Trader Anonim Raup Untung Rp6,8 Miliar Usai Presiden Venezuela Ditangkap

- Pasar keuangan bereaksi cepat terhadap penangkapan Maduro
- Dugaan insider trading menarik perhatian pembuat kebijakan AS
- Pola taruhan tak lazim di platform pasar prediksi Polymarket
Jakarta, IDN Times - Seorang trader anonim dilaporkan meraup keuntungan besar setelah bertaruh bahwa Presiden Venezuela Nicolas Maduro akan tersingkir dari jabatannya. Berdasarkan data platform pasar prediksi Polymarket, trader tersebut memperoleh keuntungan sekitar 410.000 dolar AS atau setara sekitar Rp6,85 miliar, setelah kabar penangkapan Maduro oleh militer Amerika Serikat mencuat ke publik.
Akun tersebut membangun posisi taruhan pada kontrak yang berkaitan dengan kemungkinan Maduro lengser ketika peluangnya masih dinilai kecil. Sebelum operasi militer AS terjadi, nilai taruhan itu tercatat sekitar 34.000 dolar AS atau sekitar Rp567,8 juta. Nilai tersebut melonjak tajam setelah informasi penangkapan Maduro tersebar luas.
Lonjakan ini menunjukkan bagaimana pasar prediksi dapat bereaksi ekstrem terhadap peristiwa geopolitik besar, terutama ketika informasi sensitif berubah menjadi konsumsi publik dalam waktu singkat.
1. Pasar keuangan bereaksi cepat

Dampak penangkapan Maduro langsung terasa di pasar global. Pada perdagangan awal Senin (5/1/2026), indeks saham utama dunia mencatat penguatan, sementara harga minyak naik dan saham-saham sektor energi membukukan kenaikan signifikan.
Di sisi lain, obligasi pemerintah Venezuela yang selama ini berada dalam kondisi gagal bayar melonjak tajam. Investor mulai berspekulasi perubahan kepemimpinan dapat membuka jalan bagi restrukturisasi utang negara dalam skala besar.
Obligasi yang diterbitkan pemerintah Venezuela dan perusahaan minyak negara Petróleos de Venezuela (PDVSA) dilaporkan melonjak hingga 10 sen per dolar, atau hampir 30 persen, seiring masuknya investor yang bersikap optimistis terhadap perkembangan politik terbaru.
2. Dugaan insider trading jadi sorotan

Keuntungan miliaran rupiah yang diraih trader anonim tersebut berpotensi menarik perhatian serius dari para pembuat kebijakan di Amerika Serikat. Sejumlah anggota parlemen AS sebelumnya telah mendorong aturan lebih ketat terkait praktik insider trading, termasuk wacana pelarangan perdagangan oleh pejabat publik.
Setelah kabar transaksi taruhan terkait Maduro mencuat, anggota Kongres dari Partai Demokrat Ritchie Torres menyatakan akan mengajukan rancangan undang-undang baru.
Dilansir dari Channel News Asia, Selasa (6/1/2026), rancangan undang-undang tersebut bertujuan melarang pejabat terpilih, anggota parlemen, dan pegawai federal memasang taruhan di platform pasar prediksi yang berpotensi melibatkan informasi material non-publik.
3. Pola taruhan dinilai tak lazim

Catatan Polymarket menunjukkan akun anonim tersebut baru dibuat bulan lalu. Trader itu mulai membeli kontrak senilai 96 dolar AS atau sekitar Rp1,5 juta pada 27 Desember, yang akan membayar jika Amerika Serikat menginvasi Venezuela sebelum 31 Januari. Dalam beberapa hari berikutnya, ia kembali menambah sejumlah taruhan serupa dengan nilai yang lebih besar.
Platform pasar prediksi seperti Polymarket menyediakan kontrak ‘ya atau tidak’ atas berbagai peristiwa dunia nyata, mulai dari olahraga dan hiburan hingga politik dan ekonomi global.
Dalam mekanisme ini, kontrak yang awalnya diperdagangkan hanya beberapa sen bisa bernilai 1 dolar AS penuh jika peristiwa yang diprediksi benar-benar terjadi. Kondisi ini memungkinkan keuntungan besar dalam waktu singkat, terutama jika pelaku memiliki akses pada informasi yang belum diketahui publik.
Pada September lalu, Polymarket memperoleh persetujuan dari Commodity Futures Trading Commission (CFTC) AS untuk kembali beroperasi di negara tersebut, setelah mengakuisisi bursa derivatif berlisensi QCEX senilai 112 juta dolar AS atau sekitar Rp1,75 triliun.
Namun hingga kini, CFTC belum memberikan pernyataan apakah pihaknya tengah menyelidiki transaksi yang berkaitan dengan taruhan penangkapan Maduro. Pihak Polymarket juga belum merespons permintaan komentar terkait kasus ini.
Sebelumnya, platform tersebut telah beberapa kali disorot karena potensi praktik insider trading. Meski warga AS secara resmi tidak memiliki akses ke platform utama Polymarket, sejumlah pengguna diketahui memanfaatkan VPN untuk menghindari pembatasan tersebut.
Kasus ini kembali memantik perdebatan global tentang etika, transparansi, dan regulasi pasar prediksi, terutama ketika peristiwa geopolitik berskala besar berubah menjadi instrumen spekulasi finansial bernilai miliaran rupiah.

















