Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Ada 3 Insiden Nyaris Tabrakan, Keselamatan Bandara Sydney Dipertanyakan

Ada 3 Insiden Nyaris Tabrakan, Keselamatan Bandara Sydney Dipertanyakan
Potret Sydney Airport di Australia. (unsplash.com/David Syphers)
  • Otoritas Australia menyelidiki tiga insiden nyaris tabrakan di Bandara Sydney dalam kurang dari dua minggu, termasuk dua kejadian pada 9 Agustus yang melibatkan pesawat Virgin Australia, Qantas, Jetstar, dan Qatar Airways.
  • ATSB menyoroti keterlambatan Airservices Australia melaporkan insiden Virgin-Qantas pada 9 Agustus, sementara serikat pengontrol menyebut kekurangan staf, lembur, dan kelelahan berpotensi mengganggu kapasitas penerbangan.
  • Airservices mengakui kekurangan pengontrol sejak pandemi tetapi menegaskan keselamatan tidak terdampak; kompleksitas tiga landasan pacu, lalu lintas tinggi, dan jam malam menuntut manajemen risiko serta pelaporan insiden cepat.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Jakarta, IDN Times - Otoritas transportasi Australia mengatakan pada 14 Agusutus 2026 bahwa mereka sedang menyelidiki apa yang salah setelah tiga insiden nyaris celaka dalam waktu kurang dari dua minggu di Bandara Sydney, termasuk dua insiden dalam satu hari.

Menurut penyelidik keselamatan transportasi negara itu, sebuah pesawat Virgin Australia telah diizinkan lepas landas oleh pengontrol lalu lintas udara pada 9 Agustus sekitar pukul 10.00 waktu setempat, ketika awak pesawat melihat pesawat Qantas melintasi landasan pacu di depan mereka. Awak pesawat menghentikan pesawat sekitar satu kilometer dari pesawat lain, yang juga telah diizinkan untuk melaju di landasan pacu. Kedua pesawat itu adalah Boeing 737.

Kepala komisioner Biro Keselamatan Transportasi Australia (ATSB), Angus Mitchell, mengatakan bahwa insiden tersebut tidak menimbulkan risiko tabrakan yang serius. Namun, ia menyatakan keprihatinan atas kegagalan badan pemerintah Airservices Australia dalam melaporkan insiden tersebut kepada ATSB. Disebutkan, insiden itu baru dilaporkan pada 13 Agustus.

"Seharusnya insiden itu tidak terjadi. Kami masih berusaha memahami secara pasti apa yang menyebabkan keterlambatan pelaporan pada kami," kata Mitchell, dilansir The Straits Times pada Senin (17/8/2026).

  1. 1. Serangkaian insiden berdampak pada keselamatan Bandara Sydney

    Ilustrasi maskapai Qantas di Bandara Sydney, Australia. (unsplash.com/David Syphers)
    Ilustrasi maskapai Qantas di Bandara Sydney, Australia. (unsplash.com/David Syphers)

    Insiden tersebut merupakan kejadian ketiga dalam waktu kurang dari dua minggu. Sebelumnya pada hari itu pukul 07.00 pagi, seorang pilot Jetstar terpaksa mengerem mendadak, guna menghindari tabrakan dengan pesawat Qatar Airways Boeing 777. Kejadian ini terjadi setelah dua pesawat Qantas juga menghindari tabrakan pada 27 Juli pukul 08.14, di mana penerbangan internasional diizinkan melintasi landasan pacu saat penerbangan domestik sedang mendarat di sana.

    Serangkaian insiden tersebut telah menimbulkan pertanyaan mengenai kondisi operasional di bandara tersibuk Australia. Kekhawatiran terutama tertuju tentang keselamatan di bandara, khususnya apakah kurangnya petugas pengontrol lalu lintas udara telah menyebabkan staf bekerja terlalu keras dan kelelahan.

    "Jumlah personel di Bandara Sydney tidak mencukupi sehingga pengoperasian menara sangat bergantung pada lembur. Sejumlah pengontrol disebut bekerja hingga 10 hari berturut-turut sebelum mendapat satu hari libur," kata Scott Nugent, kepala serikat pengontrol lalu lintas udara Civil Air.

    Nugent menambahkan, kekurangan personel juga berdampak pada kapasitas penerbangan. Ketika jumlah pengontrol berkurang, jarak antar pesawat diperbesar untuk menjaga keselamatan sehingga lebih sedikit pesawat dapat ditangani. Kondisi tersebut turut berkontribusi terhadap penundaan penerbangan yang terjadi di Bandara Sydney.

  2. 2. Kurangnya personel pengontrol lalu lintas udara di Bandara Sydney

    Ilustrasi menara pengontrol lalu lintas udara di bandara. (unsplash.com/Johannes Heel)
    Ilustrasi menara pengontrol lalu lintas udara di bandara. (unsplash.com/Johannes Heel)

    Kepala perusahaan konsultan penerbangan Strategic Air, Tony Stanton, mengatakan tiga insiden signifikan dalam waktu singkat merupakan kondisi yang tidak biasa dan memerlukan penyelidikan segera. Namun, ia menilai masih terlalu dini untuk menyimpulkan bahwa kekurangan pengontrol menjadi penyebab langsung insiden tersebut.

    Airservices Australia mengakui adanya kekurangan pengontrol lalu lintas udara, tetapi menegaskan kondisi tersebut tidak memengaruhi keselamatan penerbangan. Sementara itu, kepala Air Services, Rob Sharp, mengatakan kekurangan itu bermula sejak pandemik Covid-19. Menurutnya, hal itu sulit segera diatasi karena seorang pengontrol membutuhkan waktu sekitar dua tahun untuk menjalani pelatihan.

    The Guardian melaporkan, Airservices telah kesulitan dalam perekrutan sejak pandemik. Dilaporkan, gaji awal untuk seorang pengontrol lalu lintas udara yang berkualifikasi setelah pelatihan adalah 116.990 dolar Australia (sekitar Rp1,4 miliar) per tahun, dan seorang supervisor berpengalaman dapat memperoleh gaji pokok hampir 300 ribu dolar Australia (Rp3,7 miliar).

    Pada Februari 2024, dua petugas pengotrol lalu lintas udara yang tidak hadir bekerja di Bandara Sydney menyebabkan penundaan dan pembatalan penerbangan beruntun di seluruh negeri. Airservices nyaris terhindar dari insiden serupa pada September tahun lalu.

  3. 3. Bandara Sydney memiliki lingkungan operasional yang kompleks

    Potret Bandara Sydney di Australia. (pexels.com/Parth Patel)
    Potret Bandara Sydney di Australia. (pexels.com/Parth Patel)

    Ugur Turhan, ahli penerbangan di University of New South Wales Canberra, mengatakan bahwa Bandara Sydeny merupakan pusat penerbangan internasional dengan lingkungan operasional yang kompleks. Bandara ini memiliki tiga landasan pacu, jaringan jalur penghubung yang luas, serta volume lalu lintas udara yang tinggi. Lalu lintas tersebut terkonsentrasi dalam 17 jam karena jam malam pukul 23.00-06.00 untuk membatasi kebisingan pesawat di kawasan permukiman sekitar.

    "Tingkat kompleksitas ini serupa dengan yang dihadapi pusat penerbangan internasional utama seperti Bandara Changi Singapura dan Bandara Internasional Hong Kong," ujarnya.

    "Dalam sistem penerbangan yang kompleks, risiko kesalahan manusia atau operasional tidak dapat dihilangkan sepenuhnya sehingga diperlukan manajemen risiko proaktif, pembelajaran berkelanjutan, dan sistem keselamatan yang kuat. Insiden baru-baru ini serius, tetapi tidak menunjukkan bahwa Bandara Sydney tidak aman. Australia memiliki operator yang sangat mahir dan budaya keselamatan yang kuat," sambungnya.

    Merespons serangkaian insiden di Bandara Sydney baru-baru ini, Perdana Menteri Anthony Albanese mengatakan bahwa bandara-bandara di Australia memiliki catatan keselamatan yang luar biasa. Namun, setiap insiden harus segera dilaporkan.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More