BNPB Siapkan RS Lapangan usai RSUD Manggarai Runtuh akibat Gempa NTT

- BNPB menyiapkan rumah sakit lapangan setelah RSUD Manggarai mengalami kerusakan akibat gempa magnitudo 7,7.
- Rumah sakit lapangan direncanakan berdiri di Stadion Golo Dukal untuk mendukung layanan kesehatan sementara.
- BNPB mencatat 995 gempa susulan, 53 korban meninggal, 135 korban luka, serta kerusakan rumah di NTT.
Jakarta, IDN Times - Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyiapkan pembangunan rumah sakit lapangan sebagai langkah kedaruratan untuk memastikan pelayanan kesehatan tetap berjalan setelah Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Manggarai terdampak gempa bumi magnitudo (M) 7,7 yang mengguncang Flores, Nusa Tenggara Timur, pada Sabtu (15/8/2026).
Guncangan gempa menyebabkan sejumlah bagian dan fasilitas RSUD Manggarai mengalami kerusakan. Kondisi tersebut berdampak pada pelayanan pasien dan kegiatan administrasi rumah sakit yang untuk sementara dilakukan di area halaman rumah sakit.
Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK), Pratikno meminta BNPB segera mendirikan rumah sakit lapangan di Stadion Golo Dukal. Lokasi tersebut dinilai cukup aman dan strategis untuk mendukung pelayanan kesehatan sementara.
“Kami sudah berkoordinasi dengan Menteri Kesehatan dan Kepala BNPB akan segera membangun rumah sakit lapangan sebagai solusi alternatif layanan kesehatan sementara RSUD Manggarai,” ujar Pratikno di lokasi, Minggu (16/8).
1. Menko PMK tekankan akurasi data dampak bencana

Menko PMK Pratikno saat meninjau penanganan bencana gempa NTT. (Dok. BNPB). Pratikno menegaskan, pemenuhan kebutuhan pasien dan masyarakat terdampak menjadi prioritas dalam penanganan pascagempa. Untuk memastikan dukungan pemerintah tepat sasaran, pemerintah Kabupaten Manggarai diminta segera melakukan pendataan secara akurat terhadap dampak dan kebutuhan masyarakat maupun fasilitas pelayanan publik.
“Kami minta pendataan ini segera dilakukan secara akurat, sehingga berbagai dukungan yang dibutuhkan dapat segera kita laksanakan,” kata dia.
2. BNPB dukung penanganan RSUD Manggarai

Kepala BNPB Letjen TNI Suharyanto (rompi) mengecek tenda keluarga dan memberikan bantuan di Desa Komarora, Kecamatan Nokilalaki, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah, Jumat (19/6/2026). (Dok. BNPB) Kepala BNPB, Suharyanto memastikan akan menindaklanjuti arahan tersebut, dengan membangun rumah sakit lapangan sekaligus memberikan dukungan terhadap kebutuhan pelayanan kesehatan. BNPB akan berkoordinasi dengan Kementerian Kesehatan, pemerintah daerah dan pihak terkait agar layanan kesehatan bagi masyarakat terdampak dapat berlangsung secara optimal.
Selain menyiapkan rumah sakit lapangan, BNPB secara paralel akan mendukung penanganan terhadap infrastruktur RSUD Manggarai yang mengalami kerusakan akibat gempa. Langkah tersebut dilakukan agar fasilitas kesehatan dapat kembali berfungsi secara bertahap dan pelayanan kepada masyarakat dapat segera dipulihkan.
“Kita segera bangun dan akan terus berkoordinasi. Sesuai arahan Bapak Menko, kita juga akan memberikan dukungan lainnya, termasuk kebutuhan dasar bagi warga terdampak,” kata Suharyanto.
3. Update bencana gempa M 7,7 di NTT

Rumah warga di Bima yang mengalami kerusakan dampak gempa NTT, Sabtu (15/8/2026). (dok. BPBD NTB) Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat, terdapat 995 kali gempa susulan terjadi di wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT) usai diguncang gempa berkekuatan magnitudo 7,7 pada Sabtu (15/8/2026).
"Dari BMKG itu untuk gempa susulan hingga tanggal 16 Agustus pukul 15.00 WIB, total gempa susulan berjumlah 995 kali," kata Deputi Bidang Pencegahan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Abdul Muhari dalam konferensi pers, Minggu (16/8).
Kendati demikian, Muhari mengatakan gempa yang dirasakan oleh masyarakat hanya sebanyak 46 kali. Artinya, angka itutidak lebih dari 10 persen dari total gempa susulan tersebut.
"Yang perlu kita pahami, gempa susulan ini diperlukan oleh struktur patahan gempa yang terjadi untuk kembali menjadi stabil. Jadi ini adalah fenomena alam yang memang harus kita lalui dan kita harapkan energi yang lepas bisa segera meluruh sehingga gempa susulan tidak lagi signifikan dan tidak lagi dirasakan oleh masyarakat," kata dia.
Adapun, hingga Minggu (16/8) sore, korban meninggal dunia akibat gempa bumi yang mengguncang NTT kemarin, bertambah menjadi 53 orang. BNPB melaporkan korban luka akibat gempa yang dirawat di fasilitas kesehatan berjumlah total 135 jiwa. Selain itu, akibat guncangan gempa bumi berkekuatan 7,7 Magnitudo itu, ada 154 unit rumah rusak berat, 49 unit rusak sedang, dan 38 unit rusak ringan akibat gempa.
"Tentu saja data berkembang dinamis, dan akan melakukan percepatan dalam validasi data," ujar dia.



















