โLah, kalau pemerintah sudah tidak memberi jalan, apalagi kita tidak punya orang dalam di pemerintahan, kita ngemis kepada siapa lagi.โ
[OPINI] Refleksi: Obrolan-obrolan yang Menduakan Tuhan
![[OPINI] Refleksi: Obrolan-obrolan yang Menduakan Tuhan](https://image.idntimes.com/post/20181105/photo-1482356432770-3a99f07aba35-4-f04b47e104d572dcaf448bfe9c9c6a89.jpg)
OBROLAN-OBROLAN YANG MENDUAKAN TUHAN
Obrolan pagi hari diamperan rumah Hartono amat serius rupanya, mestinya obrolan seserius itu tidak cocok dilakukan pagi hari. Alasan pertama, pagi hari merupaka suasana sejuk dimana semua yang dilihat dan semua yang didengar mempengaruhi kehidupan selama satu hari bahkan hari berikutnya. Alasan kedua, obrolan semacam itu membuat suguhan semacam kopi dengan gorengan menjadi tidak berselera lagi untuk dinikmati.
Hartono pagi itu menerima kedatangan kerabat-kerabatnya dari luar kota, kebiasaan silaturrahmi sudah menjadi kewajiban dilingkungan keluarga Hartono, dan kegiatan pagi hari dengan cangkruan ditemani kopi dan gorengan merupakan kegiatan wajib kegiatan silaturrahmi. Obrolan dilakukan oleh dua orang, dengan satu orang lebih tua dan lawan bicaranya merupakan pemuda paruh baya, karena begitu serius nampaknya obrolan mereka, membuat Hartono penasaran, alasan menumpang dan minta gorengan lengkap dengan segelas kopi panas, akhirnya Hartono berhasil duduk disamping dua orang yang sedang asyiknya mengobrol.
โMbah, masih aktif mengelola klub Volli di desa?โ pemuda paruh baya memulai pembicaraan.
โAlhamdulillah masih, bahkan bertambah sukses sekarang.โ
โWah wah, enak dong mbah.โ
โKlub vollimu apa kabar disini?โ
โKering mbah, mandek, mainnya musimanโ
โMaksudmu?โ
โYa kering Mmbah, tidak punya dana, kita gaji pemain pakek apa?โ
โLah, pemerintah disini gimana? Sudah coba minta bantuan?โ
โBoro-boro mbah, minta bantuan tak sekalipun diresponโ
โWaduh bahaya, harus punya orang dalam dipemerintahan biar gampang dapat bantuan, ini kan kegiatan positiv, jelas itu ย sudah jadi hak kita, kalau tidak begitu, kita ngemis kepada siapa lagi coba?"โ
Iya juga ya mbah, bener bangetโ pemuda paruh baya kemudian mengangguk penuh keyakianan.
Obrolan dan beberapa tanggapan didalamnya nampaknya biasa saja bukan? Dan lumrah kita dengar. Mari sadar bersama, bukan hanya dari segi agama, dari segi sosialpun obrolan semacam itu amatlah berbahaya. Apalagi terjadi dilingkungan pedesaan, sedangkan beberapa mayoritas masyarakat pedesaan masih gampang diprovokasi dalam hal-hal yang umumnya berkaitan dengan masalah pemerintahan.
Latar belakang masyarakat pedesaan merupakan sebuah sekumpulan orang yang fanatik dengan apa yang baru mereka dapat maupun yang sudah mereka jalani. Fanatisme dalam masyarakat bisa dilihat dari bagaimana cara mereka beragama, cara mereka beragama tentunya sangat tidak mudah dipengaruhi. Namun, hal baru semacam kebiakan publik yang dilakukan pemerintah umumnya sangat rentan untuk berubah dan dipermainkan. Masyarakat pedesaan mungkin akan fanatik dengan keputusan A apabila keputuan tersebut sudah menjadi keputusan bersama dan disetujui oleh masyarakat lain. Maka dari itu keputusan yang benar dan memang sangat benarlah yang harusnya sampai dianggapan orang perdesaan.
Kutipan percakapan keluarga Hartono diatas tentunya tidak sehat bila berlarut-larut tumbuh serta mengakar dibenak orang pedesaan. Obrolan semacam ini misalnya โWaduh bahaya, harus punya orang dalam dipemerintahan biar gampang dapat bantuan, ini kan kegiatan positif, jelas ituย sudah jadi hak kita, kalau tidak begitu, kita ngemis kepada siapa lagi cobaโ.ย
Masalah dana semacam ini saja mengeluh ke pemerintah, bagaimana nasib Tuhan yang memang hakikatnya mereka mintai bantuan? Apa tidak mereka sadari, kalau mereka sudah menduakan Tuhan? Sungguh ironi kehidupan masyarakat yang ingin memperjuangkan hak-haknya tapi lalai pada Tuhannya.
![[OPINI] Jurang Sosial Media dalam Konten Politik di Indonesia](https://image.idntimes.com/post/20181017/adult-beautiful-blur-935756-21967e0b287e9ab95b91d394e4f5f2fc.jpg)


![[OPINI] Lagu Baru KATSEYE dan Kembalinya Male Gaze ke Ranah Arus Utama](https://image.idntimes.com/post/20260818/snapinsta_4e7bd0dd-1e56-40b2-88d1-7ce6112c04d9.jpg)






![[OPINI] Apakah Worth it Menjadi Guru Honorer Sebagai Lompatan Karier?](https://image.idntimes.com/post/20260208/mufid-majnun-catdhwuk3qc-unsplash_cf704924-3f7c-49a0-b3a5-ed38ff9d6d85.jpg)
![[OPINI] KDMP dan Dilema Negara Hukum: Haruskah Kecepatan Mengalahkan Kajian?](https://image.idntimes.com/post/20260731/1000610924_78370192-faf2-4ae9-a6ff-2df50986b9b9.jpg)
![[OPINI] Mengapa Sebatang Rokok Tak Akan Pernah Musnah dari Bumi?](https://image.idntimes.com/post/20260807/pexels-maltelu-1799989_81695f3d-193a-4c6d-963e-0bcd5666e211.jpg)
![[OPINI] Film Horor Lebih Memahami Perempuan ketimbang Film Romantis](https://image.idntimes.com/post/20260715/may-1200-1200-675-675-crop-000000_961e7f56-41fb-49a5-8fe2-8ef225507140.jpg)

![[OPINI] MPLS Harus Menjadi Ruang Perkenalan, Bukan Warisan Senioritas](https://image.idntimes.com/post/20260718/tahun-ajrann-baru-sd_0d86d9ef-d641-42e5-ab8a-64618de68f63.jpeg)
![[OPINI] Mengapa Aku Harus Memenuhi Standar Kecantikan Orang Lain?](https://image.idntimes.com/post/20260706/pexels-kalz-michael-1277172-4526452_d90a5d7a-589f-4ee8-a735-c93767e77cfa.jpg)



