Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Rusia Sebut AS Bisa Picu Perang Dunia III jika Terus Serang Iran
Para pelayat berkumpul dengan bendera nasional Iran untuk upacara peringatan, sehari setelah pembunuhan pemimpin tertinggi Iran Ali Khamenei dalam serangan gabungan AS dan Israel, di Teheran pada 1 Maret 2026. (- / AFP)
  • Rusia memperingatkan bahwa tindakan militer Amerika Serikat terhadap Iran bisa memicu Perang Dunia III, menurut pernyataan Dmitry Medvedev yang menilai kebijakan Trump berpotensi mengacaukan stabilitas global.
  • Iran telah melancarkan serangan balasan ke pangkalan militer AS di Timur Tengah dan menyerang fasilitas energi serta Kedutaan Besar AS di Riyadh, menyebabkan kerusakan serius dan lonjakan harga minyak dunia.
  • Konflik antara AS, Israel, dan Iran terus menelan korban jiwa hingga 555 orang di Iran, sementara Trump menyebut perang ini tidak akan berlangsung lama meski eskalasi masih terjadi.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Pemerintah Rusia menyebut Amerika Serikat bisa memicu Perang Dunia Ke-3 jika terus melakukan serangan terhadap Iran. Pernyataan tersebut disampaikan oleh Wakil Ketua Dewan Keamanan Rusia, Dmitry Medvedev, kepada awak media pada Senin (2/3/2026).

"Jika (Donald) Trump melanjutkan tindakan gilanya yang secara kriminal mengubah rezim politik (di Iran), hal itu (Perang Dunia Ke-3) pasti akan dimulai. Peristiwa apa pun bisa menjadi pemicunya. Peristiwa apa pun," kata Medvedev yang juga merupakan mantan Presiden Rusia periode 2008–2012, seperti dilansir Anadolu Agency.

1. Medvedev yakin Iran bakal melakukan balasan setimpal ke AS

Wakil Ketua Dewan Keamanan Rusia sekaligus Presiden Rusia periode 2008-2012, Dmitry Medvedev (commons.wikimedia.org/Dmitry Astakhov)

Meski terus diserang, Medvedev yakin Iran bakal memberi balasan setimpal ke AS. Ia menilai AS hanya tinggal menunggu waktu saja sampai Iran benar-benar murka dan melakukan serangan yang lebih parah. Apalagi, Iran juga sudah berjanji akan menyerang Negeri Paman Sam dengan kekuatan yang lebih besar imbas kematian Ayatollah Ali Khamenei pada Sabtu (28/2/2026) lalu.

"Fakta bahwa Iran belum menanggapi dengan serius, berarti mereka tidak memiliki banyak kesempatan. Namun, mereka tahu bagaimana menunggu. Mereka adalah peradaban kuno," jelas Medvedev.

"Iran akan mampu mengatasinya (serangan AS). Namun, harga untuk melakukan serangan balik akan sangat mahal. Oleh karena itu, ini membutuhkan konsolidasi sosial yang tinggi,” lanjutnya.

2. Iran sudah melakukan serangan balasan ke markas militer AS di Timur Tengah

Sebuah proyektil yang datang meledak di atas air di teluk Haifa, lepas pantai utara kota pesisir Israel, pada 28 Februari 2026. (JALAA MAREY/AFP)

Saat ini, Iran sudah melakukan serangan balasan ke AS. Mereka sudah mulai menyerang pangkalan militer AS yang ada di beberapa negara Timur Tengah, seperti Arab Saudi, Qatar, Kuwait, dan Uni Emirat Arab.

Tidak hanya itu, pada Senin lalu, Iran bahkan menyerang perusahaan energi asal Arab Saudi dan Qatar, yakni Aramco dan QatarEnergy. Imbas serangan tersebut, harga minyak global mengalami kenaikan. 

Terbaru, Iran menyerang Kedutaan Besar AS di Riyadh, Arab Saudi, pada Selasa (3/3/2026) pagi waktu setempat. Serangan tersebut merusak dan menyebabkan kebakaran di komplek Kedutaan AS di Saudi.

3. Jumlah korban tewas imbas serangan AS-Israel di Iran mencapai 555 orang

Sebuah cuplikan video yang diambil dari rekaman yang dirilis oleh militer Israel pada 1 Maret 2026, menunjukkan apa yang mereka sebut sebagai serangan skala besar terhadap "markas besar rezim teror Iran" di Teheran, Iran pada 1 Maret. (HANDOUT /ISRAELI ARMY/AFP)

Saat ini, perang antara AS, Israel, dan Iran masih berlanjut. Jumlah korban yang ditimbulkan dari perang ini juga terus bertambah seiring waktu. Laporan terbaru dari Palang Merah Iran menyebut jumlah korban imbas serangan AS-Israel di Iran kini sudah mencapai 555 orang.

Penambahan korban tewas ini terjadi usai serangan terbaru AS-Israel ke Iran pada Senin. Saat itu, serangan tersebut dilaporkan menewaskan sekitar 55 orang. Dari jumlah tersebut, sebanyak 35 korban berasal dari Provinsi Fars, sedangkan 20 korban lainnya berasal dari Tehran.

Meski serangan masih terjadi, Presiden AS Donald Trump dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengatakan perang dengan Iran tidak akan berlarut larut. Bahkan, Trump dalam pernyataannya memprediksi perang melawan negara mayoritas Islam Syiah itu hanya akan berlangsung selama empat sampai lima minggu saja. Namun, Trump menegaskan perang bisa berlangsung lebih lama jika memang dibutuhkan.  

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team