Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Ukraina: Pemilu Rusia di Wilayah Pendudukan Tidak Sah

Ukraina: Pemilu Rusia di Wilayah Pendudukan Tidak Sah
Bendera Ukraina (unsplash.com/Foxie EdianiaK)
  • Ukraina menolak rencana pemilu parlemen Rusia di wilayah pendudukan, menyatakan seluruh pemungutan suara dan hasilnya ilegal serta batal demi hukum.
  • Kiev mengimbau komunitas internasional menolak agenda Moskow, menegaskan kehadiran pengamat dari sejumlah negara bekas Uni Soviet tidak melegitimasi pemilu tersebut.
  • Menjelang pemilu September, Partai Rusia Bersatu diproyeksikan mendominasi parlemen setelah Partai Yabloko, oposisi terdaftar yang menentang perang, didiskualifikasi.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Jakarta, IDN Times - Kementerian Luar Negeri Ukraina menegaskan tidak akan mengakui rencana pemilihan umum parlemen Rusia di wilayah pendudukan, pada Kamis (13/8/2026). Sikap tegas ini diambil guna menjaga kedaulatan dan integritas wilayah negara.

Pemerintah Kiev mengimbau masyarakat internasional untuk menolak agenda politik bentukan Moskow tersebut. Seluruh proses pemungutan suara di kawasan konflik dinilai melanggar hukum internasional.

  1. 1. Hasil pemilu di wilayah pendudukan dinilai batal demi hukum

    Kementerian Luar Negeri Ukraina menyatakan bahwa hasil pemilu parlemen Rusia bulan depan di wilayah pendudukan tidak sah. Oleh karena itu, seluruh perolehan suara dipastikan batal demi hukum.

    "Setiap pemungutan suara yang digelar Rusia di wilayah berdaulat Ukraina adalah ilegal dan tidak memiliki kekuatan hukum," kata Kementerian Luar Negeri Ukraina.

    Otoritas Kiev menegaskan penolakan ini merupakan bentuk perlindungan terhadap hak warga negara. Langkah diplomatik ini juga memperjelas posisi Ukraina atas wilayahnya yang masih berkonflik.

  2. 2. Kehadiran pengamat internasional tak ubah status hukum pemilu

    Misi pemantau dari sejumlah negara bekas Uni Soviet mulai bertugas mengawasi jalannya pemilu. Namun, Ukraina menilai kehadiran tim pengamat tersebut tidak dapat melegitimasi proses pemungutan suara.

    Kiev memandang Moskow sengaja memanfaatkan pengamat luar negeri untuk mengaburkan status wilayah pendudukan. Tindakan tersebut dianggap tidak mengubah fakta pelanggaran kedaulatan sejak invasi.

    "Rusia mencoba menggunakan kehadiran pengamat internasional di wilayah pendudukan untuk melegitimasi hasil pemilu," ujar Kementerian Luar Negeri Ukraina.

  3. 3. Partai penguasa mendominasi saat oposisi dicoret dari kepesertaan

    Di ranah politik internal, Partai Rusia Bersatu besutan Presiden Vladimir Putin diproyeksikan tetap menguasai parlemen pada pemilu September mendatang. Tekanan terhadap kelompok penentang membuat persaingan politik dinilai tidak seimbang.

    Partai Yabloko, satu-satunya partai terdaftar penentang perang, secara resmi didiskualifikasi dari kepesertaan pemilu pekan ini. Pencoretan ini makin mempersempit ruang gerak oposisi di Rusia. Meski partainya dicoret, pimpinan oposisi menyatakan bakal bertahan di dalam negeri.

    "Saya tetap berada di negara ini dan terus mendorong perubahan," kata pimpinan Partai Yabloko.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More