Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Sekjen NATO Desak Komitmen Sekutu Penuhi Target Belanja Pertahanan
Bendera negara-negara anggota NATO. (UK Government Picture by Rory Arnold / No 10 Downing Street, CC BY 2.0, via Wikimedia Commons)
  • Mark Rutte mendesak negara anggota NATO menyusun rencana konkret untuk memenuhi target belanja pertahanan, di tengah berkurangnya peran militer AS di Eropa.
  • Trump menekan sekutu NATO agar meningkatkan anggaran pertahanan, menilai beban AS terlalu besar dan memperingatkan potensi pengurangan dukungan bagi anggota yang tidak patuh.
  • NATO mencatat peningkatan signifikan dalam belanja pertahanan kolektif, dengan tambahan 258 miliar dolar AS dan kontrak persenjataan baru sebagai bukti komitmen menghadapi tekanan Washington.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Sekretaris Jenderal NATO, Mark Rutte, mendesak seluruh negara anggota untuk menyampaikan rencana yang jelas, konkret, dan kredibel untuk memenuhi target belanja pertahanan aliansi. Pernyataan itu disampaikan Rutte menjelang KTT NATO yang akan dimulai pada Selasa (7/7/2026).

Seruan tersebut muncul di tengah perubahan kebijakan keamanan Amerika Serikat (AS) di Eropa. Washington terus mengurangi peran militernya di kawasan dan mendorong negara-negara sekutu mengambil porsi tanggung jawab yang lebih besar dalam pembiayaan pertahanan.

Pada tahun lalu, 32 negara anggota NATO menyepakati target belanja pertahanan sebesar 5 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB). Namun, sejumlah anggota hingga kini masih kesulitan memenuhi target lama aliansi pertahanan Barat sebesar 2 persen dari PDB, dikutip Al Jazeera.

1. Washington kritik rendahnya belanja pertahanan sekutu NATO

Presiden AS, Donald Trump. (Gage Skidmore from Peoria, AZ, United States of America, CC BY-SA 2.0, via Wikimedia Commons)

Presiden AS, Donald Trump, telah berulang kali mengkritik negara-negara sekutu yang dinilai belum mengalokasikan anggaran pertahanan secara memadai. Trump telah memperingatkan bahwa Washington dapat menolak memberikan bantuan kepada anggota NATO yang tidak memenuhi komitmennya.

Dilansir The Guardian, pada Jumat lalu, Trump mengunggah grafik melalui platform Truth Social yang membandingkan anggaran pertahanan AS yang mencapai 999 juta dolar AS (setara Rp17.959 triliun) dengan sejumlah negara Eropa, termasuk Inggris dan Prancis. Dalam unggahan tersebut, Trump menilai beban yang ditanggung Washington tidak lagi seimbang.

"Kami membutuhkan sekutu NATO untuk mengambil langkah maju dan memikul peran kepemimpinan. Bukan hanya melalui dukungan verbal, tetapi juga melalui otoritas moral dan kompas moral aliansi ini," ungkap Duta Besar AS untuk NATO, Matthew Whitaker.

2. NATO sebut kemajuan belanja pertahanan anggota sangat mengesankan

Bendera NATO. (FinnishGovernment, CC BY 2.0, via Wikimedia Commons)

Rutte mengatakan peningkatan belanja pertahanan yang dilakukan oleh sekutu Eropa dan Kanada menunjukkan perkembangan yang sangat mengesankan. Pemimpin NATO itu memperkirakan aliansi pertahanan Barat akan menggelontorkan tambahan anggaran pertahanan secara kolektif sebesar 258 miliar dolar AS (setara Rp4.640 triliun) sepanjang 2025 dan 2026 dibandingkan periode sebelumnya.

Sekutu NATO juga dijadwalkan mengumumkan kontrak pembelian persenjataan baru senilai puluhan miliar dolar AS dalam forum industri pertahanan di sela-sela KTT di Ankara. Langkah itu dinilai sebagai upaya menunjukkan kepada Trump keseriusan untuk memenuhi target belanja pertahanan.

3. Trump dorong sekutu Eropa lebih mandiri dalam pertahanan

ilustrasi bendera Uni Eropa (UE) (unsplash.com/Alexey Larionov)

Pemerintahan Trump mendorong apa yang disebutnya sebagai NATO 3.0. Visi ini menempatkan Eropa sebagai pihak yang lebih bertanggung jawab atas pertahanannya sendiri sehingga AS dapat mengalihkan fokus ke prioritas strategis lainnya, mengutip laporan PBS News.

Trump juga kembali menyerukan agar negara-negara anggota menunjukkan loyalitas terhadap NATO. Pernyataan itu muncul setelah beberapa sekutu menolak penggunaan pangkalan militer mereka dalam operasi AS dan Israel terhadap Iran.

Washington berencana mengurangi jumlah personel dan peralatan militer yang ditempatkan di Eropa apabila terjadi konflik dengan Rusia. Rencana itu mencakup pengurangan sekitar sepertiga armada pesawat tempur F-15 dan F-16 yang sebelumnya dialokasikan untuk kawasan tersebut.

Pada bulan lalu, Menteri Pertahanan AS, Pete Hegseth, mengatakan pihaknya akan kembali meninjau penempatan pasukan Negeri Paman Sam di Eropa. Hegseth juga mengisyaratkan pengurangan terbesar akan dilakukan di negara-negara yang dinilai mengalokasikan anggaran pertahanan paling rendah.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article