Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
AS, Korsel, dan Jepang Bersatu di G20 Tuntut Denuklirisasi Korut
ilustrasi ruang konferensi (pexels.com/Jan van der Wolf)
  • AS, Korea Selatan, dan Jepang di sela G20 Atlanta menegaskan komitmen denuklirisasi total Korea Utara serta pelaksanaan penuh resolusi Dewan Keamanan PBB.

  • Desakan itu muncul saat spekulasi pertemuan Donald Trump-Kim Jong Un menguat; Seoul mengusulkan pembekuan program nuklir sebagai imbalan keringanan sanksi.

  • Korea Utara menolak tekanan internasional, menyatakan status negara bersenjata nuklirnya permanen, serta mengecam pernyataan negara pemantau sanksi AS dan Barat.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Amerika Serikat (AS), Korea Selatan (Korsel), dan Jepang kembali menegaskan tuntutan pelepasan senjata nuklir Korea Utara (Korut). Dilansir Al Jazeera, desakan bersama itu mengemuka di sela-sela pertemuan Kelompok 20 (G20) di Atlanta, Georgia, pada Sabtu (31/10/2026).

Pernyataan tersebut disampaikan oleh Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio, Menteri Luar Negeri Korsel Cho Hyun, dan Menteri Luar Negeri Jepang Toshimitsu Motegi. Berdasarkan rilis Departemen Luar Negeri AS, mereka menyatakan komitmen teguh terhadap denuklirisasi total Korut serta berjanji melaksanakan penuh resolusi Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

1. Sinyal pertemuan Trump dan Kim Jong Un

Presiden Donald J. Trump menyalami Kim Jong Un, Pemimpin Partai Buruh Korea, pada Minggu, 30 Juni 2019, ketika keduanya bertemu di Zona Demiliterisasi (DMZ) Korea. (Foto resmi dari Gedung Putih, diambil oleh Shealah Craighead, Public Domain, via Wikimedia Commons)

Mengutip Japan Today, penegasan itu muncul di tengah menguatnya spekulasi mengenai kemungkinan pertemuan Presiden AS Donald Trump dengan pemimpin Korut Kim Jong Un. Pertemuan tersebut direncanakan berlangsung pada Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Kerja Sama Ekonomi Asia Pasifik (APEC) bulan depan di China, di mana Trump dijadwalkan hadir pada bulan ini.

Pada masa jabatan pertamanya, Trump pernah menggelar serangkaian KTT bersejarah dengan Kim serta terus menyebutnya sebagai teman. Selain itu, ia juga mengurangi latihan militer gabungan bersama sekutunya, Korsel, dan sempat menyimpang dari kebijakan lama AS terkait pengakuan status nuklir Pyongyang pada tahun lalu.

2. Posisi baru dan pendekatan berbeda di Seoul

Bendera Korea Selatan (pexels.com/byunghyun)

Berdasarkan informasi dari badan intelijen Korsel, Kim kemungkinan telah menyampaikan posisi Pyongyang mengenai potensi pembicaraan dengan Trump kepada Beijing saat melakukan kunjungan ke kota perbatasan China, Dandong. Sejumlah analis turut menyampaikan penilaian serupa terkait langkah diplomatik tersebut.

Sementara itu di Seoul, Presiden Korsel Lee Jae Myung yang berulang kali menawarkan pembicaraan tanpa prasyarat kepada Pyongyang mengusulkan pendekatan yang berbeda. Pada September lalu, ia menyarankan agar Washington mengupayakan pembekuan program nuklir Korut sebagai imbalan atas keringanan sanksi, alih-alih menuntut penghapusan langsung.

Para pengkritik menilai pendekatan pembekuan tersebut berisiko menerima Korut secara diam-diam sebagai negara bersenjata nuklir. Para analis menambahkan bahwa China mungkin bergerak ke arah yang sama, terlihat dari dihilangnya isu denuklirisasi Korut dari pernyataan resmi setelah pertemuan Kim dengan Presiden China Xi Jinping pada Juni lalu.

3. Penolakan dari Pyongyang

Bendera Korea Utara (unsplash.com/Mike Bravo)

Di sisi lain, Korut yang mendapat dukungan dari Rusia dan China telah mengesahkan statusnya sebagai negara bersenjata nuklir di dalam undang-undang. Pyongyang menegaskan bahwa persenjataan atomnya bersifat permanen dan tidak dapat diubah kembali.

Menanggapi tekanan internasional yang datang, Pyongyang mengecam keras pernyataan bersama kelompok negara pemantau implementasi sanksi tersebut. Pihak Pyongyang menyatakan bahwa sindikat sanksi stereotip dari AS dan Barat tidak dapat mempengaruhi posisi Republik Demokrasi Rakyat Korea (DPRK) sebagai negara pemilik senjata nuklir.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article