Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

4 Fakta Paok Halmahera, Burung Cantik Endemik Maluku Utara

burung paok halmahera yang memiliki nama latin Pitta maxima merupakan burung endemik Maluku Utara
burung paok halmahera yang memiliki nama latin Pitta maxima merupakan burung endemik Maluku Utara (commons.wikimedia.org/JJ Harrison)
Intinya sih...
  • Burung paok halmahera adalah spesies burung kicau endemik Maluku Utara
  • Terdiri atas 2 subspesies dan memiliki suara kicauan yang lantang
  • Memiliki perilaku kawin monogami, pola makan memangsa cacing tanah dan ulat
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

The Ivory-breasted pitta atau yang lebih dikenal dengan nama burung paok halmahera adalah spesies burung kicau yang berukuran agak besar, berekor pendek dan berkaki jenjang. Burung yang memiliki warna cantik ini memiliki nama ilmiah Pitta maxima yang merupakan spesies burung anggota dari family burung berkicau Pittidae. Terdapat 44 spesies burung dalam family Pittidae tersebut yang memiliki kemiripan dalam tampilan dan kebiasaan umum.

Burung paok halmahera merupakan burung endemik wilayah Maluku utara, Indonesia yang artinya secara alami hanya ditemukan di Kepulauan Maluku Utara yang meliputi: Pulau Halmahera, Bacan, Morotai dan Kasiruta. Sebagaimana diinformasikan dalam laman resmi Kementrian Kehutanan dan Direktorat Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE), burung paok halmahera adalah termasuk satwa yang dilindungi sehingga perburuan, memelihara dan memperdagangkannya adalah ilegal dan merupakan pelanggaran hukum.

Ingin tahu lebih lanjut mengenai burung cantik yang dijuluki "permatanya" hutan Maluku utara ini ? Simak empat fakta menariknya berikut ini, yuk!

1. Diidentifikasi pada tahun 1845

Menurut laman Datazone-Birdlife, nama ilmiah Pitta maxima, diciptakan oleh naturalis Jerman Salomon Muller dan ahli ornitologi Belanda, Herman Schlegel pada tahun 1845 berdasarkan spesimen yang dikumpulkan selama eksplorasi yang dilakukan di Kepulauan Indonesia. Julukan spesifik maxima yang mengikuti setelah nama genusnya (dari Pitta Maxima), diambil dari bahasa latin yang berarti "terbesar". Penelitian menunjukkan bahwa burung paok halmahera ini merupakan spesies terbesar dalam family Pittidae bahkan ukurannya lebih besar dari spesies paok besar biru (Hydrornis caeruleus).

Secara fisik, burung paok halmahera memiliki panjang antara 25 hingga 28 cm dengan rentang berat badan antara 166 hingga 206 g. Kepala, bagian atas tubuh dan ekor berwarna hitam mengkilap yang kontras dengan bagian bawah tubuh yang berwarna putih seperti gading sehingga burung ini mendapat julukan nama The Ivory-breasted pitta. Sayapnya terkenal dengan bercak berwarna biru dan hijau mengkilap. Tak ada perbedaan warna bulu antara burung jantan dan betinyanya. Warna indah burung paok halmahera mudah diidentifikasi secara visual.

2. Terdiri atas 2 subspesies

potret burung paok halmahera di lantai hutan
potret burung paok halmahera di lantai hutan (inaturalist.org/Stephen John Davies)

Dilansir laman Bird Forum, burung paok halmahera memiliki 2 subspesies yang diakui. Subspesies yang pertama adalah Pitta maxima maxima yang individu spesiesnya dapat ditemukan di Pulau Halmahera, Pulau Bacan, Pulau Kasiruta dan kemungkinan juga dapat dijumpai di Pulau Obi dan Mandioli. Subspesies yang kedua adalah Pitta maxima morotaiensis yang individu spesiesnya dapat dijumpai di Pulau Morotai. Burung paok halmahera tidak bermigrasi dan sepenuhnya menetap di wilayah sebarannya.

Habitat burung paok halmahera ini adalah hutan dataran rendah namun sarangnya dapat pula ditemukan di daerah berbatu kapur dan di perkebunan yang dipenuhi pohon kelapa yang menunjukkan kemampuan adaptasinya terhadap perubahan lanskap vegetasi. Sarangnya dapat ditemui pada ketinggian 650 mdpl di Pulau Halmahera, 500 mdpl di Pulau Kasiruta dan 800 mdpl di Pulau Morotai. Pulau Halmahera menampung sebaran populasi terbesarnya sedangkan sebaran di pulau-pulau yang lebih kecil terfragmentasi karena keterbatasan wilayah yang tersedia.

3. Memiliki suara kicauan yang lantang

potret spesimen burung paok halmahera yang diawetkan
potret spesimen burung paok halmahera yang diawetkan (commons.wikimedia.org/Naturalis Biodiversity Center)

Paok halmahera memiliki kicauan yang lantang, dilansir laman Birds of The World, burung paok halmahera lebih sering berkicau di pepohonan yang tinggi dibandingkan dengan kebanyakan spesies burung pitta lainnya, kicauannya lantang dan keras serta terdengar dari jauh. Kicauannya berbunyi seperti ""wok-whoou," yang cukup sering menembus lebatnya hutan terutama di daerah dengan lapisan batuan kapur di bawahnya.

Sejumlah sumber informasi menuliskan, selain kicauan utamanya, spesies ini juga menghasilkan kicauan yang lebih pendek dan seringkali berasal dari individu tunggal atau pasangan yang bergerak melalui semak belukar. Kicauan pendek tersebut juga merupakan penanda kemarahan terutama saat mempertahankan wilayah teritorialnya.

4. Perilaku kawin dan pola makan

potret monograf burung paok halmahera (pitta maxima) dari abad ke-19 oleh John Gould, seorang ahli ornithology berkebangsaan Inggris
potret monograf burung paok halmahera (pitta maxima) dari abad ke-19 oleh John Gould, seorang ahli ornithology berkebangsaan Inggris (commons.wikimedia.org/John Gould)

Meskipun catatan pengamatan detail untuk perilaku kawin burung paok halmahera ini masih tergolong sedikit namun diketahui sama seperti kebanyakan burung dari family pittidae, burung paok halmahera ini memiliki sifat monogami yang dipertahankan melalui perilaku teritorial. Menurut laman Bird Forum, di daerah tropis seperti kepulauan Indonesia, musim kawin untuk burung paok halmahera ini mungkin terjadi sepanjang tahun. Sarangnya berbentuk kubah yang terbuat dari ranting, daun kering serta akar-akar halus yang diletakkan di antara akar penopang pohon besar. Jumlah telur dalam satu sarang sekitar 3 buah dengan perkiraan masa pengeraman antara 14 hingga 18 hari sampai menetas.

Berdasarkan sejumlah pengamatan, pola makan burung paok halmahera sebagian besar memangsa cacing tanah dan ulat, buah-buahan jarang dimakan atau bahkan tak dimakan sama sekali. Untuk status konservasinya berdasarkan informasi dalam laman IUCN (International Union for Conservation of Nature), status konservasi untuk burung paok halmahera ini adalah Least Concern yang artinya spesies yang tak terancam punah meskipun ada kemungkinan penurunan populasinya di masa depan akibat kerusakan hutan yang menjadi habitatnya.

Semoga informasi ini dapat menambah wawasan kamu mengenai salah satu spesies burung cantik endemik wilayah Kepulauan Maluku, Indonesia, ya!

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Ane Hukrisna
EditorAne Hukrisna
Follow Us

Latest in Science

See More

5 Fakta Iceland Gull, Spesies Camar Penghuni Perairan Ekstrem Arktik!

02 Feb 2026, 18:49 WIBScience