Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Sebagian Prancis Mati Listrik akibat Suhu Hampir 40 Derajat Celsius
ilustrasi cuaca panas (pexels.com/Fatih Turan)
  • Gelombang panas ekstrem hingga 40°C menyebabkan pemadaman listrik besar di Brittany, Prancis, memengaruhi lebih dari 100 ribu pelanggan dan memicu perbaikan darurat oleh operator listrik nasional.
  • Rekor suhu nasional 29,8°C membuat 58 departemen masuk siaga merah, berdampak pada lebih dari 90% populasi Prancis serta menegaskan pengaruh perubahan iklim terhadap cuaca ekstrem.
  • Suhu tinggi mengganggu aktivitas publik dan pariwisata, meningkatkan penjualan alat pendingin, menimbulkan korban jiwa akibat tenggelam, serta meluas ke Italia, Polandia, Belgia, dan negara Eropa lainnya.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN TimesGelombang panas ekstrem yang melanda awal musim panas di Eropa memicu pemadaman listrik besar pertama di Prancis pada Selasa (23/6/2026). France 24 melaporkan kerusakan transformator akibat suhu sangat tinggi membuat sekitar 68 ribu rumah di departemen Finistère, wilayah Brittany barat laut, kehilangan aliran listrik. Gangguan tersebut bermula sekitar pukul 21.00 waktu setempat di komune Ergue-Gaberic dekat Quimper.

Jumlah pelanggan yang sempat terdampak tercatat mencapai 106 ribu orang hingga akhir hari, sementara tak ada laporan korban luka dari kejadian tersebut. Operator jaringan listrik Prancis, Réseau de Transport d’Électricité (RTE) dan Enedis, bekerja sepanjang malam untuk memperbaiki kerusakan. Pasokan listrik secara penuh diperkirakan baru pulih paling cepat pada akhir Rabu (24/6/2026).

1. Rekor suhu nasional memperluas status siaga

ilustrasi cuaca panas (pexels.com/Oleksandr P)

Pemadaman itu terjadi ketika Prancis mencatat hari terpanas dalam sejarah berdasarkan indikator suhu nasional yang merupakan rata-rata pengukuran dari 30 stasiun cuaca. Angka tersebut mencapai 29,8 derajat Celsius dan melampaui rekor sebelumnya sebesar 29,4 derajat Celsius yang tercatat pada Agustus 2003 serta Juli 2019. Badan Meteorologi Prancis, Météo-France, kemudian menetapkan 58 departemen dalam status siaga merah tertinggi dan memperingatkan suhu 39-41 derajat Celsius berpotensi meluas dari Brittany menuju wilayah Paris serta sebagian barat daya.

Menurut laporan Channel News Asia (CNA), pola cuaca yang menahan udara panas selama beberapa hari diperburuk oleh perubahan iklim akibat aktivitas manusia. Studi ilmiah yang terbit pekan ini menyebut suhu saat ini akan 2-4 derajat Celsius lebih rendah tanpa pengaruh pemanasan global. Populasi yang berada di wilayah siaga merah kini mencapai sekitar 44 juta orang. Jika ditambah dengan 31 departemen yang berada di bawah siaga oranye, kondisi ekstrem ini memapar lebih dari 90 persen penduduk Prancis.

2. Gelombang panas mengganggu layanan publik

Museum Louvre, Paris (pexels.com/Gustavo Ramos)

Kondisi tersebut memengaruhi aktivitas masyarakat dan sektor pariwisata di Prancis. Museum Louvre di Paris memutuskan menutup operasional dua jam lebih awal hingga akhir pekan. Kesulitan bekerja di tengah cuaca ekstrem juga dirasakan para pekerja lapangan.

Seorang tukang atap rumah bernama Gin Dujardin menggambarkan beratnya situasi yang dihadapi.

“Sangat, sangat sulit karena seng sangat panas. Lasannya tidak mau menempel. Suhunya seperti di Dubai. Mustahil,” dikutip France 24.

Penjualan alat pendingin juga melonjak karena penggunaan pendingin udara (AC) belum merata di Prancis. CEO Carrefour, Alexandre Bompard, mengatakan jaringan hypermarket miliknya menjual 30 ribu kipas angin dan AC, jumlah yang seribu kali lebih tinggi dibanding hari biasa. Amazon melaporkan penjualan hampir dua kali lipat dibanding periode yang sama pada 2025, sementara Fnac Darty membukukan pertumbuhan dua digit dan seorang tukang listrik bernama Thierry mengaku kewalahan memenuhi permintaan pemasangan darurat.

Suhu tinggi yang bertahan pada siang dan malam hari juga memicu korban jiwa. Prancis mencatat 40 kematian akibat tenggelam dalam sepekan terakhir setelah warga mencari kesegaran di sungai dan perairan meski terdapat larangan resmi. Perdana Menteri Sébastien Lecornu mengatakan sebagian besar korban meninggal merupakan kalangan muda.

3. Gelombang panas menjangkau negara-negara Eropa

Bendera Uni Eropa dan Prancis (unsplash.com/Antoine Schibler)

Cuaca ekstrem yang melanda Prancis turut dirasakan sejumlah negara lain di Eropa. Italia menetapkan siaga panas merah di 16 kota termasuk Milan dan Roma, sedangkan layanan cuaca Polandia memperingatkan potensi rekor suhu pada akhir pekan. Belgia, Belanda, Kroasia, dan Hungaria juga menerapkan langkah antisipasi, termasuk penutupan lebih awal sejumlah lokasi wisata seperti Atomium di Brussels.

Di Inggris, sejumlah sekolah mulai menyesuaikan kegiatan harian di tengah meningkatnya permintaan masyarakat agar pemasangan AC dipermudah. Para ahli mencatat udara lebih sejuk mulai memasuki sebagian wilayah Spanyol. Sebagian besar Eropa barat dan tengah diperkirakan masih mengalami suhu tinggi setidaknya hingga Jumat (26/6/2026).

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team

Related Article