Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Pemilu Parlemen Rusia Digelar, Oposisi Anti-Perang Disingkirkan
ilustrasi negara bendera Rusia (pexels.com/Сергей Велов)
  • Rusia menggelar pemilu parlemen selama tiga hari, menjadi pemilihan legislatif pertama sejak invasi skala penuh ke Ukraina pada 2022.
  • United Russia diperkirakan mempertahankan dominasi di Duma Negara, sementara Yabloko dicoret dari daftar peserta pemilu.
  • Pemilu berlangsung saat ekonomi Rusia menghadapi stagnasi, dampak serangan drone Ukraina, serta tekanan politik terhadap kelompok anti-perang.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Apakah pemilu parlemen Rusia mencerminkan persaingan politik?
Vote Now
2022

Rusia melancarkan invasi skala penuh ke Ukraina.

September 2025

Tingkat persetujuan terhadap Presiden Vladimir Putin berada di angka 87 persen.

Juni

Krisis bahan bakar akibat serangan terhadap kilang minyak sempat mencapai puncaknya. Maxim Kruglov divonis tujuh tahun penjara.

Juli

Komisi Pemilihan Umum Rusia menyatakan 11 partai, termasuk Yabloko, memenuhi syarat mengikuti pemilu parlemen.

Agustus

Krisis bahan bakar kembali muncul dan persetujuan terhadap Putin tercatat 76 persen. Lev Shlosberg divonis lebih dari 11 tahun penjara, sedangkan Boris Nadezhdin meninggalkan Rusia.

Jumat, (18/9/2026)

Rusia mulai menggelar pemungutan suara pemilu parlemen selama tiga hari. Andrei Klepach menyampaikan peringatan mengenai risiko krisis sosial.

kini

Perekonomian Rusia memasuki fase stagnasi setelah sempat terdorong oleh tingginya belanja militer.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Apakah pemilu parlemen Rusia mencerminkan persaingan politik?
Vote Now
  • What?
    Rusia menggelar pemungutan suara untuk pemilu parlemen yang berlangsung selama tiga hari.
  • Who?
    United Russia, Yabloko, Kremlin, Mahkamah Agung Rusia, Presiden Vladimir Putin, dan pemilih Rusia terlibat dalam proses pemilu.
  • Where?
    Pemungutan suara dimulai dari wilayah Timur Jauh Rusia untuk memilih anggota Duma Negara.
  • When?
    Pemilu dimulai pada Jumat, (18/9/2026), setelah Rusia melancarkan invasi skala penuh ke Ukraina pada 2022.
  • Why?
    Kremlin disebut mengejar legitimasi politik dan ingin menunjukkan dukungan luas masyarakat terhadap kebijakannya di tengah perang dengan Ukraina.
  • How?
    Separuh dari 450 kursi Duma diperebutkan melalui daftar partai, sedangkan separuh lainnya melalui daerah pemilihan beranggota tunggal.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Apakah pemilu parlemen Rusia mencerminkan persaingan politik?
Vote Now

Rusia sedang memilih orang untuk duduk di parlemen. Partai United Russia diperkirakan masih kuat. Yabloko, partai yang mengkritik perang di Ukraina, tidak jadi ikut setelah dicoret Mahkamah Agung Rusia. Pemungutan suara dimulai di Timur Jauh Rusia dan berlangsung tiga hari. Kremlin juga memperketat ruang bagi kelompok yang menentang perang.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Apakah pemilu parlemen Rusia mencerminkan persaingan politik?
Vote Now

Jakarta, IDN Times Rusia mulai menggelar pemungutan suara untuk pemilu parlemen pada Jumat, (18/9/2026). Pemilu berlangsung selama tiga hari dan menjadi pemilihan legislatif pertama sejak Rusia melancarkan invasi skala penuh ke Ukraina pada 2022.

Pemungutan suara dimulai dari wilayah Timur Jauh Rusia. Partai utama Kremlin, United Russia, diperkirakan tetap mempertahankan dominasinya di Duma Negara yang memiliki 450 kursi.

Namun, pemilu kali ini berlangsung di tengah tekanan ekonomi dan politik akibat perang yang telah berjalan selama sekitar empat setengah tahun. Serangan drone jarak jauh Ukraina juga semakin membawa dampak perang ke wilayah Rusia.

Kremlin sekaligus memperketat ruang bagi kelompok yang menentang perang. Yabloko, satu-satunya partai yang secara terbuka mengkritik perang, sempat dinyatakan memenuhi syarat untuk mengikuti pemilu sebelum Mahkamah Agung Rusia mencoretnya dari daftar peserta.

1. Pemilu digelar di tengah dampak perang

ilustrasi pemilu (unsplash.com/Element5 Digital)

Serangan drone Ukraina terhadap kilang minyak, fasilitas logistik, gudang, dan infrastruktur lainnya turut memengaruhi kondisi ekonomi Rusia. Serangan terhadap kilang minyak bahkan memicu krisis bahan bakar yang sempat mencapai puncaknya pada Juni sebelum kembali muncul pada Agustus.

Perekonomian Rusia yang sempat terdorong oleh tingginya belanja militer kini memasuki fase stagnasi. Pemerintah menaikkan pajak dan meningkatkan pinjaman domestik untuk membantu mengendalikan defisit anggaran yang terus membesar.

Serangan terhadap gudang perusahaan ritel daring Wildberries dan Ozon juga menimbulkan dampak ekonomi. Ratusan ribu penjual kehilangan barang dagangan mereka akibat serangkaian serangan tersebut.

Kondisi itu turut memengaruhi suasana publik. Levada Center mencatat tingkat persetujuan terhadap Presiden Vladimir Putin berada di angka 76 persen pada Agustus, turun dari 87 persen pada September 2025.

Sejumlah pejabat dan anggota elite Rusia bahkan mulai menyampaikan kekhawatiran mengenai dampak perang terhadap kondisi dalam negeri. Andrei Klepach, kepala ekonom bank negara VEB.RF, memperingatkan Rusia berisiko menghadapi gejolak sosial.

“Kita tidak akan memenangkan persaingan dalam perang yang menguras sumber daya ini. Biaya kita terus meningkat. Saya hampir yakin bahwa kita akan menghadapi krisis sosial,” kata Klepach dilansir dari Euronews, Jumat (18/9/2026).

Klepach kemudian diberhentikan sehari setelah pernyataannya tersebut dipublikasikan.

2. Oposisi anti-perang terdepak dari pemilu

ilustrasi perang Rusia dan Ukraina (pexels.com/Pixabay)

Pada Juli, Komisi Pemilihan Umum Rusia menyatakan 11 partai memenuhi syarat untuk mengikuti pemilu parlemen. Salah satunya adalah Yabloko, partai liberal yang menjadi satu-satunya peserta pemilu yang secara terbuka mengkritik perang Rusia di Ukraina.

Namun, beberapa pekan kemudian Mahkamah Agung Rusia mencoret Yabloko dari daftar peserta. Keputusan itu diambil setelah adanya gugatan dari partai nasionalis Rodina atau Motherland yang menilai sikap anti-perang Yabloko serupa dengan upaya melanggar integritas teritorial Rusia.

Langkah tersebut oleh sejumlah pengamat Kremlin dipandang sebagai tanda adanya perbedaan kepentingan di antara kelompok dalam pemerintahan Rusia. Sebagian pihak disebut menginginkan adanya persaingan politik untuk meningkatkan partisipasi pemilih, sementara pihak lain khawatir kehadiran Yabloko dapat membuka kritik terhadap perang.

“Risiko bahwa kampanye akan berubah menjadi pertarungan antara pihak yang mendukung dan menentang perdamaian—yang berarti menjadi perdebatan mengenai perang—cukup tinggi. Hal ini jelas bukan bagian dari rencana,” kata Tatyana Stanovaya dari Carnegie Russia Eurasia Center.

Tekanan juga menyasar politikus Yabloko secara individu. Maxim Kruglov, wakil ketua Yabloko dan mantan anggota dewan kota Moskow, divonis tujuh tahun penjara pada Juni karena dinyatakan menyebarkan informasi palsu mengenai militer.

Pada Agustus, anggota Yabloko lainnya, Lev Shlosberg, divonis lebih dari 11 tahun penjara oleh pengadilan di wilayah Pskov karena pernyataannya mengenai perang.

Sementara itu, Boris Nadezhdin, politikus liberal yang sempat berusaha menantang Putin dalam pemilihan presiden 2024, meninggalkan Rusia pada Agustus. Ia sebelumnya ditetapkan sebagai “foreign agent” dan dilarang mencalonkan diri dalam pemilu.

3. Kremlin kejar legitimasi politik

ilustrasi Kremlin Wall (pexels.com/Михаил Крамор)

United Russia saat ini menguasai lebih dari dua pertiga kursi Duma dan diperkirakan tetap menjadi kekuatan dominan setelah pemilu. Separuh dari 450 kursi Duma diperebutkan melalui daftar partai, sementara separuh lainnya melalui daerah pemilihan beranggota tunggal.

Yabloko tidak dapat mengikuti pemungutan suara berbasis daftar partai. Otoritas Rusia juga secara bertahap menggugurkan sejumlah kandidat Yabloko dari pencalonan di berbagai daerah pemilihan untuk Duma dan parlemen regional.

Partai-partai lain yang tergabung dalam kelompok “oposisi sistemik”, seperti Partai Komunis Rusia, Liberal-Democratic Party dan A Just Russia, diperkirakan tetap mempertahankan keberadaan mereka di parlemen. Ketiga partai tersebut mengikuti garis politik Putin dan mendukung perang.

Analis Mark Galeotti mengatakan Kremlin kemungkinan masih membiarkan perolehan United Russia turun sedikit, tetapi tetap memastikan partai tersebut menjadi kekuatan dominan di Duma.

“United Russia mungkin akan diizinkan untuk turun sedikit agar hasil yang diumumkan lebih mendekati hasil sebenarnya. Namun, Kremlin akan memastikan bahwa United Russia tetap benar-benar dominan di Duma,” ujar Galeotti, yang memimpin Mayak Intelligence.

Menurut Galeotti, salah satu tujuan pemilu adalah menciptakan semacam ritual legitimasi politik untuk memberikan kesan bahwa terdapat dukungan luas dari masyarakat terhadap Kremlin.

Presiden Putin sendiri menyerukan masyarakat Rusia untuk menggunakan hak pilihnya. Dalam pidato menjelang pemungutan suara, ia mengatakan pilihan masyarakat akan menunjukkan dukungan terhadap pasukan Rusia.

“Pilihan dan keteguhan kalian sekali lagi akan menunjukkan bahwa jutaan orang berdiri di belakang para pejuang kita, bahwa kita adalah satu bangsa yang terikat oleh nilai-nilai bersama, ingatan sejarah, dan kecintaan terhadap Tanah Air,” kata Putin.

Chris Weafer, CEO Macro-Advisory Ltd., menilai serangan Ukraina memang memengaruhi moral publik Rusia, tetapi belum menunjukkan ancaman langsung terhadap dominasi politik Kremlin.

“Sudah ada efek ‘bersatu di bawah bendera’ sejak awal konflik dan jajak pendapat secara konsisten menunjukkan tingkat dukungan yang sangat tinggi,” kata Weafer.

Menurut Weafer, hal yang penting bagi Kremlin bukan hanya hasil pemilu, tetapi juga narasi publik dan tingkat partisipasi pemilih. Keduanya dapat digunakan untuk menunjukkan adanya dukungan luas masyarakat Rusia terhadap kebijakan Kremlin di tengah perang dengan Ukraina.

Sampaikan pandanganmu soal pemilu Rusia

Apakah pemilu parlemen Rusia mencerminkan persaingan politik?

See More
Ya, tetap ada persaingan politik
A*** has voted
B*** has voted
C**** has voted
Tidak, ruang oposisi terbatas

Curated For You

Editorial Team

Related Article