Comscore Tracker

WHO Hentikan Uji Klinis Hydroxychloroquine Sebagai Obat COVID-19

Studi tunjukkan konsumsi obat itu tingkatkan risiko kematian

Jakarta, IDN Times - Badan Kesehatan Dunia (WHO) memutuskan untuk menghentikan penggunaan klinis obat anti-malaria Hydroxychloroquine dalam pengobatan pasien COVID-19. Keputusan itu diambil berdasarkan observasi yang dilakukan oleh tim medis dan diterbitkan dalam jurnal kedokteran The Lancet. Berdasarkan kajian mereka, pasien yang mengonsumsi obat anti-malaria itu memiliki risiko kematian lebih tinggi dan permasalahan pada jantung. Sedangkan, mereka yang tidak mengonsumsi obat itu tidak rentan terhadap risiko tersebut. 

Penghentian uji klinis Hydroxychloroquine sudah dilakukan di beberapa negara sejak (25/5) lalu. 

"Organisasi WHO akan mencoba menggunakan pengobatan lainnya sebagai bagian dari kajian tersebut, termasuk obat percobaan remdesevir dan terapi kombinasi HIV," ungkap Kepala Program Darurat WHO, Mike Ryan dan dikutip laman Deutsche Welle pada (25/5) lalu. 

Padahal, Presiden Amerika Serikat, Donal Trump sempat mengatakan ia telah mengonsumsi obat itu agar terhindar dari COVID-19. Bahkan, obat yang belum teruji klinis itu didorong oleh Trump agar digunakan secara lebih luas. 

Lalu, apa sebenarnya hasil kajian yang diterbitkan di jurnal The Lancet? Bagaimana penggunaan Hydroxychloroquine di Indonesia?

1. Kajian jurnal Lancet menunjukkan pasien COVID-19 yang konsumsi hydroxychloroquine lebih banyak yang meninggal

WHO Hentikan Uji Klinis Hydroxychloroquine Sebagai Obat COVID-19(Ilustrasi obat chloroquine) www.techstartsup.com

Studi jurnal The Lancet terbit pada pekan lalu. Kajiannya melibatkan 96 ribu pasien COVID-19. Sebanyak 15 ribu yang diberi obat hydroxychloroquine atau chloroquine lainnya, entah dikonsumsi dengan antibiotik atau hanya obat itu saja. Sebanyak 18 persen kelompok pasien yang diberi obat hydroxychloroquine, meninggal. 16,4 persen pasien yang diberi obat chloroquine mengalami nasib serupa. Bahkan, tingkat kematian pasien akan jauh lebih tinggi, bila obat hydroxychloroquine dikombinasi dengan antibiotik. 

Hydroxychloroquine merupakan obat yang aman bagi pasien yang terjangkit penyakit malaria, atau mengalami gejala seperti lupus atau arthritis.

Baca Juga: Presiden Trump Akui Minum Obat Anti Malaria Agar Tak Kena COVID-19

2. Permintaan terhadap obat hydroxychloroquine mengalami kenaikan sejak dipromosikan Trump

WHO Hentikan Uji Klinis Hydroxychloroquine Sebagai Obat COVID-19Presiden Amerika Serikat Donald Trump berbicara kepada wartawan di Gedung Putih sebelum ia berangkat menuju Michigan saat pandemik COVID-19 di Washington, Amerika Serikat, pada 21 Mei 2020. ANTARA FOTO/REUTERS/Jonathan Ernst

Stasiun berita BBC (26/5) melaporkan usai pemberitaan luas mengenai Trump mengonsumsi hydroxychloroquine, permintaan terhadap obat tersebut meningkat di Amerika Serikat. Publik juga banyak meminta agar diberi resep chloroquine. 

Tablet yang mengandung chloroquine sesungguhnya sudah lama digunakan untuk pengobatan malaria untuk mengurangi demam dan radang. Harapannya semula, usai mengonsumsi obat itu, maka efeknya bisa melawan gejala yang ditimbulkan dari COVID-19. 

Saat ini ada proses uji klinis yang dilakukan di berbagai negara terhadap kemanjuran hydroxychloroquine. Sebagai bagian dari kajian ini, petugas medis yang berada di garda terdepan dan rentan terpapar virus Sars-CoV-2, mengonsumsinya sebagai penangkal. 

Salah satu otoritas berwenang yang mengizinkan penggunaan hydroxychloroquine adalah BPOM AS (FDA). Namun, penggunaan obat tersebut hanya dalam kondisi darurat dan di beberapa rumah sakit saja. 

FDA memang tidak mengatakan obat hydroxychloroquine memiliki dampak positif terhadap pasien COVID-19, tetapi artinya dalam kondisi tertentu, rumah sakit dapat meminta dan menggunakan obat tersebut dari cadangan milik pemerintah untuk pengobatan COVID-19. 

3. WHO juga meminta Indonesia agar menghentikan konsumsi hydroxychloroquine bagi pasien COVID-19

WHO Hentikan Uji Klinis Hydroxychloroquine Sebagai Obat COVID-19(Bendera berkibar di kantor pusat WHO di Jenewa) www.who.int

Notifikasi dari WHO juga diberikan kepada Pemerintah Indonesia agar menghentikan penggunaan hydroxychloroquine bagi pasien COVID-19. Kantor berita Reuters memperoleh konfirmasi dari sumber yang tidak ingin diungkap identitasnya mengatakan sejak Maret lalu, Indonesia sudah terus menambah produksi obat hydroxychloroquine. Bahkan, otoritas terkait memberikan sekitar 20 puluh lisensi kepada produsen obat lokal untuk bisa memproduksi obat itu. 

Bahkan, berdasarkan dokumen yang disiapkan oleh Kementerian Kesehatan untuk rapat bersama Komisi IX DPR menunjukkan produsen obat di Indonesia sudah memproduksi 15,4 juta dosis obat hydroxychloroquine pada periode April dan Mei. 

Dari laporan Reuters, Badan Pengawasan Obat dan Makanan, menerbitkan informasi mengenai COVID-19, termasuk panduan penggunan obat hydroxychloroquine dan dosis yang dianjurkan bagi pasien remaja dan orang dewasa. Namun, obat itu hanya ditujukan bagi pasien dengan gejala hingga kronis. 

Uniknya di dalam rekomendasi itu pula terdapat peringatan bahwa ada risiko pasien mengalami komplikasi penyakit jantung, bila mengonsumsi hydroxychloroquine saja. Oleh sebab itu, dianjurkan pasien mengonsumsi hydroxychloroquine dan antibiotik azithromycin. 

Pakar paru di Indonesia, dr. Erlina Burhan, membenarkan hydroxychloroquine dan antibiotik azithromycin memang menjadi resep yang rutin diberikan ke pasien COVID-19. Ia mengaku sulit mengetahui apakah obat itu chloroquine benar-benar meningkatkan risiko kematian pasien COVID-19. Tetapi, keampuhan obat itu masih terus diteliti. 

Erlina juga membenarkan WHO mengirimkan notifikasi agar Pemerintah Indonesia menghentikan penggunaan hydroxychloroquine. Ia mengatakan pemerintah masih mendiskusikan mengenai dorongan agar tak lagi menggunakan hydroxychloroquine sebagai obat. 

"Sebab masih ada sebagian yang menentang. Kami belum memutuskan apa-apa hingga kini," kata Erlina. 

https://www.youtube.com/embed/mP5MdTCKk2s

Baca Juga: Cerita Ironis Korban Salah Konsumsi Chloroquine untuk Cegah COVID-19

Topic:

  • Santi Dewi

Berita Terkini Lainnya