reruntuhan di Kota Gaza (unsplash.com/mhmedbardawil)
Tim penyelamat Pertahanan Sipil Gaza membutuhkan waktu berminggu-minggu untuk membongkar tumpukan beton di lokasi rumah yang runtuh. Petugas penyelamat hanya mengandalkan beberapa unit ekskavator usang akibat blokade Israel yang melarang masuknya alat berat ke Gaza.
Operasi evakuasi di lingkungan Zeitoun merupakan bagian dari proyek tahap kedua yang mencakup pencarian korban di 147 reruntuhan rumah. Pada proyek tahap pertama yang berjalan akhir November 2025, tim tersebut telah mengevakuasi 333 jenazah dari 54 lokasi bangunan hancur.
Jenazah yang telah tertimbun selama lebih dari dua tahun biasanya tidak lagi utuh dan hanya berupa serpihan tulang belulang. Petugas mengidentifikasi korban melalui keterangan para penyintas, posisi kamar saat pengeboman, serta sisa pakaian yang ditemukan.
"Kami tidak memiliki peralatan kerja maupun alat pelindung yang layak bagi para petugas penyelamat," ujar Raed al-Dahshan, Direktur Pertahanan Sipil Kota Gaza, dilansir Al Jazeera.
Komite Orang Hilang memperkirakan sekitar 8 ribu hingga 15 ribu jenazah masih tertimbun di bawah puing bangunan di berbagai penjuru Jalur Gaza. Proses pengangkatan seluruh korban diprediksi memerlukan waktu bertahun-tahun bila alat berat modern tidak segera diizinkan masuk.