Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Trump Tolak Tawaran Damai dari Iran Terkait Pembukaan Selat Hormuz

3 min read
Trump Tolak Tawaran Damai dari Iran Terkait Pembukaan Selat Hormuz
Presiden AS Donald Trump (Marc Nozell from Merrimack, New Hampshire, USA, CC BY 2.0, via Wikimedia Commons)
  • Donald Trump menolak tawaran damai tujuh hari Iran untuk membuka Selat Hormuz dan memulai kembali perundingan nuklir, dengan alasan Teheran ingin bernegosiasi setelah kalah dalam konflik.
  • Iran menawarkan pembukaan selat pada hari keenam dan perundingan nuklir hari ketujuh, dengan imbalan pencabutan blokade pelabuhan, keringanan sanksi minyak, pelepasan aset, serta gencatan senjata regional.
  • Teheran belum menerima respons resmi melalui mediator, menegaskan tidak akan tunduk pada tekanan, sementara konflik sejak Februari 2026 menewaskan ribuan orang dan mengganggu pasokan minyak.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Jakarta, IDN Times - Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan menolak usulan kesepakatan damai tujuh hari dari Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz. Sikap tersebut dia sampaikan kepada para jurnalis di Gedung Putih, Washington D.C., pada Sabtu (26/9/2026), saat hendak bertolak menuju Tennessee untuk agenda kampanye.

Pemerintah Iran sebelumnya mengajukan tawaran pembukaan kembali jalur pelayaran strategis itu dan dimulainya kembali pembicaraan nuklir dengan imbalan pencabutan blokade laut AS terhadap pelabuhan Iran. Namun, Trump menolak tawaran tersebut dan menyatakan pihak Teheran ingin membuat kesepakatan karena mereka kalah telak dalam konflik kawasan.

  1. 1. Pernyataan penolakan Trump dan sikap skeptis terhadap program nuklir

    Selat Hormuz
    Selat Hormuz (MODIS Land Rapid Response Team, NASA GSFC, Public Domain, via Wikimedia Commons)

    Dilansir TRT World, Trump mengonfirmasi penolakan terhadap tawaran Teheran saat berbicara di hadapan awak media. "Saya menolak usulan mereka. Mereka ingin membuat kesepakatan di mana mereka membuka selat itu segera karena mereka kalah begitu parah," ujar Trump. Dia menambahkan bahwa dirinya menilai keinginan membuat kesepakatan adalah hal yang wajar karena dia sendiri menyukai proses perundingan.

    Kendati demikian, Trump secara pribadi bersikap skeptis bahwa Iran akan memenuhi tuntutan untuk membongkar program nuklirnya, sebagaimana laporan The Wall Street Journal yang dikutip media. Sang presiden bahkan menyampaikan kepada para pembantunya bahwa dia memperkirakan serangan pengeboman terhadap Iran akan kembali berlanjut setelah pemilihan umum paruh waktu di AS pada November mendatang. Selain itu, pada Jumat (25/9/2026) malam, Trump sempat mengunggah gambar peta di platform Truth Social yang menamai Selat Hormuz sebagai "Trump Strait".

  2. 2. Ketentuan usulan tujuh hari Teheran dan syarat pembukaan blokade

    Kapal militer AS di Selat Hormuz
    Kapal militer AS di Selat Hormuz (Official U.S. Navy Page from United States, Public Domain, via Wikimedia Commons)

    Rencana kesepakatan tujuh hari tersebut sebelumnya disampaikan oleh Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi di sela-sela Sidang Majelis Umum PBB ke-81 di New York. Usulan resmi tersebut disampaikan pihak Teheran kepada Washington melalui perantara Qatar. Araghchi memaparkan bahwa tenggat waktu tujuh hari akan dimulai segera setelah AS menerima usulan, dengan tahapan awal selama empat hingga lima hari, pembukaan selat pada hari keenam, dan dimulainya pembicaraan nuklir pada hari ketujuh.

    Sebagai imbalan pembukaan kembali jalur pelayaran internasional, Teheran menuntut AS mencabut blokade laut atas pelabuhan Iran dan memulihkan keringanan sanksi atas ekspor minyak. Pihak Teheran juga meminta pelepasan aset Iran yang dibekukan sekitar 12 miliar dolar AS atau setara Rp214,9 triliun (kurs Rp17.909) serta pemberlakuan gencatan senjata yang mencakup kawasan Lebanon dan Yaman. Skema usulan pembukaan rute pelayaran baru ini nantinya akan beroperasi dan sebagian besar melintasi wilayah perairan Iran.

  3. 3. Sikap resmi diplomasi Teheran dan situasi perang di kawasan

    Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi
    Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi (Khamenei.ir, CC BY 4.0, via Wikimedia Commons)

    Sebelum penolakan Trump dilaporkan, Abbas Araghchi telah menegaskan batas sikap Iran kepada para jurnalis di New York. "Pilihan sekarang berada di tangan Amerika Serikat. Iran tidak menerima paksaan, ancaman, atau intimidasi, dan Iran tidak akan menyerahkan hak-hak kedaulatannya di bawah tekanan," kata Araghchi. Sementara itu, dilansir The Guardian, Araghchi pada Sabtu (26/9/2026) malam menyatakan Teheran telah melihat reaksi awal Trump di media, tetapi belum menerima tanggapan resmi melalui para mediator.

    Presiden Iran Masoud Pezeshkian menegaskan usai pertemuannya dengan Sekretaris Jenderal PBB António Guterres bahwa pihaknya tidak pernah meninggalkan meja perundingan, tetapi tidak lagi percaya kepada AS berdasarkan pengalaman masa lalu. Di sisi lain, juru bicara Korps Garda Revolusi Islam Hossein Mohebi menyatakan pasukannya tidak akan berhenti menghukum AS hingga tujuh syarat Iran dipenuhi. Konflik bersenjata yang berlangsung sejak 28 Februari 2026 ini telah menewaskan ribuan orang, menurunkan kekuatan militer konvensional Iran, serta mengganggu pasokan minyak yang menaikkan biaya hidup global.

    sumber:

    https://www.theguardian.com/world/2026/sep/26/trump-dismiss-iran-seven-day-peace-deal-hormuz

    https://www.trtworld.com/article/4d899d59d943

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More