Poor Things (dok. Searchlight Pictures/Poor Things)
Masalah pertama dari film-film feminis buatan sutradara pria adalah keberadaan male gaze, yakni gambaran tokoh perempuan yang berbasis fantasi atau persepsi pria heteroseksual. Film feminis bukan hanya soal keberadaan protagonis perempuan, tetapi juga cara pengalaman dan karakter mereka dipotret. Kerap kali, sutradara pria gagal melakukannya dengan akurat.
Dalam Poor Things (2023), misalnya, feminisme dipotret lewat liberasi seksual si protagonis perempuan, Bella. Sebenarnya emansipasi dan otonomi seksual memang bagian dari feminisme, tetapi yang jadi masalah adalah cara Lanthimos memotret itu lewat lensa kameranya. Liberasi Bella kebanyakan hanya ditunjukkan lewat adegan eksplisit berulang kali dengan angle kamera yang tampak jelas memakai formula male gaze.
Hal serupa bisa kamu amati dalam Anora (2024) yang juga dikritik karena adegan seks yang seolah sengaja disertakan untuk memikat penonton pria heteroseksual. Apalagi, pada akhirnya Anora juga diselamatkan oleh karakter pria lain, yang artinya film itu masih menggunakan pakem-pakem standar patriarki.
Ini bukan fenomena baru. Kita bisa mengamatinya lewat film-film keluaran lama seperti Dressed to Kill (Brian de Palma), Blue is the Warmest Colour (Abdellatif Kechiche), dan Kill Bill (Quentin Tarantino). Ketiganya memecah penonton, tetapi untuk peminat studi feminisme, mereka jelas gagal menghadirkan kritik murni terhadap patriarki. Justru sebaliknya, mereka melanggengkan arketipe male gaze dengan beragam cara.
Dressed to Kill (1980) menggambarkan perempuan lewat fantasi pria heteroseksual yang destruktif dan membahayakan. Blue is the Warmest Colour (2013) menyertakan adegan intim pasangan lesbian dengan durasi tak masuk akal. Bahkan dua aktrisnya, Adèle Exarchopoulos dan Léa Seydoux, mengaku ogah bekerja sama lagi dengan si sutradara karena merasa dieksploitasi.
Lantas, apakah male gaze bisa dihindari dengan sekadar menyisihkan adegan eksplisit? Jawabannya tidak semudah itu. Kill Bill (2003), misalnya, dikritik karena plotnya masih male-centered dan penggambaran Beatrix masih mengamini fantasi pria, yakni perempuan kuat yang berpenampilan menarik bak bidadari. Di sisi lain, Working Girls (1986) buatan Lizzie Borden, Fat Girl (2001) karya Catherine Breillat, atau The Substance (2024) garapan Carolie Fargeat yang menyertakan adegan telanjang (nudity) tidak dianggap sebagai eksploitasi. Mengapa? Ini tentang konteks dan teknik peletakan kamera. Kita tidak akan melihat adegan itu seperti sebuah kesengajaan untuk memicu hawa nafsu. Sebaliknya, adegan tersebut cukup membuat penonton tak nyaman.