Fakta-Fakta Kapal Induk AS yang Disiapkan untuk Perangi Iran

- AS mengirim gugus tempur USS Theodore Roosevelt dan kelompok amfibi USS Makin Island ke Timur Tengah, membawa lebih dari 7.000 pelaut serta 2.000 personel Marinir.
- Pengerahan tambahan berpotensi menempatkan tiga kapal induk AS di Timur Tengah pada akhir Oktober 2026, dengan total kehadiran lebih dari 20.000 pelaut dan Marinir.
- Presiden Donald Trump menolak proposal gencatan senjata Iran, termasuk tawaran pembukaan Selat Hormuz, serta mengisyaratkan kemungkinan peningkatan pengeboman setelah pemilu sela 3 November.
Jakarta, IDN Times - Militer AS dikabarkan mengirim gugus tempur kapal induk ketiga bersama kelompok serbu amfibi spesialis ke kawasan Timur Tengah di tengah kebuntuan perang dengan Iran. Pengiriman armada militer ini berdasarkan keterangan seorang pejabat AS yang berbicara secara anonim mengenai operasi sensitif tersebut.
Kedatangan kelompok kapal perang tersebut berpeluang membuat tiga kapal induk berada di Timur Tengah paling cepat pada akhir Oktober 2026. Pengerahan ini berlangsung seiring peringatan Presiden Donald Trump bahwa serangan baru terhadap Iran dapat segera terjadi di depan mata. Langkah militer tersebut sekaligus menegaskan dinamika perang yang bergerak cepat menjelang pemilu sela di AS.
1. Pengerahan pasukan tambahan buat armada AS tembus 20 ribu prajurit

USS Theodore Roosevelt (U.S. Navy photo by Mass Communication Specialist Seaman Kaylianna Genier, Public Domain, via Wikimedia Commons) Kapal-kapal yang sedang menuju kawasan tersebut membawa lebih dari 7.000 pelaut dan 2.000 personel Marinir. Kelompok ini mencakup gugus tempur kapal induk USS Theodore Roosevelt yang baru-baru ini berlayar bersama kapal penjelajah rudal berpandu USS Chosin. Selain itu, armada turut diperkuat oleh kelompok kesiapan amfibi USS Makin Island yang meliputi dua kapal pendarat amfibi, yaitu USS John P. Murtha dan USS Anchorage.
Langkah pengiriman tersebut, bersama personel yang sudah berada di Timur Tengah, akan mendorong kehadiran angkatan laut AS ke tingkat yang tidak biasa tinggi, yakni lebih dari 20.000 pelaut dan Marinir beserta ratusan pesawat. Sebelumnya, Angkatan Laut AS tercatat menyiagakan tiga gugus tempur kapal induk di Timur Tengah pada April untuk pertama kalinya sejak tahun 2003.
2. Rotasi kapal induk di perairan Timur Tengah dan Pasifik

USS George Washington (Los688, Public Domain, via Wikimedia Commons) Kapal induk USS George H.W. Bush dan USS George Washington saat ini telah berada di kawasan Timur Tengah bersama kelompok kesiapan amfibi USS Boxer. USS George Washington biasanya beroperasi di Samudra Pasifik, tetapi dialihkan ke Timur Tengah untuk menggantikan kapal induk USS Abraham Lincoln.
Penugasan berat kapal induk USS Abraham Lincoln tersebut membuat awaknya harus berada di laut selama lebih dari 260 hari berturut-turut. Kapal induk USS George Washington memiliki kemungkinan untuk berpindah ke perairan lepas pantai Jepang setelah kapal induk USS Theodore Roosevelt tiba di kawasan.
3. Trump tolak proposal damai dan bahas dampak pemilu sela

Presiden AS Donald Trump (Marc Nozell from Merrimack, New Hampshire, USA, CC BY 2.0, via Wikimedia Commons) Trump sebelumnya telah mengancam bahwa eskalasi pasca pemilu sela menjadi opsi yang memungkinkan, meski janji awalnya menyebut perang akan berakhir dalam beberapa pekan. Dalam wawancara bersama majalah Time yang terbit pada Kamis (1/10/2026) dan dilakukan pada Senin (28/9/2026), Trump menyebut "mungkin" dia akan meningkatkan pengeboman di Iran setelah pemilu sela pada 3 November. Ketika didesak, Trump menyatakan bahwa dirinya tidak dapat menjelaskan lebih lanjut perihal rincian strateginya. "Saya tidak bisa memberitahukan hal itu kepada Anda karena begini, Anda tahu, Anda menanyakan di mana kita akan mengebom?" kata Trump.
Trump juga menyatakan telah menolak proposal gencatan senjata terbaru dari pihak Iran. Dia mencontohkan tawaran dari pihak Iran untuk "membuka" Selat Hormuz sebagai koridor pengiriman energi utama, tetapi menilai proposal secara keseluruhan "tidak cukup baik". Trump berujar, "Hal-hal yang tidak akan kusetujui setahun lalu tidak akan kusetujui hari ini."
Dilansir TRT World, Trump pada Kamis (1/10/2026) menyampaikan indikasi awal yang menghubungkan Iran dengan kopilot yang menikam kaptennya serta mencoba menjatuhkan penerbangan menuju Israel pada Rabu (30/9/2026).
Masih dalam wawancara dengan majalah Time, saat ditanya apakah perang yang kian tidak populer mengancam peluang Partai Republik pada November, Trump awalnya menjawab, "Itu mungkin."
Dia kemudian menambahkan bahwa isu tersebut semestinya membantu karena Iran tidak akan dibiarkan memiliki senjata nuklir, seraya menyatakan bahwa 100 persen orang di seluruh dunia menentang kemampuan serangan nuklir Iran. "Jadi, ketika Anda menyatakannya dengan cara seperti itu, hal itu akan membantu. Jika Anda tidak mengatakannya begitu, itu bisa merugikan," tambah Trump.


![[INFOGRAFIS] AI Jadi Tempat Curhat: Tren Baru Gen Z & Milenial](https://image.idntimes.com/post/20260429/upload_9c2883de31fbc7ad993691764c90e6e3_dfc3c6ee-e42f-48f6-9f1a-cde1ce74477c.jpg)



















