Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Polandia Deportasi 11 Warga Asing, Diduga Propaganda Rusia
Bendera Polandia (unsplash.com/VLADISLAV BOGUTSKI)
  • Polandia mendeportasi 11 warga asing asal Ukraina dan Belarus karena diduga terlibat operasi intelijen serta propaganda yang memanfaatkan isu pengungsi untuk kepentingan geopolitik.
  • Penyelidikan menemukan kelompok ini merekrut pengungsi Ukraina untuk ikut demo bayaran dengan dana dari Rusia, menyamarkannya sebagai gerakan sukarela demi menggiring opini publik.
  • Otoritas Polandia menganggap aksi tersebut bagian dari perang hibrida Rusia yang bertujuan memecah belah masyarakat, sehingga memperketat pengawasan dan menindak tegas aktivitas serupa.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Otoritas keamanan Polandia mendeportasi 11 warga negara asing pada Senin (29/6/2026). Mereka dipulangkan karena diduga terlibat dalam operasi intelijen luar negeri. Kelompok ini terdiri dari sembilan warga negara Ukraina dan dua warga negara Belarus.

Langkah hukum tegas ini diambil setelah pemerintah mendeteksi adanya aktivitas propaganda terselubung. Operasi asing tersebut diduga sengaja memanfaatkan situasi pengungsi perang untuk memanipulasi opini publik demi kepentingan geopolitik.

1. Sergapan serentak di lima kota besar

Penangkapan 11 tersangka dilakukan dalam beberapa hari terakhir. Aksi ini merupakan hasil operasi gabungan antara Badan Keamanan Internal Polandia dan Pasukan Penjaga Perbatasan.

Petugas bergerak secara serentak di lima kota besar, yaitu Warsawa, Wroclaw, Krakow, Zakopane, dan Bydgoszcz. Pihak berwenang langsung memproses pemulangan para pelaku demi menjaga stabilitas sosial di masyarakat.

Kelompok warga asing yang diusir terdiri atas lima pria Ukraina, empat wanita Ukraina, dan dua pria Belarus. Seluruh proses deportasi dikawal ketat hingga mereka benar-benar meninggalkan wilayah Polandia.

"Para tahanan tersebut kini sudah resmi diusir dari wilayah Polandia," kata Juru Bicara Layanan Keamanan Polandia, Jacek Dobrzyński, dilansir Notes from Poland.

2. Modus perekrutan pengungsi berkedok demo bayaran

Para pelaku diketahui aktif mendekati komunitas migran sejak musim gugur tahun 2025. Mereka menghasut dan merekrut para pengungsi Ukraina yang berada di Polandia untuk terlibat dalam aksi unjuk rasa buatan.

Penyelidikan mendalam mengungkap bahwa seluruh dana untuk membayar massa demonstrasi ini berasal dari Rusia. Kampanye terselubung ini dirancang rapi agar terlihat seperti gerakan sukarela dari aspirasi murni para pengungsi.

Untuk menarik massa, panitia memanfaatkan isu sensitif seperti skandal korupsi dan dinamika politik dalam negeri di Kiev. Lewat narasi tersebut, mereka mencoba memengaruhi opini pengungsi agar menentang pemerintah mereka sendiri.

"Sejak musim gugur 2025, kelompok ini aktif merekrut dan membayar massa untuk ikut berdemonstrasi. Sasarannya adalah para pengungsi Ukraina yang tinggal di Polandia," kata Menteri Koordinator Layanan Khusus Polandia, Tomasz Siemoniak, dilansir European Pravda.

3. Ancaman perang hibrida dan siasat adu domba

Badan Keamanan Internal mengategorikan operasi ini sebagai bentuk perang hibrida, yaitu taktik nonmiliter untuk merusak negara dari dalam. Strategi ini sengaja dirancang untuk menghancurkan kepercayaan publik dan memicu ketegangan sosial.

Sejak invasi tahun 2022, Polandia terus menjadi target utama kampanye hibrida Rusia, mulai dari sabotase, serangan siber, hingga penyebaran hoaks. Meski Rusia berulang kali membantah, Warsawa tetap bersiap menghadapi lonjakan aktivitas intelijen asing ini.

Kini, aparat keamanan memperketat pengawasan untuk mencegah potensi adu domba antara warga lokal dan pengungsi Ukraina. Langkah tegas seperti deportasi massal ini dinilai krusial untuk memutus rantai perpecahan.

"Rusia saat ini sedang melancarkan perang opini dan manipulasi pikiran skala penuh terhadap kita," kata Menteri Luar Negeri Polandia, Radosław Sikorski.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team

Related Article