RI Dorong Tajikistan Lebih Dekat dengan ASEAN

- Indonesia dan Tajikistan sepakat memperkuat hubungan bilateral serta mendorong keterlibatan Tajikistan dengan ASEAN melalui kemungkinan bergabung dalam TAC dan membuka perwakilan di Jakarta.
- Kedua negara menandatangani MoU pembentukan Komite Konsultasi Bilateral sebagai dasar baru untuk memperkuat mekanisme kerja sama dan dukungan di berbagai forum internasional.
- Delegasi Indonesia menjajaki peluang investasi di kawasan ekonomi bebas Dangara, menegaskan komitmen memperluas kerja sama ekonomi lintas kawasan antara Asia Tenggara dan Asia Tengah.
Jakarta, IDN Times - Indonesia dan Tajikistan sepakat memperkuat hubungan bilateral sekaligus membuka peluang kerja sama lintas kawasan antara ASEAN dan Asia Tengah. Komitmen itu mengemuka dalam pertemuan konsultasi bilateral yang dipimpin Wakil Menteri Luar Negeri RI Arrmanatha Nasir dan Deputi Menteri Luar Negeri Tajikistan Idibek Kalandar, di Dushanbe.
Dalam pertemuan tersebut, Indonesia juga mendorong Tajikistan mempererat interaksi dengan ASEAN, termasuk melalui kemungkinan bergabung dalam Treaty of Amity and Cooperation (TAC) dan membuka Kedutaan Besar sekaligus Perwakilan Tetap untuk ASEAN di Jakarta.
“Indonesia memandang Tajikistan sebagai mitra penting dalam memperkuat konektivitas dan kerja sama lintas kawasan antara ASEAN dan Asia Tengah, seiring meningkatnya dinamika geopolitik dan kebutuhan akan kolaborasi global yang lebih inklusif,” ujar Wamenlu Arrmanatha, Jumat (29/5/2026).
Pertemuan berlangsung hangat dan produktif dengan fokus pada penguatan kemitraan yang lebih konkret dan berdampak langsung bagi masyarakat kedua negara.
Kedua pihak juga membahas rencana penyusunan roadmap kerja sama bilateral sebagai panduan hubungan jangka panjang yang lebih terarah, inklusif, dan berorientasi hasil.
1. Fokus pada ekonomi hingga transformasi digital

Selain isu kawasan, Indonesia dan Tajikistan membahas berbagai peluang kerja sama di sektor prioritas. Beberapa bidang yang menjadi perhatian antara lain ekonomi, perdagangan, pendidikan, industri hilirisasi, hingga transformasi digital untuk mendukung pembangunan berkelanjutan.
Kedua negara juga sepakat memperkuat hubungan sosial budaya melalui sektor pariwisata, pendidikan, dan pertukaran budaya antarmasyarakat.
Kerja sama tersebut dinilai penting untuk memperluas hubungan kedua negara yang selama ini masih memiliki ruang besar untuk dikembangkan.
Indonesia melihat kawasan Asia Tengah sebagai mitra potensial di tengah dinamika geopolitik global yang terus berubah. Sementara Tajikistan dinilai memiliki posisi strategis dalam memperkuat konektivitas lintas kawasan.
2. Teken MoU konsultasi bilateral

Sebagai hasil konkret pertemuan, kedua wakil menteri luar negeri menandatangani Memorandum of Understanding (MoU) tentang Pembentukan Komite Konsultasi Bilateral. Kesepakatan itu menjadi landasan baru dalam memperkuat mekanisme konsultasi dan hubungan bilateral Indonesia-Tajikistan ke depan.
MoU tersebut juga dinilai membuka babak baru hubungan kedua negara agar lebih terstruktur dan berkelanjutan.
Selain membahas isu bilateral, kedua negara turut bertukar pandangan mengenai perkembangan geopolitik dan situasi kawasan.
Indonesia dan Tajikistan juga menegaskan komitmen untuk saling mendukung di berbagai forum internasional. Pertemuan itu sekaligus mencerminkan upaya Indonesia memperluas jejaring diplomasi dan kemitraan strategis di kawasan Asia Tengah.
3. Indonesia jajaki peluang investasi di Tajikistan

Usai konsultasi bilateral, delegasi Indonesia melanjutkan kunjungan ke kawasan ekonomi bebas Dangara yang berjarak sekitar dua jam dari ibu kota Dushanbe. Kunjungan tersebut dilakukan untuk menjajaki peluang kerja sama perdagangan dan investasi di Tajikistan.
Kawasan ekonomi bebas Dangara menjadi salah satu pusat pengembangan industri dan investasi yang sedang didorong pemerintah Tajikistan. Langkah itu menunjukkan ketertarikan Indonesia untuk memperluas kerja sama ekonomi secara lebih konkret di kawasan Asia Tengah.
Rangkaian kunjungan ini juga menegaskan komitmen Indonesia memperkuat peran sebagai jembatan kerja sama antar kawasan. Pemerintah Indonesia menilai kolaborasi yang lebih inklusif dan berorientasi masa depan semakin penting di tengah tantangan global saat ini.



















