2.768 Gempa Susulan Guncang NTT, BMKG Imbau Warga Waspada

- BMKG mencatat 2.768 gempa susulan M1,1–M6,2 hingga 19 Agustus 2026; 24 di antaranya bermagnitudo di atas 5 dan 81 gempa dirasakan warga.
- Gempa dangkal M7,7 di Flores pada 15 Agustus dipicu aktivitas tektonik Flores Back-Arc, memicu tsunami di 16 lokasi empat provinsi; susulan diperkirakan berakhir 3–4 minggu.
- Bencana menewaskan 69 orang, melukai 331 orang, serta merusak sejumlah wilayah NTT; BMKG mengerahkan tim survei dan meminta warga mengikuti informasi resmi.
Jakarta, IDN Times – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melaporkan hingga 19 Agustus 2026 pukul 05.00 WIB, sebanyak 2.768 gempa susulan (aftershock) telah terjadi, dengan magnitudo M1,1 - M6,2. Di antara ribuan gempa susulan tersebut, gempa dengan magnitudo di atas M5,0 sebanyak 24 kejadian, dan gempa bumi susulan yang dirasakan berjumlah 81..
Direktur Gempa Bumi dan Tsunami BMKG, Wijayanto, menyampaikan gempa bumi pertama kali terjadi di wilayah Flores pada Sabtu, 15 Agustus 2026 pukul 04.58 WIB, dengan parameter update M7,7, hingga berdampak tsunami di wilayah sekitarnya. Gempa dengan tipe dangkal ini terjadi karena aktivitas tektonik di Flores Back-Arc dengan mekanisme pergerakan naik (thrust fault).
1. Perkirakan gempa susulan berakhir 3-4 minggu ke depan dan tetapkan status wilayah bencana

Peta Guncangan NTT. (BMKG) Wijayanto mengatakan berdasarkan pantauan BMKG, gempa susulan ini akan berakhir beberapa pekan ke depan.
"Berdasarkan data sementara gempa susulan ini akan berakhir 3-4 minggu ke depan. Masyarakat diimbau tetap tenang dan waspada gempa bumi susulan yang masih terjadi," kata Wijayanto di Jakarta, Rabu (19/8/2026).
Sementara, pada saat gempa bumi M7,7 pada 15 Agustus 2026, BMKG telah mengirimkan Peringatan Dini 1 pada 2 menit 16 detik setelah gempa bumi, dengan status ancaman Siaga (0,5-3 meter) dan Waspada (<0,5 meter).
Adapun penetapan status beberapa wilayah terdampak di antaranya Manggarai bagian utara, Ngada bagian utara, Ende, Flores Timur, Jeneponto dengan Siaga.
Kemudian wilayah Flores Timur, Bima, Dompu, Wajo berstatus Waspada. Peringatan dini tsunami kemudian dinyatakan berakhir pada pukul 07.30 WIB atau 2 jam 31 menit setelah gempa bumi.
2. Perkirakan wilayah terdampak tsunami berdasarkan hasil observasi stasiun pasang surut

Potret Kantor Unit Penyelenggara Pelabuhan (UPP) Kelas II Reo yang rusak akibat Gempa NTT (dephub.go.id) BMKG juga melaporkan melalui hasil observasi stasiun pasang surut yang mengindikasikan, gempa bumi ini memicu terjadinya tsunami di 16 lokasi pada empat provinsi yaitu NTT, NTB, Sulawesi Selatan, dan Sulawesi Tenggara.
Ketinggian tsunami paling tinggi tercatat di Pota, Manggarai Timur, NTT, pada pukul 05.03 WIB (1,6 meter), dan terendah di Bakalang, Alor, NTT pada pukul 05.41 WIB (0,14 meter).
Sementara, berdasarkan hasil sementara pantauan dan informasi BNPB di lapangan, gempa NTT menyebabkan korban jiwa 70 orang, korban luka-luka 1.182 orang, dan 40.040 lainnya mengungsi. Gempa juga menyebabkan kerusakan di sejumlah wilayah, terutama Manggarai Barat, Manggarai, Manggarai Timur, hingga Sikka, Maumere. Kerusakan tersebut bervariasi dari ringan hingga berat.
3. BMKG libatkan tim gabungan untuk survei wilayah terdampak gempa

Tim SAR gabungan evakuasi korban gempa NTT (Dok. Tim SAR) BMKG juga telah menerjunkan tim gabungan dari pusat dan UPT untuk melakukan survei gempa bumi merusak, meliputi survei makroseismik, pengukuran mikrotremor dan MASW. Survei dilakukan untuk mengetahui karakteristik serta respons tanah terhadap guncangan, monitoring gempa susulan, dan verifikasi dampak tsunami di lapangan.
Selain itu, survei ini menyokong proses pemulihan dan rekonstruksi pascabencana sekaligus menjadi dasar pemetaan mikrozonasi pascagempa, evaluasi kondisi wilayah terdampak. Pun dilakukan penyusunan rekomendasi mitigasi dan rekonstruksi yang lebih aman.
Wilayah yang diprioritaskan berdasarkan bencana susulan ini berfokus pada daerah dengan kerusakan sedang hingga berat, serta dibandingkan dengan lokasi yang relatif tidak mengalami kerusakan.
BMKG akan terus memantau aktivitas gempa bumi susulan, dan melaporkan informasi terbaru secara berkala kepada stakeholder juga masyarakat.
Masyarakat diimbau memantau informasi resmi BMKG melalui kanal komunikasi resmi yang telah terverifikasi seperti media sosial @infoBMKG, website www.bmkg.go.id atau inatews.bmkg.go.id.




















