Houthi pada Minggu (4/10/2026). Deklarasi ini disampaikan langsung oleh Ketua Dewan Kepresidenan Yaman, Rashad al-Alimi, melalui pidato televisi.
Operasi gabungan ini mendapat sokongan penuh dari koalisi militer Arab Saudi yang memimpin serangan udara. Pemerintah Yaman juga menyiagakan seluruh institusi negara hingga misi pembebasan wilayah selesai dijalankan.
1. Pemerintah berniat bebaskan Yaman dari Houthi

pasukan Houthi di Kota Sanaa, Yaman. (Public domain, via Wikimedia Commons) Presiden Rashad al-Alimi menyatakan pihaknya akan mengerahkan seluruh matra angkatan bersenjata. Perintah ini mencakup pengerahan pasukan keamanan di semua garis depan demi memukul mundur milisi Houthi.
"Kami telah menginstruksikan angkatan bersenjata, aparat keamanan, dan seluruh formasi militer untuk menjalankan tugas sesuai rencana sampai negara terbebas dari milisi Houthi," kata Rashad al-Alimi, dilansir Al Jazeera.
Sebelum pengumuman tersebut, militer Yaman mengklaim telah melancarkan 257 serangan ke berbagai posisi militer Houthi. Juru bicara militer Yaman, Kolonel Majed Abdullah al-Nazili, menyebut gempuran itu menewaskan sedikitnya 700 anggota Houthi. Koalisi pimpinan Arab Saudi juga menggelar 97 operasi tambahan di front Tor al-Baha dan poros Taiz menggunakan jet tempur, artileri, hingga drone.
2. Pengamat meragukan efektivitas serangan balasan

unjuk rasa pendukung Houthi di Yaman pada 2015 (Henry Ridgwell, VOA, Public domain, via Wikimedia Commons) Peluncuran operasi militer berskala penuh dinilai membuka babak baru dalam dinamika konflik bersenjata di Yaman. Analis pertahanan di London, Ibrahim Jalal, menilai upaya diplomasi selama ini buntu akibat ketimpangan kekuatan militer yang dibiarkan berlarut-larut.
"Proses damai dan deeskalasi telah gagal karena ada ketimpangan kekuatan nyata yang menggantung selama setidaknya enam tahun," ujar Ibrahim Jalal, analis pertahanan spesialis keamanan kawasan, dilansir Al Jazeera.
Sebaliknya, sebagian pengamat justru meragukan efektivitas operasi yang dicanangkan pemerintah. Peneliti wadah pemikir Chatham House, Farea Al-Muslimi, menilai serangan balasan tersebut kurang berarti karena Houthi telah lebih dulu memutus rute logistik ke Taiz. Analis politik Yaman, Mohammed Al-Qadhi, menambahkan, penguasaan Houthi atas perbukitan barat Taiz membuat upaya perebutan kembali pesisir menjadi jauh lebih rumit bagi pasukan pemerintah.
3. Milisi Houthi kepung Taiz dan balas serang fasilitas minyak Saudi

Juru bicara militer Houthi, Yahya Saree (Tasnim News Agency, CC BY-SA 4.0, via Wikimedia Commons) Situasi di garis depan memanas beberapa jam sebelum deklarasi perang diumumkan. Milisi Houthi merebut wilayah Al-Safiya dan menguasai kantor polisi setempat, sehingga memutus rute pasokan utama dari Aden menuju Taiz. Penutupan jalur logistik ini membuat Kota Taiz, yang dihuni ratusan ribu warga sipil, kini berada dalam kepungan.
Bentrokan sengit di perbatasan Taiz dan Lahj menewaskan lebih dari 70 orang dari kedua pihak dalam kurun satu hari. Pertempuran darat kian meluas menyusul runtuhnya gencatan senjata 2022 pada Juli lalu. Posisi Houthi kian dominan setelah pada September berhasil menguasai Pelabuhan Mocha dan wilayah strategis di sekitar Selat Bab al-Mandab.
Menanggapi gempuran koalisi, kelompok Houthi meluncurkan rudal balistik dan drone ke fasilitas energi milik Saudi Aramco di Riyadh serta Khurais. Juru bicara militer Houthi, Yahya Saree, mengklaim rentetan serangan tersebut memicu kebakaran besar di lokasi sasaran. Hingga kini, perang berkepanjangan yang pecah sejak kejatuhan ibu kota Sanaa pada 2014 terus memicu krisis kemanusiaan parah di seluruh negeri.


![[INFOGRAFIS] AI Jadi Tempat Curhat: Tren Baru Gen Z & Milenial](https://image.idntimes.com/post/20260429/upload_9c2883de31fbc7ad993691764c90e6e3_dfc3c6ee-e42f-48f6-9f1a-cde1ce74477c.jpg)



















