Mytel adalah perusahaan patungan antara badan usaha militer Myanmar dengan Viettel. Viettel merupakan operator seluler yang dikendalikan oleh Kementerian Pertahanan Vietnam.
Seluruh pendapatan dari perusahaan telekomunikasi ini diduga kuat mengalir langsung ke kantong junta. Uang tersebut digunakan untuk mendanai operasional harian serta pembelian persenjataan militer.
Direktur Burma Campaign UK, Mark Farmaner, menegaskan bahwa pemberian hak siar ini secara tidak langsung ikut membantu pendanaan tentara Myanmar.
"Mytel merayakan penghargaan hak siar dari FIFA ini karena mereka tahu hal ini akan memaksa penggemar membeli layanan mereka. Uang dari para penggemar itulah yang nantinya dipakai untuk membeli bom," kata Farmaner.
Selain persoalan dana perang, infrastruktur teknologi milik Mytel dilaporkan digunakan untuk melacak pergerakan para aktivis politik. Kasus penyalahgunaan data pribadi warga ini menjadi alasan utama Pemerintah Amerika Serikat menjatuhkan sanksi keras kepada Mytel sejak 2025.
"Mytel secara rutin menyerahkan data pribadi pengguna kepada rezim militer. Data ini digunakan untuk mempermudah penangkapan dan penindasan para aktivis di lapangan," tutur Thinzar Shunlei Yi, seorang aktivis demokrasi Myanmar, dilansir The Irrawaddy.