Perkuat Hubungan, China-Myanmar Teken 18 MoU Kerja Sama

- Xi Jinping dan Min Aung Hlaing bertemu di Beijing untuk memperkuat hubungan strategis China-Myanmar, menegaskan dukungan politik serta komitmen kerja sama di berbagai bidang penting kawasan.
- Kedua negara menandatangani 18 nota kesepahaman mencakup sektor transportasi, perdagangan, kesehatan, hingga media, sebagai langkah memperluas konektivitas ekonomi dan kolaborasi lintas batas.
- Myanmar tetap menjadi mitra utama bagi China dalam proyek Belt and Road Initiative dan kerja sama politik regional, meski situasi domestik Myanmar masih diliputi konflik berkepanjangan.
Jakarta, IDN Times - Presiden China Xi Jinping menerima Presiden Myanmar Min Aung Hlaing di Beijing, Selasa (16/6/2026), dalam pertemuan yang menandai penguatan hubungan kedua negara. Pertemuan ini berlangsung di tengah dinamika politik yang masih terjadi di Myanmar.
Dalam pertemuan tersebut, Xi secara terbuka menyampaikan dukungannya terhadap kepemimpinan Min Aung Hlaing dan menegaskan komitmen China untuk memperdalam kerja sama strategis dengan Myanmar di berbagai bidang.
Kunjungan ini menjadi lawatan pertama Min Aung Hlaing ke China sejak dia mengklaim kemenangan dalam pemilu kontroversial yang berlangsung pada Desember 2025 hingga Januari 2026. Kunjungan selama lima hari itu juga menjadi salah satu agenda diplomatik terpenting Myanmar tahun ini.
Sebelum pembicaraan dimulai, Pemerintah China menggelar upacara penyambutan kenegaraan di Balai Agung Rakyat atau Great Hall of the People. Kedua pemimpin kemudian menggelar pertemuan tertutup yang berlangsung kurang dari satu jam.
Pertemuan tersebut menghasilkan sejumlah kesepakatan kerja sama yang mencerminkan semakin eratnya hubungan Beijing dan Naypyidaw di tengah berbagai tantangan kawasan.
1. Xi dorong hubungan strategis yang lebih dalam

Xi Jinping menekankan pentingnya menjaga hubungan erat antara kedua negara yang selama ini memiliki kedekatan historis dan kepentingan strategis di kawasan.
Xi menyatakan kesiapannya untuk terus memperkuat peran kepemimpinan kedua negara dalam mengarahkan hubungan bilateral ke tingkat yang lebih tinggi.
“Saya bersedia untuk terus memperkuat kepemimpinan kami atas hubungan bilateral kedua negara, melanjutkan persahabatan persaudaraan antara kedua rakyat, serta memperdalam kerja sama strategis yang komprehensif,” kata Xi dikutip media pemerintah China, CCTV.
Selain menyoroti hubungan bilateral, Xi juga mengaitkan kerja sama kedua negara dengan upaya menjaga stabilitas kawasan.
Dia mengatakan, hubungan China dan Myanmar dapat memberikan kontribusi lebih besar terhadap perdamaian dan pembangunan regional di masa mendatang.
Pernyataan tersebut menunjukkan posisi Myanmar yang tetap dipandang penting oleh Beijing dalam berbagai agenda strategis kawasan, termasuk konektivitas ekonomi dan keamanan regional.
2. Teken 18 nota kesepahaman

Usai pertemuan, Xi Jinping dan Min Aung Hlaing menyaksikan penandatanganan sejumlah dokumen kerja sama antara kedua negara. Kantor berita Xinhua melaporkan, terdapat 18 nota kesepahaman yang ditandatangani.
Kerja sama itu mencakup berbagai sektor, mulai dari transportasi lintas batas, perdagangan bebas, bantuan penanggulangan bencana, kesehatan hingga media. Kesepakatan transportasi menjadi salah satu aspek penting karena berkaitan dengan konektivitas di kawasan Subwilayah Sungai Mekong atau Greater Mekong Subregion yang menghubungkan sejumlah negara Asia Tenggara dengan China.
Penandatanganan dokumen tersebut juga memperlihatkan upaya kedua negara untuk memperluas kerja sama ekonomi di tengah ketidakpastian global.
Meski rincian teknis dari masing-masing nota kesepahaman belum diumumkan secara rinci, kerja sama tersebut diperkirakan akan mendukung berbagai proyek lintas batas yang selama ini menjadi prioritas Beijing dan Naypyidaw.
3. Myanmar tetap jadi mitra penting Beijing

China selama ini menjadi salah satu mitra luar negeri terpenting bagi Myanmar, terutama sejak militer mengambil alih kekuasaan dari pemerintahan terpilih Aung San Suu Kyi pada Februari 2021.
Kudeta tersebut memicu konflik bersenjata berkepanjangan yang hingga kini masih berlangsung di sejumlah wilayah Myanmar. Di tengah situasi itu, Beijing tetap mempertahankan hubungan erat dengan pemerintahan militer Myanmar.
Kementerian Luar Negeri China sebelumnya menyatakan dukungannya terhadap upaya Myanmar untuk menyatukan kekuatan politik domestik dan memulihkan stabilitas nasional.
Selain hubungan politik, Myanmar juga memiliki posisi penting dalam proyek Belt and Road Initiative (BRI) yang digagas China. Salah satu proyek strategis yang telah berjalan adalah jaringan pipa minyak dan gas yang melintasi wilayah Myanmar.
Beijing juga terlibat dalam sejumlah rencana pembangunan infrastruktur besar lainnya, termasuk proyek pelabuhan laut dalam yang menjadi bagian dari koridor ekonomi China-Myanmar.
Pertemuan kali ini merupakan pertemuan kedua antara Xi Jinping dan Min Aung Hlaing dalam kurun waktu kurang dari satu tahun. Sebelumnya, keduanya bertemu saat Konferensi Tingkat Tinggi Organisasi Kerja Sama Shanghai (SCO) di Tianjin pada Agustus tahun lalu.
Sejumlah analis menilai intensitas pertemuan tersebut menunjukkan semakin eratnya hubungan Beijing dengan pemerintahan Min Aung Hlaing sekaligus memperlihatkan meningkatnya penerimaan internasional terhadap pemimpin Myanmar tersebut di tengah situasi politik yang masih menjadi sorotan dunia.

















