Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Ratusan Warga Demo di Madrid, Tolak Gelombang Imigran di Ceuta
ilustrasi liburan di Madrid, Spanyol (unsplash.com/Alex Moliski)
  • Ratusan warga berdemo di depan Kedutaan Maroko di Madrid, menolak lonjakan imigran ke Ceuta dan menuntut pengawasan perbatasan Spanyol diperketat.
  • Ceuta mengalami krisis penampungan setelah sekitar 60 ribu imigran masuk dalam kurang dari tiga hari; hingga Jumat sore, 48.300 orang telah kembali ke Maroko.
  • Pemerintah Spanyol memperketat keamanan dan berjanji menindak jaringan penyelundupan, sementara krisis ini memicu kritik oposisi serta perbedaan pandangan dengan Italia.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Ratusan orang menggelar aksi unjuk rasa di depan Kedutaan Besar Maroko di Madrid, Spanyol, pada Jumat (31/7/2026). Demonstrasi ini dipicu oleh lonjakan kedatangan imigran ke Ceuta, wilayah enklave Spanyol yang berbatasan langsung dengan Maroko.

Merespons situasi tersebut, Pemerintah Spanyol memperketat pengamanan di kawasan perbatasan dan ibu kota. Di saat yang sama, sebagian besar imigran dilaporkan mulai kembali ke Maroko setelah penyeberangan massal terjadi dalam beberapa hari terakhir.

1. Demonstrasi soroti kebijakan penanganan imigrasi

ilustrasi Spanyol (unsplash.com/Henrique Ferreira)

Massa berkumpul sambil membawa bendera Spanyol dan membentangkan spanduk penolakan. Mereka menuntut pemerintah segera memperketat pengawasan perbatasan untuk menghentikan masuknya imigran.

"Spanyol adalah negara Kristen, bukan Muslim!" seru salah seorang peserta aksi.

Gejolak ini juga memicu reaksi dari politisi opisisi. Pemimpin Partai Popular Alberto Núñez Feijóo menilai pemerintah gagal mengendalikan situasi di Ceuta. Sementara itu, Partai Vox mendesak penindakan yang lebih tegas untuk menjaga keamanan perbatasan.

2. Kapasitas penampungan Ceuta melebihi batas

Potret wilayah Ceuta (commons.wikimedia.org/Ongayo)

Pemerintah daerah Ceuta mengungkapkan bahwa lonjakan imigran memicu krisis kapasitas penampungan dan fasilitas publik. Menurut Presiden Ceuta, Juan Jesús Vivas, sekitar 60 ribu imigran masuk hanya dalam waktu kurang dari tiga hari.

Otoritas setempat juga mencatat adanya korban jiwa di jalur penyeberangan. Selain itu, ribuan imigran mengalami keterbatasan tempat tinggal dan kebutuhan dasar sebelum akhirnya memutuskan untuk pulang.

"Saya tidak tahu pasti alasan saya datang, dan sekarang saya hanya ingin kembali," ujar seorang pemuda asal Tangier.

Kementerian Dalam Negeri Spanyol melaporkan bahwa hingga Jumat sore, sekitar 48.300 imigran telah melintasi perbatasan untuk kembali ke Maroko.

3. Krisis perbatasan picu ketegangan politik

Pasukan Militer Ceuta saat berada di Plaza de Oriente, Madrid (Wikimedia Commons/Contando Estrelas)

Perdana Menteri Spanyol, Pedro Sánchez, menegaskan bahwa pemerintah akan mempertahankan integritas wilayah negara. Ia berjanji akan menindak tegas jaringan penyelundupan manusia yang memanfaatkan krisis tersebut.

"Peristiwa ini merupakan bentuk pelanggaran terhadap integritas wilayah Spanyol," tegas Pedro Sánchez, dilansir The Guardian.

Di tingkat internasional, isu ini memicu perbedaan pandangan antarnegara Eropa. Menteri Luar Negeri Italia, Antonio Tajani, mengkritik kebijakan migrasi yang dinilai dapat menyuburkan praktik perdagangan manusia.

Menanggapi kritik tersebut, Menteri Luar Negeri Spanyol, José Manuel Albares, menilai penyataan Italia tidak mencerminkan semangat kerja sama. Ia menegaskan bahwa seluruh penanganan di perbatasan telah dijalankan sesuai dengan ketentuan Uni Eropa.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article