Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Kolombia Tetapkan 3 Hari Masa Berkabung untuk Hormati Korban Gempa

Kolombia Tetapkan 3 Hari Masa Berkabung untuk Hormati Korban Gempa
bendera Kolombia (unsplash.com/flacaral)
  • Kolombia menetapkan berkabung nasional tiga hari setelah gempa magnitudo 7,4 di wilayah barat menewaskan sedikitnya 265 orang; bendera dikibarkan setengah tiang di gedung pemerintah dan kedutaan.
  • Gempa menghancurkan lebih dari 11 ribu rumah, melukai 3.494 orang, dan menyisakan 496 warga hilang. Tim penyelamat memasuki fase akhir pencarian dengan peralatan berat, sensor, dan anjing pelacak.
  • Pemerintah menetapkan darurat nasional serta ekonomi, menyiapkan bantuan logistik dan subsidi sewa. AS, Uni Eropa, Meksiko, El Salvador, Israel, dan Ekuador turut mendukung penanganan bencana.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Jakarta, IDN Times - Pemerintah Kolombia, pada Rabu (12/8/2026), menetapkan masa berkabung nasional selama tiga hari setelah gempa bumi bermagnitudo 7,4 yang mengguncang wilayah barat negara tersebut. Masa berkabung digelar untuk menghormati ratusan korban tewas akibat bencana alam paling mematikan di Kolombia dalam satu abad terakhir.

Presiden Kolombia Abelardo de la Espriella menginstruksikan pengibaran bendera setengah tiang di seluruh gedung pemerintahan dan kantor kedutaan besar Kolombia di luar negeri. Bencana ini menjadi ujian besar pertama bagi De la Espriella yang baru saja resmi dilantik tiga hari sebelum gempa terjadi.

  1. 1. Jumlah korban tewas capai 265 orang dan ribuan bangunan hancur

    ilustrasi dampak gempa
    ilustrasi dampak gempa (unsplash.com/@oskaycaglar)

    Gempa bumi magnitudo 7,4 terjadi pada Senin pukul 07.34 waktu setempat berpusat di dekat San Jose del Palmar, Choco. Guncangan hebat dengan kedalaman 107 kilometer tersebut menghancurkan permukiman warga serta fasilitas publik di beberapa kota utama, seperti Cali, Pereira, dan Manizales.

    Berdasarkan data resmi pemerintah, gempa ini telah menyebabkan sedikitnya 265 orang meninggal dunia dan 3.494 orang mengalami luka-luka. Selain itu, terdapat 496 warga yang dilaporkan hilang dan masih dalam pencarian petugas.

    Dampak kehancuran paling parah dilaporkan terjadi di wilayah El Cairo, dengan kerusakan fisik mencakup 80 persen infrastruktur kota. Bencana ini merobohkan lebih dari 11 ribu rumah dan memaksa ribuan keluarga mengungsi di tenda-tenda darurat.

    "Kami akan melakukan apa yang diperlukan untuk bangkit kembali sebagai satu negara dan masyarakat," ujar De la Espriella.

  2. 2. Evakuasi korban gempa masuki fase akhir

    Presiden Kolombia Abelardo de la Espriella
    Presiden Kolombia Abelardo de la Espriella (Abelardo de la Espriella, CC0, via Wikimedia Commons)

    Tim penyelamat gabungan bekerja semakin cepat menjelang berakhirnya jendela waktu krusial 72 jam. Petugas mengoptimalkan penggunaan anjing pelacak, peralatan berat, hingga sensor pendeteksi getaran di lokasi terdampak parah.

    "Kami memasuki fase akhir, yang bukan berarti tidak ada lagi penyintas setelahnya, tapi pencarian akan menjadi jauh lebih sulit," kata Alejandro Eder, Wali Kota Cali, dilansir The Straits Times.

    Upaya tersebut membuahkan hasil ketika tim berhasil mengevakuasi Daniela Largo berusia 32 tahun dalam kondisi selamat setelah 35 jam tertimbun reruntuhan hotel di Pereira. Sementara di lokasi lain, petugas menemukan seorang pedagang, Pablo Loaiza, setelah mendengar respons ketukan dari balik reruntuhan sebuah toko roti.

    Ratusan warga dan sukarelawan turut membantu menyingkirkan puing-puing beton. Petugas juga secara berkala menghentikan seluruh operasional alat berat selama beberapa menit untuk mendengarkan suara dari warga yang terperangkap.

  3. 3. Pemerintah tetapkan status darurat dan terima bantuan asing

    bendera Kolombia
    bendera Kolombia (unsplash.com/flacaral)

    Presiden De la Espriella telah menetapkan status darurat nasional dan darurat ekonomi untuk mempercepat penanganan bencana. Pemerintah berjanji akan menyalurkan bantuan logistik dan subsidi sewa tempat tinggal bagi keluarga yang kehilangan rumah.

    Direktur Unit Nasional Manajemen Risiko Bencana (UNGRD) David Santiago Tamayo memprioritaskan pengerahan tim teknis dari empat negara mitra, yakni Amerika Serikat (AS), Israel, Ekuador, dan El Salvador. Kebijakan ini sempat memicu perdebatan publik terkait penyaringan bantuan dari negara luar.

    Pemerintah AS menyalurkan bantuan darurat senilai 15,5 juta dolar AS (sekitar Rp276 miliar) serta mendatangkan tim penyelamat dari Fairfax County dan Los Angeles County. Di sisi lain, Uni Eropa (UE) menjanjikan dana bantuan kemanusiaan sebesar 2,3 juta dolar AS (Rp41 miliar).

    Meksiko juga ikut mengirimkan puluhan tenaga medis serta kelompok relawan sipil Topos Azteca untuk membantu proses pencarian korban di Cali. Sementara itu, El Salvador memberangkatkan dua pesawat yang mengangkut 100 ton bantuan.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More