Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Berbagai Catatan Tentang Peringatan Tahun Baru Imlek

Berbagai Catatan Tentang Peringatan Tahun Baru Imlek
Festival Imlek Nasional pada Minggu (22/2/2026) di Lapangan Banteng, Jakarta Pusat (IDN Times/Nisa Zarawaki)
Intinya Sih
  • Para tokoh menyoroti pentingnya menghidupkan kembali tradisi makan malam keluarga sebagai momen berbagi nilai dan mempererat hubungan di tengah tantangan era digital.
  • Perayaan Imlek 2026 menjadi refleksi kebinekaan Indonesia, menampilkan warisan budaya Tionghoa yang berbaur dengan lokalitas serta kisah pribadi tentang identitas dan toleransi etnis.
  • Artikel menutup dengan pesan lintas iman, menyerukan semangat persaudaraan dan penghormatan antaragama dalam suasana Imlek yang berdekatan dengan Ramadan dan masa puasa umat Kristiani.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Penulis opini adalah Guru Besar Ekonomi Emeritus, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia (FEBUI), Jakarta

Apa yang dapat saya simak mengenai komentar tentang peringatan Tahun Baru Imlek 2026 dari para tokoh ahli? Sebut saja Veronica Tan (Wamen PPPA yang juga Wakil Ketua Panitia Nasional Perayaan Imlek), Irene Umar (Wamen Ekonomi Kreatif), Azmi Abubakar (Ketua Perhimpunan Masyarakat Tionghoa Aceh), dan Monica Tanuhandaru (Ketua Yayasan Bamboo Foundation).

Dimulai dengan pernyataan pembuka dari Wamen PPPA yang menggambarkan bahwa di kebanyakan keluarga, makan malam bersama selalu merupakan forum di mana orang tua memberikan berbagai wejangan tentang nilai-nilai luhur kepada putra-putrinya. Sebaliknya, itu juga waktu bagi putra-putri menyampaikan pertanyaan atau usulan kepada orang tua mereka.

Suatu kebiasaan yang sangat bagus dan menjadi tradisi, yang dewasa ini serasa mulai ditinggalkan. Kita semua sering melihat pemandangan ini: waktu makan malam di restoran, di meja sebelah tampak suatu keluarga bahagia—bapak, ibu, dan dua putra-putrinya bersantap bersama. Namun, bukannya saling berbicara satu sama lain, mereka semua malah sibuk dengan HP masing-masing. Sibuk mengirim atau membaca pesan, dan tidak memperhatikan keluarga sendiri yang duduk di depan serta di sebelahnya.

Sangat disayangkan, bukan? Kesempatan emas untuk berdiskusi dalam keluarga diabaikan, diganti berkomunikasi dengan pihak lain melalui pesan WA. Ini adalah suatu tantangan bagi semua keluarga agar bisa menumbuhkan kembali kebiasaan lama; menggunakan waktu makan malam bersama sebagai ajang silaturahmi untuk lebih mempererat tali persaudaraan yang bermula dari hubungan darah.

Jejak sejarah dan nilai kebinekaan

Bapak Azmi Abubakar yang hobi mengumpulkan informasi sejarah, melihat bagaimana sejak mendarat di bumi Indonesia, orang-orang Tionghoa membawa kebiasaan dan adat mereka. Mereka memperkenalkan kepada penduduk setempat tentang pakaian yang dikenakan, makanan yang dinikmati, dan kebiasaan lain—seperti cerita tentang epos I La Galigo waktu menjemput seorang putri untuk dinikahkan dengan berlayar menggunakan perahu pinisi.

Lain halnya dengan Ketua Bamboo Foundation, Monica, yang menceritakan kedisiplinan ayahnya. Sang ayah adalah seorang prajurit yang tidak pernah mengeluh dalam menjalankan tugas seberat apa pun yang diemban, dan juga tidak pernah membanggakan diri setiap menolong orang lain karena itu merupakan kewajiban moralnya. Almarhum melaksanakannya secara diam-diam dan tidak menyombongkan jasa dirinya sendiri.

Semua ini adalah kenyataan kehidupan masa lalu yang secara intercultural (lintas budaya) perlu kita tularkan nilai-nilai luhurnya. Kita jalankan dan pupuk kebiasaan luhur itu agar tetap menjadi ciri khas bangsa Indonesia; suatu kebinnekaan dalam kesatuan satu bangsa. Indonesia adalah suatu melting pot, bahkan lebih dari Amerika.

Sangat menarik mendengarkan penjelasan para ahli ini. Seperti dari Pak Azmi Abubakar yang mengatakan bahwa Mie Aceh sebenarnya mendapat pengaruh dari Hokkien, begitu juga dengan berbagai macam sop dan soto yang berasal dari sana. Sangat menarik kita belajar semua ini baru sekarang pada waktu merayakan Imlek 2026 secara nasional. Tetapi kita ambil positifnya; lebih baik terlambat daripada sama sekali tidak menyadarinya.

Mengenang Pak Thee: Tragedi Ganti Nama

Saya mempunyai suatu catatan pribadi yang juga ingin saya bagi dengan sidang pembaca. Ini mengenai seorang teman baik saya di kala masih belajar di University of Wisconsin, Madison, di tahun 1964. Kami berdua menyewa apartemen bersama.

Almarhum kala itu sudah dalam tahap menulis tesis doktornya dalam bidang Economic History (Sejarah Ekonomi), sedangkan saya sedang mulai masuk program untuk Master Degree dalam Public Finance. Kami berdua juga bekerja pada Lembaga Ekonomi dan Kemasyarakatan Nasional, suatu lembaga penelitian di bawah naungan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LEKNAS-LIPI). Saya memang lebih muda dan baru masuk belakangan.

Saya dan teman-teman selalu memanggil almarhum dengan sebutan Pak Thee (Dr. Thee Kian Wie). Beliau adalah seorang yang senang berkelakar, selalu gembira, dan gampang bergaul. Tetapi pada suatu hari, tiba-tiba saja Pak Thee murung, ingin menyendiri, dan tidak kepengin bicara. Lain dari biasanya. Saya sebagai teman dekat menjadi khawatir mengenai apa yang sedang dideritanya.

Suatu sore, saya menanyakan hal ini kepadanya. Sambil hampir menangis, dia menceritakan bahwa orang tua dan saudara-saudaranya di Jakarta baru saja memutuskan mengganti nama keluarga mereka dengan nama Indonesia, seperti yang diinstruksikan Pemerintah Presiden Soeharto waktu itu. Celakanya, Pak Thee sama sekali tidak setuju, bahkan menentang keputusan tersebut, namun ia tidak mengerti bagaimana menyampaikan hal ini kepada keluarganya.

Di situ saya mencoba menunjukkan kepadanya bahwa saya adalah teman dekat yang sangat sependapat dengan beliau, dan karena itu saya mendukung keputusannya. Saya mengatakan bahwa menjadi etnis Tionghoa bukanlah pilihan Pak Thee sendiri, tetapi mengenai nama tentu beliau mempunyai preferensi yang tidak bisa diganggu gugat. Itu hak asasi manusia, kata saya.

Saya tegaskan di dalam hati Pak Thee; Anda orang Indonesia yang minimal setara dengan saya. Meskipun etnis kita berbeda—saya orang Jawa dan Pak Thee orang Tionghoa—keduanya tidak pilih-pilih. Saya meyakinkannya semalaman. Puji Tuhan, akhirnya Pak Thee percaya bahwa saya genuine (tulus) dalam mengutarakan pendapat saya dan dia mulai tersenyum kembali.

Sebelum tidur yang waktu itu sudah jam 3 pagi, dia mengucapkan terima kasih kepada saya dan mengatakan paginya akan menulis surat kepada orang tua dan saudara-saudaranya tentang keputusan ini. Saya sangat senang dan bisa tidur nyenyak setelah itu. Sedih juga menyadari bahwa keputusan yang kurang matang tentang pergantian nama tersebut telah melukai hati banyak orang seperti teman baik saya, Dr. Thee Kian Wie; seorang ahli sejarah ekonomi yang tiada duanya, terus terang.

Tetapi bagaimanapun, all's well that ends well (semuanya baik jika berakhir dengan baik). So, rest in peace my friend, Pak Thee.

Refleksi lintas iman di tahun 2026

Tahun ini, perayaan Imlek sangat berdekatan dengan dimulainya bulan suci Ramadan di mana saudara-saudari kita pemeluk agama Islam melaksanakan puasa dan beramal. Dan buat umat Kristiani seperti saya yang beragama Katolik, kami juga memulai puasa dan pantang—yang tidak se-rigid aturan Islam—untuk mempersiapkan diri mengikuti karya penebusan Sang Kristus. Karena kasih-Nya kepada umat manusia yang berdosa, Ia menjadi manusia, menjalani hukuman mati dengan disalibkan secara hina, untuk bangkit kembali di hari Paskah membebaskan dosa umat manusia yang telah menyesali perbuatannya.

Inilah kehebatan toleransi yang sedang kita alami bersama. Maka, mari kita yang menjunjung tinggi Pancasila, meneguhkan iman kita masing-masing demi mempererat tali persaudaraan. Meskipun kita berbeda dalam iman, kita satu dalam hati yang percaya kepada Tuhan Yang Maha Esa. Amin.

(Dradjad, 04/03/2026)

Catatan Tambahan: Satu hal yang semua sepakat adalah bahwa acara yang digelar dalam perayaan nasional Tahun Baru Imlek kali ini sangat bagus dan berkesan buat semua yang menyaksikan, baik secara langsung maupun melalui tayangan YouTube. Selamat, Bu Irene dan Bu Veronica.

Share
Topics
Editorial Team
Yogie Fadila
EditorYogie Fadila
Follow Us

Latest in Opinion

See More
Benarkah Kuliah Itu Scam?

Benarkah Kuliah Itu Scam?

20 Jan 2026, 12:41 WIBOpinion