ilustrasi drone (unsplash.com/Jonas)
Pemerintah Nepal juga mulai mempertimbangkan penggunaan teknologi canggih untuk memetakan wilayah yang sulit dijangkau. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Nepal, Lok Bahadur Poudel Chhetri, menyampaikan bahwa Nepal telah meminta bantuan peralatan Light Detection and Ranging (LiDAR) dari Amerika Serikat, serta kit uji DNA dan barang bantuan nonpangan lainnya.
Teknologi LiDAR tersebut memanfaatkan pulsa laser untuk menghasilkan pemetaan tiga dimensi secara detail, sehingga membantu petugas menilai medan ekstrem dan menyisir area yang terdampak bencana.
Selain itu, Nepal mengajukan permohonan bantuan jembatan Bailey yang sebagian di antaranya telah diterima dan drone berkapasitas tinggi. China dan Singapura dijadwalkan mengirimkan drone berkapasitas tinggi tersebut untuk mendukung penyisiran dari udara. Jepang dan Korea Selatan juga diharapkan segera memberikan bantuan peralatan khusus, di mana Korea Selatan sendiri telah menerjunkan tim penyelamat yang dilengkapi drone dan peralatan khusus ke lokasi bencana.
Australia juga mengirimkan 12 personel tanggap darurat yang terdiri atas petugas respons krisis, pejabat konsuler, dan anggota Kepolisian Federal Australia ke Kathmandu untuk mendukung operasi bersama pejabat Australia yang sudah berada di Nepal. Pemerintah Australia meningkatkan dana bantuan kemanusiaan mereka menjadi 8 juta dolar Australia (setara Rp101,5 miliar) untuk mendukung operasi pemulihan, mengingat 42 warga negara Australia masih belum ditemukan.
Bantuan logistik darurat dari berbagai negara seperti India, China, dan Uni Emirat Arab sudah mulai didistribusikan. Bantuan tersebut mencakup unit jembatan, generator listrik, lampu tenaga surya, tenda, selimut, kantong tidur, bahan makanan, hingga obat-obatan.