Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Israel Gempur Lebanon Selatan, 9 Orang Tewas Termasuk Anak-anak

Israel Gempur Lebanon Selatan, 9 Orang Tewas Termasuk Anak-anak
jet F-35I milik Israel. (commons.wikimedia.org/U.S Air Force)
  • Serangan udara Israel di Ansar dan Deir al-Zahrani, Lebanon selatan, menewaskan sembilan orang termasuk tiga anak, serta melukai sedikitnya 11 warga.
  • Israel menyebut serangan menargetkan infrastruktur Hizbullah sebagai balasan, sementara Perdana Menteri Lebanon Nawaf Salam mengecam korban sipil dan risiko eskalasi keamanan.
  • Gempuran terjadi di tengah gencatan senjata kerangka AS sejak 26 Juni; konflik sejak 2 Maret menewaskan lebih dari 4.300 orang dan mengungsikan lebih dari satu juta warga Lebanon.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Jakarta, IDN Times - Serangan udara Israel menewaskan sembilan orang, termasuk tiga anak-anak, di Lebanon selatan pada Sabtu (15/8/2026). Serangan ini menjadi yang paling mematikan sejak kesepakatan gencatan senjata tercapai pada Juni lalu. Korban jiwa dilaporkan berada di dua lokasi permukiman warga, yaitu Desa Ansar dan Deir al-Zahrani.

Selain merenggut korban jiwa, sedikitnya 11 orang lainnya mengalami luka-luka akibat gempuran tersebut. Tim penyelamat gabungan langsung diterjunkan ke lokasi kejadian untuk mengevakuasi korban dari puing-puing bangunan.

  1. 1. Israel serang berbagai titik pada Sabtu

    bendera Lebanon
    bendera Lebanon (unsplash.com/Charbel Karam)

    Gempuran pertama menghantam sebuah rumah warga di pinggiran Desa Ansar pada Sabtu dini hari. Kementerian Kesehatan Lebanon menyatakan bahwa tujuh orang tewas di lokasi ini, yang mencakup tiga anak-anak dan dua perempuan.

    Beberapa jam setelahnya, jet tempur Israel kembali menyerang sebuah rumah di Kota Deir al-Zahrani. Serangan kedua tersebut menewaskan dua orang dan melukai sembilan warga lainnya.

    Pesawat tempur Israel juga meluncurkan rentetan serangan udara ke kawasan perbukitan Ali al-Taher di dekat Nabatieh al-Fawqa. Lembaga Berita Nasional Lebanon (NNA) melaporkan bahwa gempuran ke lembah antara Ansar dan Zrariyeh menjadi serangan terjauh ke Lebanon selatan sejak kesepakatan damai disepakati.

    Di dekat perbatasan, tentara Israel meledakkan sejumlah rumah di Kota Bint Jbeil serta melepaskan tembakan senapan mesin berat ke arah permukiman. Rentetan serangan ini memicu kepanikan warga hingga memadati jalan menuju wilayah utara untuk menyelamatkan diri.

  2. 2. Israel klaim sasar Hizbullah, Lebanon kecam serangan ke warga sipil

    pasukan Israel di Sungai Litani, Lebanon
    pasukan Israel di Sungai Litani, Lebanon (wikimedia/ IDF Spokesperson's Unit)

    Militer Israel menyatakan serangan tersebut menargetkan infrastruktur milik kelompok Hizbullah di kawasan Nabatieh dan Ansar. Juru bicara militer Israel, Ella Waweya, berdalih tindakan itu dilakukan untuk membalas serangan Hizbullah terhadap tentara Israel di Bukit Ali al-Taher.

    Kawasan Bukit Ali al-Taher diklaim militer Israel sebagai lokasi pusat komando dan kendali bawah tanah milik Hizbullah. Pasukan Israel telah membombardir wilayah tersebut selama beberapa bulan terakhir.

    Perdana Menteri (PM) Lebanon, Nawaf Salam, mengecam serangan udara mematikan tersebut. Ia menegaskan bahwa eskalasi militer ini sangat berbahaya dan merusak upaya stabilitas keamanan di Lebanon selatan.

    "Tujuh korban tewas dalam serangan Israel di Kota Ansar yang bukan infrastruktur militer, serta anak-anak dan perempuan yang terbunuh bukanlah sasaran militer," kata Salam, dilansir The Guardian.

  3. 3. Kesepakatan gencatan senjata terancam

    pemimpin Hizbullah Naim Qassem
    pemimpin Hizbullah Naim Qassem (al-vefagh.com, CC BY 4.0 <https://creativecommons.org/licenses/by/4.0>, via Wikimedia Commons)

    Eskalasi terbaru terjadi di tengah kesepakatan kerangka kerja yang dimediasi oleh Amerika Serikat (AS) pada 26 Juni lalu. Perjanjian tersebut mengatur penarikan bertahap pasukan Israel dari wilayah pendudukan, pelucutan senjata Hizbullah, serta penempatan tentara Lebanon di perbatasan selatan.

    Penerapan kesepakatan damai ini menuai kritik karena tidak menyertakan jadwal penarikan pasukan Israel yang jelas. Pemimpin Hizbullah, Naim Qassem, menilai pemerintah Lebanon terlalu menekan angkatan bersenjata di saat serangan Israel masih terus berlangsung.

    "Bagaimana Anda bisa menerima penghinaan berkelanjutan terhadap tentara Lebanon ini, membiarkannya terkena pemboman dan tekanan Israel, alih-alih bertindak sebagai pelindungnya?" ujar Qassem, dikutip dari Al Jazeera.

    Konflik sejak 2 Maret lalu telah menewaskan lebih dari 4.300 orang dan melukai 12 ribu orang di Lebanon. Serangan berkepanjangan ini juga menyebabkan lebih dari satu juta warga mengungsi dan membuat sekitar enam persen wilayah Lebanon berada di bawah pendudukan Israel.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More