Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Tak Lagi Pakai Militer, Trump Kembali Gunakan Tekanan Ekonomi ke Iran
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, sedang diwawancara oleh jurnalis Fox News, Rachel Campos Duffy, pada 14 April 2025. (flickr.com/The White House via commons.wikimedia.org/The White House)
  • Trump menyatakan AS beralih dari serangan militer baru ke tekanan ekonomi dan negosiasi terbatas untuk mendorong Iran mencapai kesepakatan, sambil memantau dampak konflik.
  • Perundingan bermediasi Oman untuk membuka Selat Hormuz mendekati tahap akhir, tetapi Iran menuntut pencabutan blokade laut, penghentian aksi militer, dan kompensasi perang.
  • Konflik tetap meluas: Iran menyerang pangkalan AS secara berkala, Houthi memblokade Arab Saudi, serta muncul perbedaan pandangan Washington-Israel terkait penyelesaian konflik regional.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, menggunakan strategi lain demi bisa mencapai kesepakatan dengan Iran. Ketimbang menggunakan militer, Trump mengandalkan tekanan ekonomi agar bisa mendesak Iran untuk mencapai kesepakatan atas perang yang sudah berlangsung selama berbulan-bulan.

Trump mengatakan, pendekatan Washington terhadap Teheran saat ini dilakukan secara lebih hati-hati. Dia mengeklaim, AS hanya melakukan negosiasi secara terbatas sambil memantau dampak konflik terhadap kondisi perekonomian Iran.

Sebab, dia merasa Iran kini berada dalam kondisi ekonomi yang sangat buruk, dengan inflasi tinggi, dan kesulitan membayar pasukannya. Dia juga mengeklaim blokade laut yang diberlakukan AS sejak April 2026 turut memperbesar tekanan terhadap perekonomian Iran.

"Kami sedang menanganinya secara diam-diam," kata Trump dalam wawancara dengan Axios, dikutip dari Al Jazeera, Senin (10/8/2026)

1. Strategi paling jitu?

Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, sedang menyampaikan pidato tentang perekonomian di Rockland Community College di Suffern, New York, pada 22 Mei 2026. (flickr.com/The White House via commons.wikimedia.org/The White House)

Tekanan ekonomi, menurut Trump, menjadi strategi paling jitu AS demi menekan Iran. Dari penilaiannya, ekonomi Iran semakin tertekan akibat konflik dan pembatasan yang diberlakukan AS. Dia juga menyinggung harga minyak yang kini berada sedikit di atas 75 dolar AS per barel dan dinilai telah membantu mengurangi dampak ekonomi konflik bagi konsumen AS.

"Ini akan berhasil. Semuanya selalu berhasil. Ini seperti permainan catur," ujar Trump.

Pernyataan tersebut menunjukkan perubahan pendekatan Washington setelah sebelumnya konflik melibatkan serangkaian serangan militer dan ketegangan yang meluas di kawasan Timur Tengah. Trump mengatakan, AS kini memantau dampak perang terhadap Iran sembari mempertahankan tekanan untuk mendorong Teheran kembali ke meja perundingan.

2. Pembicaraan Selat Hormuz masuki tahap akhir

ilustrasi Selat Hormuz (MODIS Land Rapid Response Team, NASA GSFC, Public domain, via Wikimedia Commons)

Sementara itu, pembicaraan yang dimediasi Oman mengenai pembukaan kembali Selat Hormuz untuk pelayaran mulai mendekati kesepakatan. Kementerian Luar Negeri Iran sebelumnya mengatakan pembicaraan tersebut telah memasuki tahap akhir.

Kedua pihak dilaporkan semakin dekat untuk menyepakati koordinat rute pelayaran baru yang akan digunakan kapal-kapal untuk melintasi selat strategis tersebut. Namun, Teheran menegaskan tidak akan sepenuhnya membuka kembali jalur pelayaran itu sebelum Washington mengubah kebijakannya terhadap Iran.

Iran menuntut AS mencabut blokade laut, menghentikan aksi militer, serta membayar kerugian akibat perang sebagai bagian dari tuntutannya. Kesepakatan gencatan senjata yang dicapai pada Juni 2026 sebelumnya runtuh beberapa pekan kemudian akibat perselisihan mengenai pengendalian Selat Hormuz. Pertempuran pun kembali berlangsung. Sejak saat itu, Iran masih melancarkan serangan secara berkala terhadap pangkalan-pangkalan AS di Kuwait, Bahrain, dan Yordania.

3. Ketegangan meluas di kawasan

Kapal AS di Selat Hormuz. (Specialist Noah Martin, Public domain, via Wikimedia Commons)

Konflik juga melibatkan kelompok-kelompok yang bersekutu dengan Iran. Kelompok Houthi di Yaman, yang memiliki hubungan dengan Iran, bulan lalu melakukan blokade laut terpisah terhadap Arab Saudi.

Di tengah perkembangan tersebut, laporan terbaru juga menunjukkan adanya perbedaan pandangan antara Washington dan Israel mengenai kecepatan upaya AS untuk mengakhiri konflik di sejumlah front.

Ketegangan tersebut mencakup situasi di Gaza dan Lebanon, yang hingga kini masih menjadi bagian dari persoalan keamanan lebih luas di Timur Tengah. Dengan mengutamakan tekanan ekonomi dan negosiasi terbatas, pemerintahan Trump kini berupaya mendorong Iran menuju kesepakatan tanpa harus membuka kembali konflik militer dalam skala lebih besar. Namun, tuntutan Iran terkait blokade, aksi militer, dan kompensasi perang menunjukkan, jalan menuju kesepakatan masih menghadapi sejumlah hambatan.

Curated For You

Editorial Team

Related Article