Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
[OPINI] Makan Bergizi Gratis atau Dana Pelajar: Mana yang Lebih Tepat?
Suasana program MBG di SMK Muhammadiyah 3 Yogyakarta. (Sumber: Dok. Pribadi)
  • Program Makan Bergizi Gratis dinilai sejalan dengan semangat keadilan sosial, namun belum tentu menjawab kebutuhan beragam pelajar di lapangan.
  • Penulis menyoroti risiko ketidaktepatan sasaran dan inefisiensi anggaran jika kebijakan diterapkan secara seragam tanpa pengelolaan yang matang.
  • Dana pelajar dianggap alternatif lebih fleksibel dan efisien karena dapat menyesuaikan bantuan dengan kondisi serta kebutuhan masing-masing pelajar.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Sebagai seorang mahasiswa, saya melihat bahwa kebijakan publik tidak cukup hanya didasarkan pada niat baik. Dalam konstitusi, negara tidak hanya dituntut untuk hadir, tetapi juga untuk tepat dalam memenuhi kebutuhan warganya. Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang diinisiasi oleh pemerintahan Prabowo Subianto pada dasarnya merupakan langkah yang menjanjikan. Secara konsep, program ini sejalan dengan semangat keadilan sosial dalam Pancasila, yaitu memastikan kesejahteraan masyarakat melalui pemenuhan gizi pelajar.

Namun, pertanyaannya adalah apakah seluruh pelajar benar-benar membutuhkan hal yang sama. Realitas di lapangan menunjukkan bahwa kebutuhan pelajar tidak selalu seragam. Sebagian pelajar mungkin membutuhkan asupan gizi tambahan, tetapi tidak sedikit yang justru menghadapi kendala lain. Biaya transportasi, perlengkapan sekolah, hingga akses terhadap sumber belajar sering kali menjadi kebutuhan yang lebih mendesak.

Dalam perspektif Pancasila, keadilan tidak selalu berarti kesamaan, melainkan kesesuaian dengan kondisi. Oleh karena itu, pendekatan kebijakan yang terlalu seragam berpotensi kurang tepat sasaran. Selain itu, pelaksanaan program berskala besar seperti MBG tidak lepas dari berbagai tantangan. Distribusi, kualitas makanan, serta pengawasan menjadi aspek penting yang harus diperhatikan agar program berjalan efektif.

Tanpa pengelolaan yang baik, program ini justru berisiko menimbulkan inefisiensi anggaran. Hal ini tentu bertentangan dengan prinsip efektivitas dalam pengelolaan keuangan negara. Sebagai alternatif, bantuan dalam bentuk dana pelajar dapat menjadi pilihan yang layak dipertimbangkan. Pendekatan ini memberikan fleksibilitas bagi pelajar untuk menentukan kebutuhan mereka sendiri sesuai kondisi masing-masing.

Selain lebih adaptif, dana pelajar juga berpotensi meningkatkan efisiensi dalam penyaluran bantuan. Kebijakan ini dapat menjangkau kebutuhan yang lebih beragam dibandingkan pendekatan yang bersifat seragam. Hal lain yang perlu diperhatikan adalah cakupan penerima manfaat. Program MBG saat ini masih berfokus pada siswa sekolah, sementara mahasiswa yang juga berada dalam proses pendidikan belum tersentuh secara langsung.

Bukan berarti program MBG tidak baik, tetapi kebijakan ini masih dapat dikembangkan agar lebih adaptif dan tepat sasaran. Pada akhirnya, kebijakan yang baik bukan hanya yang terlihat ideal, tetapi yang benar-benar memberikan dampak nyata bagi masyarakat.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team