Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Siap Pasok Minyak dan Gas, Dubes Rusia: Tunggu Permintaan RI
Duta Besar Rusia untuk Indonesia Sergey Tolchenov dalam jumpa pers di Jakarta. (IDN Times/Marcheilla Ariesta)
  • Rusia menyatakan siap memasok minyak dan gas ke Indonesia, namun masih menunggu permintaan spesifik terkait jenis, volume, serta mekanisme pengiriman dan pembayaran dari pemerintah Indonesia.
  • Lemigas ditunjuk sebagai mitra pembahasan kerja sama energi dengan Rusia, tetapi hingga kini belum ada komunikasi langsung atau pertemuan resmi antara kedua pihak.
  • Pemerintah Indonesia tetap melanjutkan rencana impor 150 juta barel minyak mentah dari Rusia hingga akhir 2026 sebagai bagian dari upaya memperkuat ketahanan energi nasional.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Rusia menyatakan siap memasok minyak dan gas ke Indonesia, namun hingga kini masih menunggu permintaan konkret dari pemerintah Indonesia mengenai kebutuhan energi yang diinginkan. Moskow menegaskan peluang kerja sama tetap terbuka, tetapi pembahasan teknis baru bisa dilakukan apabila ada rincian yang jelas dari Indonesia.

Duta Besar Rusia untuk Indonesia Sergei Tolchenov mengatakan, kerja sama energi antara kedua negara pada dasarnya memungkinkan dilakukan. Namun, realisasinya bergantung pada permintaan spesifik yang mencakup jenis minyak, volume yang dibutuhkan, hingga mekanisme pengiriman dan pembayaran.

“Apakah Rusia bisa mengekspor minyak dan gas ke Indonesia? Ya, tentu bisa, tetapi di mana permintaannya?” kata Tolchenov dalam konferensi pers di kediamannya di Jakarta, Rabu (24/6/2026).

Menurut Sergei, kerja sama minyak dan gas merupakan transaksi antarpelaku usaha atau business-to-business (B2B), sehingga harus didukung oleh kebutuhan yang jelas dari calon pembeli. Hingga saat ini, kata Tolchenov, Rusia belum menerima informasi rinci mengenai kebutuhan energi dari Indonesia yang dapat ditindaklanjuti menjadi kontrak komersial.

1. Rusia minta detail jenis minyak dan mekanisme pembayaran

Duta Besar Rusia untuk Indonesia Sergei Tolchenov. (IDN Times/Marcheilla Ariesta)

Tolchenov menjelaskan, sebelum masuk ke tahap kontrak, kedua pihak perlu menyepakati sejumlah aspek teknis. Menurut dia, rincian mengenai jenis minyak mentah yang dibutuhkan menjadi salah satu hal penting dalam pembahasan.

“Kami perlu mengetahui jenis minyak apa yang dibutuhkan, berapa volumenya, pelabuhan mana yang akan digunakan, bagaimana mekanisme pembayarannya, dan harga seperti apa yang diharapkan. Jika ada permintaan yang spesifik, maka akan ada jawaban yang spesifik pula,” ujarnya.

Ia mengatakan, tanpa adanya rincian tersebut, Rusia tidak dapat memberikan penawaran yang lebih konkret kepada Indonesia. Menurut Tolchenov, mekanisme perdagangan energi tidak berbeda dengan transaksi bisnis lainnya yang membutuhkan kesepakatan mengenai spesifikasi barang dan harga. Karena itu, ia menilai langkah berikutnya bergantung pada kebutuhan yang akan disampaikan Indonesia.

2. Lemigas ditunjuk, tetapi belum ada kontrak langsung

PT Kilang Pertamina Internasional (KPI) Unit Cilacap dan Lemigas, KPI resmi melakukan lifting/pengiriman perdana produk Pertamina Sustainable Aviation Fuel (SAF) berbahan baku campuran Used Cooking Oil (UCO) atau minyak jelantah. (Dok. Pertamina)

Tolchenov mengungkapkan, Indonesia telah menunjuk Lembaga Minyak dan Gas Bumi (Lemigas) sebagai counterpart atau mitra pembahasan dari pihak Indonesia untuk potensi kerja sama energi dengan Rusia. Meski demikian, hingga kini belum ada komunikasi langsung antara pihak Rusia dengan lembaga tersebut.

“Sekarang counterpart Rusia nantinya adalah Lemigas. Tetapi sampai saat ini saya belum bertemu dengan siapa pun dari lembaga tersebut dan tidak ada pejabat Rusia lain di Jakarta yang juga telah bertemu mereka,” kata Tolchenov.

Ia menegaskan, Rusia tetap terbuka untuk membahas berbagai peluang kerja sama energi dengan Indonesia. Menurut dia, pembicaraan yang lebih rinci nantinya akan menjadi langkah awal sebelum kedua negara memasuki tahap negosiasi komersial.

Tolchenov juga menegaskan, Rusia siap membahas berbagai opsi pasokan energi apabila Indonesia telah menentukan kebutuhan yang diinginkan.

3. Impor minyak Rusia tetap berjalan

Salah satu fasilitas pengeboran minyak Rusia di Arktika. | Gazprom.com

Di sisi lain, pemerintah Indonesia sebelumnya memastikan rencana impor minyak mentah dari Rusia tetap berlanjut meski situasi di Timur Tengah mulai mereda dan Selat Hormuz direncanakan kembali dibuka. Juru Bicara Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Dwi Anggia mengatakan, kebijakan tersebut merupakan bagian dari upaya memperkuat ketahanan energi nasional sesuai arahan Presiden Prabowo Subianto.

“Arahan Presiden jelas untuk tetap memperkuat cadangan energi nasional kita dengan beragam cara, termasuk salah satunya adalah impor crude dari Rusia. Ini masih tetap akan berjalan, masih tetap dalam proses,” kata Dwi.

Menurut dia, pemerintah telah menunjuk Balai Besar Pengujian Minyak dan Gas Bumi (BBPMGB) Lemigas sebagai salah satu badan yang diberi kewenangan dalam mendukung impor minyak mentah tersebut.

Langkah tersebut merupakan bagian dari komitmen impor sebesar 150 juta barel minyak dari Rusia yang akan dilakukan secara bertahap hingga akhir 2026. Kesepakatan itu merupakan hasil pembahasan antara Presiden Prabowo Subianto dengan pemerintah Rusia.

Editorial Team

Related Article