[OPINI] Beriman Tanpa Marah, Bertoleransi Tanpa Syarat
![[OPINI] Beriman Tanpa Marah, Bertoleransi Tanpa Syarat](https://image.idntimes.com/post/20260409/pexels-usman-hadi-wijaya-2158214120-35422495_d42c916b-ae8a-4169-a41e-329f8e376c76.jpg)
- Artikel menegaskan bahwa esensi agama sejati terletak pada penghormatan terhadap perbedaan, bukan sekadar ritual atau dogma, terutama dalam konteks masyarakat plural seperti Indonesia.
- Data Setara Institute menunjukkan masih maraknya intoleransi berbasis agama meski jumlah kasus menurun, dengan contoh nyata kekerasan di Padang yang melibatkan pembubaran kegiatan keagamaan anak-anak.
- Tulisan menyerukan perubahan paradigma iman melalui pendidikan dan dialog lintas agama agar toleransi tanpa syarat menjadi wujud nyata dari kedewasaan spiritual dan sumber perdamaian sosial.
“Toleration is the chief characteristic of true religion,” tulis John Locke dalam A Letter Concerning Toleration. Pernyataan ini menegaskan bahwa penerimaan terhadap perbedaan keyakinan adalah esensi dari agama itu sendiri. Keberagamaan autentik tidak hanya terletak pada ritual dan dogma, tetapi pada penghormatan terhadap perbedaan. Dalam konteks masyarakat plural seperti Indonesia, toleransi seharusnya tidak hanya diposisikan sebagai nilai tambahan atau pilihan moral belaka, melainkan sebagai inti dari pemahaman dan pengalaman iman yang sejati.
Namun, realitas menunjukkan sebaliknya. Dilansir news.detik.com yang bersumber dari setara-institute.org, mencatat adanya 331 tindakan dari 221 peristiwa kekerasan berbasis agama sepanjang tahun 2025, menurun dari 402 tindakan dalam 260 peristiwa pada tahun 2024. Peneliti Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan Setara Institute, Harkirtan Kaur, menegaskan bahwa penurunan ini bukanlah sinyal positif karena muncul pola-pola baru intoleransi di tahun 2025. Fakta ini memperlihatkan bahwa intoleransi tetap menjadi persoalan serius yang berulang dan membutuhkan penanganan mendalam, bukan sekadar dilihat sebagai angka statistik.
Wajah konkret dari persoalan ini terlihat dalam peristiwa pembubaran paksa kegiatan pendidikan agama Kristen di sebuah rumah doa di Kelurahan Padang Sarai, Kota Padang, pada Minggu (27/07). Dilansir bbc.com, sekelompok massa yang membawa balok kayu dan batu secara tiba-tiba merangsek masuk serta merusak berbagai fasilitas bangunan hingga menyebabkan puluhan anak yang sedang belajar menjadi histeris. Akibat aksi anarkis tersebut, dua orang anak dilaporkan mengalami luka-luka akibat kekerasan. Peristiwa ini memperlihatkan bagaimana intoleransi tidak hanya hadir dalam wacana, tetapi juga menjelma menjadi tindakan kekerasan yang nyata.
Data dan peristiwa tersebut menunjukkan bahwa intoleransi bukanlah kejadian sekali dua. Intoleransi merupakan persoalan yang berulang dan mengakar. Oleh karena itu, intoleransi ini tidak bisa diselesaikan secara cepat dan sederhana. Ketika intoleransi bahkan sudah menjelma menjadi kekerasan, kita bukan lagi bertanya apakah intoleransi itu ada, melainkan mengapa ia terus terjadi.
Penting untuk memahami bahwa kemarahan yang muncul atas nama iman sering kali berakar dari rasa takut dan kecemasan yang berlebihan terhadap adanya perbedaan. Dalam kondisi ini, seseorang atau kelompok cenderung bereaksi negatif dan agresif ketika merasa keyakinannya terancam atau diserang. Reaksi yang pertama kali muncul bukanlah refleksi spiritual yang dewasa, melainkan respons defensif yang bersifat sosial. Agama pun tak jarang dijadikan alat legitimasi bagi kelompok tertentu, alih-alih difungsikan sebagai sumber etika universal yang mendorong kasih dan perdamaian.
Untuk membangun masyarakat yang toleran, kita harus mengubah cara pandang terhadap keimanan dan perbedaan. Iman bukan hanya sekadar pengakuan atas kebenaran doktrin, tetapi juga sebagai kesadaran akan keterhubungan antarsesama. Iman yang dewasa tidak perlu merasa takut atau terancam oleh keberagaman, karena dari kedewasaan iman justru lahir sikap rendah hati dan keterbukaan. Keyakinan yang kuat pada kebenaran yang diyakini tidak seharusnya membuat seseorang untuk menolak atau melawan mereka yang memiliki keyakinan berbeda.
Perubahan ini perlu diwujudkan melalui langkah konkret, terutama dalam pendidikan agama. Kurikulum tidak boleh hanya menekankan pemurnian ajaran, tetapi juga harus mengembangkan sikap dialogis antar agama. Hal ini dapat dilakukan dengan mengenalkan tradisi keagamaan lain secara proporsional, mendorong diskusi lintas iman, serta menumbuhkan sikap inklusif. Selain itu, ruang interaksi sosial antar kelompok berbeda perlu diperluas agar tercipta pengalaman langsung dalam membangun empati dan saling pengertian.
Pada akhirnya, agama perlu dikembalikan pada fungsi dasarnya sebagai sumber etika yang menumbuhkan perdamaian. Jika agama terus dijadikan identitas eksklusif yang menolak keberadaan keyakinan lain, maka nilai-nilai universal seperti keadilan dan belas kasih akan terkikis. Beriman tidak harus disertai dengan kemarahan dan toleransi tidak seharusnya bersyarat. Toleransi tanpa syarat merupakan manifestasi dari iman yang dewasa dan spiritualitas yang didasari oleh kasih, bukan oleh ketakutan. Dalam masyarakat plural seperti Indonesia, keberagamaan yang inklusif dan penuh empati bukan hanya sekadar ideal, tetapi kebutuhan moral yang mendesak.
![[OPINI] Lelaki Harimau: Amis Darah di Balik Estetika Prosa Eka Kurniawan](https://image.idntimes.com/post/20260404/lelaki-harimau-eka-kurniawan_36a7cbd9-63a8-49da-aec5-8c89cc8bb3f6.jpg)
![[OPINI] Makan Bergizi Gratis atau Dana Pelajar: Mana yang Lebih Tepat?](https://image.idntimes.com/post/20260408/whatsapp-image-2026-04-08-at-09_69421cbe-6c1d-42aa-97c8-168df448bd22.jpeg)
![[OPINI] Analisis Kebijakan Pertahanan Indonesia dari Ancaman Maritim](https://image.idntimes.com/post/20260327/kri-brawijaya-320_d852154c-499d-4476-afaf-cb45bef97181.jpg)



![[OPINI] Kenapa Tulisan yang Ditulis Sendiri Sering Dibilang Buatan AI?](https://image.idntimes.com/post/20260123/alasan-gak-semua-hal-layak-ditulis-menulis-berlebihan_d71a7bb9-f249-48fb-be75-26f38e13ac2f.jpeg)

![[OPINI] Relasi Epstein-Chomsky, dan Integritas Intelektual Kiri](https://image.idntimes.com/post/20260204/efta00003652-0_3909c293-079d-4870-ba54-8c60af9ef07b.jpg)






![[OPINI] Berhenti Berlindung di Balik Kalimat “Aku Orangnya Emang Begini”](https://image.idntimes.com/post/20251018/pexels-kampus-7555858_e0f0519c-fde0-4ab4-8965-0e12dabbd0b7.jpg)
![[OPINI] Peran Perempuan dalam Wujudkan Harmoni Sosial dan Lingkungan](https://image.idntimes.com/post/20250802/pexels-julia-m-cameron-8841582_4f4cbb51-bd42-46f6-ba78-fa42532e55a6.jpg)