Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Tertimbun Puing 3 Tahun, 100 Jenazah Warga Gaza Akhirnya Dimakamkan

Tertimbun Puing 3 Tahun, 100 Jenazah Warga Gaza Akhirnya Dimakamkan
pemandangan reruntuhan di Gaza (pixabay.com/hosnysalah)
  • Kota Gaza memakamkan massal 100 jenazah yang dievakuasi dari reruntuhan di Zeitoun, termasuk sekitar 60–70 anak-anak korban serangan pada 2023 dan 2024.
  • Ribuan warga mengiringi prosesi pemakaman menuju Pemakaman Al-Ma'madani, setelah keluarga korban berkumpul untuk berdoa, menyalakan lilin, membawa foto, dan menaburkan bunga.
  • Evakuasi terhambat minimnya ekskavator akibat blokade Israel; Komite Orang Hilang memperkirakan 8.000–15.000 jenazah masih tertimbun di berbagai wilayah Jalur Gaza.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Jakarta, IDN Times - Warga Kota Gaza menggelar pemakaman massal untuk 100 jenazah korban serangan Israel yang berhasil dievakuasi dari bawah reruntuhan bangunan di lingkungan Zeitoun pada Minggu (6/9/2026). Sebagian besar korban tewas merupakan anak-anak yang tertimbun puing rumah tinggal mereka akibat serangan pada 2023 dan 2024.

Ratusan keluarga dan warga setempat menyalatkan jenazah yang telah teridentifikasi sebelum mengaraknya menuju lokasi pemakaman. Prosesi pemakaman diwarnai suasana haru para kerabat yang menanti bertahun-tahun untuk memakamkan keluarga mereka secara layak.

  1. 1. Mayoritas korban merupakan anak-anak

    potret seorang anak di Gaza
    potret seorang anak di Gaza (pixabay.com/hosnysalah)

    Jenazah para korban dievakuasi dari puing-puing bangunan rumah yang hancur di kawasan Zeitoun, bagian tenggara Kota Gaza. Pihak berwenang mencatat sekitar 60 hingga 70 dari total 100 korban yang ditemukan merupakan anak-anak.

    Sebagian besar korban berasal dari sejumlah keluarga besar setempat, seperti keluarga Malaka, Rahim, Balawi, Qanbour, Salmi, dan Dahdouh. Rumah tinggal keluarga-keluarga tersebut hancur akibat serangan udara militer Israel.

    Dampak paling parah menimpa keluarga Malaka yang kehilangan 55 anggota keluarga dalam satu serangan. Di lokasi lain, keluarga Rahim kehilangan 32 kerabat saat kediaman mereka dihantam serangan bom pada Februari 2024.

    "Satu-satunya 'kesalahan' mereka hanyalah tetap tinggal di rumah. Mereka mendadak dibom dan seketika tewas bersamaan," kata Jadallah Rahim, salah seorang kerabat korban keluarga Rahim, dilansir TRT World.

  2. 2. Ratusan pelayat iringi pemakaman para korban

    pemandangan sudut kota Gaza
    pemandangan sudut kota Gaza. (unsplash.com/Emad El Byed)

    Rangkaian pemakaman dimulai sejak Sabtu malam di dekat Masjid Imam al-Shafi'i saat keluarga korban berkumpul menggelar doa bersama. Para kerabat menyalakan lilin, menaburkan bunga, serta membawa foto korban di hadapan peti-peti jenazah yang telah disiapkan.

    Seluruh peti jenazah diselimuti bendera Palestina sebelum dibawa menuju tempat peristirahatan terakhir. Ribuan warga kemudian berjalan kaki mengarak peti jenazah melalui jalan-jalan protokol Kota Gaza menuju Pemakaman Al-Ma'madani.

    "Saya tidak punya siapa pun kecuali putri saya satu-satunya yang masih hidup, Malak. Seluruh hidup saya hancur. Suamiku dan anak-anakku sudah tiada," kata Maryam Hassan al-Balawi, seorang ibu yang kehilangan keluarganya kepada Anadolu.

  3. 3. Keterbatasan alat berat hambat evakuasi ribuan jasad

    reruntuhan di Kota Gaza
    reruntuhan di Kota Gaza (unsplash.com/mhmedbardawil)

    Tim penyelamat Pertahanan Sipil Gaza membutuhkan waktu berminggu-minggu untuk membongkar tumpukan beton di lokasi rumah yang runtuh. Petugas penyelamat hanya mengandalkan beberapa unit ekskavator usang akibat blokade Israel yang melarang masuknya alat berat ke Gaza.

    Operasi evakuasi di lingkungan Zeitoun merupakan bagian dari proyek tahap kedua yang mencakup pencarian korban di 147 reruntuhan rumah. Pada proyek tahap pertama yang berjalan akhir November 2025, tim tersebut telah mengevakuasi 333 jenazah dari 54 lokasi bangunan hancur.

    Jenazah yang telah tertimbun selama lebih dari dua tahun biasanya tidak lagi utuh dan hanya berupa serpihan tulang belulang. Petugas mengidentifikasi korban melalui keterangan para penyintas, posisi kamar saat pengeboman, serta sisa pakaian yang ditemukan.

    "Kami tidak memiliki peralatan kerja maupun alat pelindung yang layak bagi para petugas penyelamat," ujar Raed al-Dahshan, Direktur Pertahanan Sipil Kota Gaza, dilansir Al Jazeera.

    Komite Orang Hilang memperkirakan sekitar 8 ribu hingga 15 ribu jenazah masih tertimbun di bawah puing bangunan di berbagai penjuru Jalur Gaza. Proses pengangkatan seluruh korban diprediksi memerlukan waktu bertahun-tahun bila alat berat modern tidak segera diizinkan masuk.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More