PBB: Puluhan Ribu Warga Nepal Butuh Bantuan Mendesak Pascabanjir

- PBB menyebut sekitar 65 ribu warga Nepal membutuhkan air bersih, sanitasi, dan kebersihan pascabanjir; ribuan anak, balita, serta ibu hamil dan menyusui juga memerlukan perlindungan dan nutrisi.
- Banjir di Nepal dan Tibet menewaskan sedikitnya 955 orang, sementara lebih dari 4 ribu orang hilang. Pencarian pekerja PLTA terkendala medan sulit, air tinggi, cuaca buruk, dan puing.
- Distribusi bantuan terhambat jalan serta jembatan rusak, sehingga helikopter menjadi akses utama. Banjir bandang dipicu runtuhnya gletser, dengan pencairan gletser dikaitkan pada perubahan iklim.
Jakarta, IDN Times - Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyatakan bahwa puluhan ribu orang di Nepal membutuhkan bantuan mendesak setelah banjir mematikan melanda perbatasan negara itu dengan Tibet, China, pekan lalu. Bantuan yang dibutuhkan mencakup pasokan air bersih, sanitasi, dan sarana kebersihan diri.
"Sekitar 65 ribu orang membutuhkan bantuan darurat berupa air bersih, sanitasi, dan sarana kebersihan diri. Lebih dari 22 ribu anak membutuhkan perlindungan. Sebanyak 2.600 balita diperkirakan membutuhkan perawatan akibat kondisi gizi buruk akut. Selain itu, sekitar 10.500 ibu hamil dan menyusui memerlukan bantuan nutrisi," kata juru Bicara PBB, Stéphane Dujarric, dalam konferensi pers di New York, Amerika Serikat (AS), pada Senin (31/8/2026)
Ia menambahkan bahwa sedikitnya 107 anak terpisah dari orang tua atau pengasuh mereka akibat banjir, dengan 10 ribu di antaranya membutuhkan dukungan psikososial. Oleh sebab itu, upaya pelacakan dan penyatuan kembali keluarga turut menjadi prioritas mendesak.
1. Penyaluran bantuan terhambat akibat rusaknya infrastruktur jalan

Foto udara pemukiman yang terdampak banjir bandang dan longsor Nepal pada 27 Agustus 2026 (AFP/PRABIN RANABHAT) Dilansir CNN, koordinator residen PBB untuk Nepal, Lila Pieters Yahia, juga mengkhawatirkan risiko penyebaran penyakit menular di kalangan para pengungsi. Pasalnya, banyak jenazah manusia dan bangkai hewan ternak masih bergelimpangan di berbagai lokasi. Selain itu, dukungan kesehatan mental juga menjadi kebutuhan krusial.
"Hal yang paling mengejutkan saya adalah kesedihan yang terpancar dari wajah warga. Mereka tampak sangat putus asa," ujarnya.
Penyaluran bantuan juga menjadi tantangan besar akibat banyaknya jembatan dan jalan yang hancur. Direktur respons World Central Kitchen, John Torpey, mengatakan bahwa satu-satunya cara bagi lembaga bantuan untuk menjangkau wilayah terdampak bencana adalah dengan menggunakan helikopter. Organisasinya hingga kini terus berupaya mencari bantuan dari berbagai pihak.
"Kami mulai menghubungi para pemandu dan anggota pramuka yang bisa membantu membawa masuk pasokan bantuan," kata Torpey.
2. Lebih dari 900 orang tewas dan 4 ribu lainnya hilang akibat banjir di Nepal-Tibet

Foto udara pemukiman yang terdampak banjir bandang di Devighat, Bidur Municipality, distrik Nuwakot, Nepal pada 27 August 2026 (AFP/ (AFP/PRABIN RANABHAT) Data terbaru menunjukkan sedikitnya 939 orang tewas akibat banjir di Nepal dan 16 lainnya tewas di Tibet. Lebih dari 4 ribu orang juga masih dinyatakan hilang di kedua sisi perbatasan, termasuk ratusan warga negara asing (WNA).
Sementara itu, upaya pencarian dan penyelamatan terhadap lebih dari 900 pekerja pembangkit listrik tenaga air (PLTA) yang hilang, termasuk ratusan orang yang dikhawatirkan terjebak di dalam terowongan dan area bawah tanah, masih terus berlangsung. Namun, upaya penyelamatan terhambat oleh medan yang sulit, tingginya air banjir dan kondisi cuaca yang buruk. Sementara itu, para ahli khawatir peluang menemukan korban selamat di dalam terowongan semakin menipis akibat menurunnya kadar oksigen.
“Sejumlah besar material puing telah menumpuk dan hal itu menjadi tantangan besar bagi kami untuk membuka terowongan,” kata juru bicara Angkatan Darat Nepal, Raja Ram Basnet, dikutip The Guardian.
3. Perubahan iklim sebabkan gletser mencair

gunung Himalaya (unsplash.com/Ben Lowe) Menurut Survei Geologi AS (USGS), banjir bandang tersebut dipicu oleh runtuhnya gletser. Perubahan iklim menyebabkan gletser mencair di seluruh dunia sehingga meningkatkan risiko terjadinya bencana semacam ini.
“Rakyat Nepal merupakan salah satu kelompok yang paling terdampak oleh perubahan iklim dan dampaknya,” kata Menteri Luar Negeri Nepal, Shisir Khanal. Ia menambahkan bahwa pemerintah berencana mengangkat isu perubahan iklim di hadapan komunitas internasional.
Sebelumnya, para ilmuwan mengatakan bahwa gletser di Pegunungan Himalaya, yang merupakan rangkaian pegunungan tertinggi di dunia, mencair lebih cepat seiring meningkatnya suhu global, dilansir France24.



















