Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Sri Lanka Tutup Taman Nasional Yala Akibat Kekeringan Parah
Bendera Sri Lanka (unsplash.com/Chathura Anuradha Subasinghe)
  • Pemerintah Sri Lanka membatasi wisata di Taman Nasional Yala karena kemarau panjang mengeringkan waduk dan mengancam satwa liar kekurangan air.
  • Pengelola mengirim air setiap hari dengan truk tangki ke kolam buatan, menjadi sumber hidrasi bagi rusa, kerbau liar, lutung abu-abu, dan macan tutul.
  • Blok 1 dan 2 ditutup hingga pertengahan Oktober 2026 untuk mengurangi stres satwa; krisis diperparah siklus El Nino yang diperkirakan berlangsung sembilan bulan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Pemerintah Sri Lanka membatasi kunjungan wisata di Taman Nasional Yala. Langkah darurat ini diambil guna mencegah satwa liar dari dehidrasi akibat kemarau panjang yang melanda kawasan selatan negara tersebut.

Menyusutnya cadangan air tawar di kawasan cagar alam itu kini menjadi ancaman serius bagi kelangsungan hidup satwa endemik. Oleh karena itu, otoritas setempat terus memprioritaskan pemulihan ekosistem demi meminimalkan dampak cuaca ekstrem ini.

1. Penyaluran pasokan air darurat untuk selamatkan satwa liar

Taman Nasional Yala (unsplash.org/Natasha Yurova)

Kemarau panjang menyebabkan sejumlah waduk di Taman Nasional Yala mengering dan memicu krisis air bersih. Kondisi ini memaksa pihak pengelola untuk mengerahkan armada truk tangki setiap hari, guna menyalurkan air ke kolam-kolam penampungan buatan di seluruh area suaka.

Pasokan air tersebut menjadi sumber hidrasi utama bagi berbagai satwa liar, mulai dari rusa tutul, kerbau liar, lutung abu-abu, hingga macan tutul. Para petugas jagawana terus mengawal ketat distribusi air bersih ini guna mencegah kematian satwa akibat cuaca panas ekstrem.

“Kami harus mengutamakan keselamatan satwa,” tegas petugas jagawana, Sujeewa Nishantha.

2. Penutupan area wisata utama demi kurangi stres pada satwa

potret gajah Sri Lanka di Taman Nasional Minneriya (commons.wikimedia.org/Eli Solidum)

Otoritas setempat resmi menutup akses wisatawan di Blok 1 dan Blok 2, yang merupakan area tersibuk sekaligus lokasi utama sumber air bagi satwa. Penutupan sementara ini dijadwalkan berlangsung selama sebulan penuh, tepatnya hingga pertengahan Oktober 2026.

Lalu lalang kendaraan safari dikhawatirkan dapat mengganggu satwa yang tengah kehausan dan membutuhkan ruang terbuka untuk minum. Langkah pembatasan ini tetap diambil, meskipun berpotensi menekan pendapatan sektor pariwisata menjelang puncak musim liburan turis asing.

“Penutupan ini terpaksa dilakukan karena satwa yang menderita stres akibat panas membutuhkan akses air yang mudah, dan kehadiran pengunjung berpotensi mengganggu mereka,” jelas Sujeewa Nishantha, dikutip dari AsiaOne.

3. Fenomena El Nino perburuk krisis air di Sri Lanka

Sigiriya (juga dikenal sebagai Batu Singa), sebuah benteng batu kuno dan istana yang terletak di distrik Matale, Sri Lanka. (commons.wikimedia.org/V. Epiney)

Departemen Meteorologi Sri Lanka menyatakan bahwa wilayahnya mulai memasuki siklus El Nino yang diprediksi akan berlangsung selama sembilan bulan. Anomali suhu permukaan laut ini memicu kekeringan terparah dalam kurun satu dekade terakhir, sebelum musim hujan diproyeksikan tiba di penghujung tahun nanti.

Krisis air ini tidak hanya berdampak pada satwa di cagar alam, tetapi juga memukul kehidupan puluhan ribu warga lokal dan petani kecil akibat mengeringnya sumur-sumur air tanah. Pihak pengelola menegaskan bahwa pembukaan kembali jalur safari akan disesuaikan dengan kondisi pemulihan alam.

“Kapan jalur wisata dibuka kembali sangat bergantung pada cuaca. Saat ini, Yala harus diberi waktu untuk pulih secara alami,” ungkap Juru Bicara pengelola Taman Nasional Yala.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article