4 Fakta Paok Pancawarna, Burung Hutan Cantik Endemik Jawa dan Bali

- Burung paok pancawarna adalah spesies endemik Pulau Jawa dan Bali
- Pejantannya memiliki warna yang lebih cemerlang, kicauan monoton, dan sering terlihat dalam perdagangan burung ilegal
- Burung ini memangsa serangga, memiliki perilaku kawin unik, dan dilindungi oleh pemerintah Indonesia
Burung javan banded pitta atau yang lebih dikenal dengan nama burung paok pancawarna adalah spesies burung cantik anggota family Pittidae yang merupakan keluarga burung berkicau (passerine birds). Burung yang memiliki nama latin Hydrornis guajanus ini merupakan spesies endemik Pulau Jawa dan Bali yang artinya secara alami hanya ditemukan di kedua pulau tersebut.
Burung paok pancawarna berhabitat di hutan primer dan hutan sekunder di Pulau Jawa dan Pulau Bali bagian barat. Burung yang memiliki julukan "jewels of the forest" ini memiliki sifat pemalu dan bersembunyi dalam lebatnya hutan. Suaranya lebih sering terdengar daripada penampakan visual fisiknya sehingga membuat setiap penampakannya menjadi pengalaman yang "mahal dan menyenangkan" bagi para pengamat burung atau birdwatcher di alam liar.
Ingin tahu lebih lanjut tentang burung yang dikenal dengan kecantikan warnanya ini? Simak empat fakta menariknya berikut ini, yuk!
1. Pejantannya memiliki warna yang lebih cemerlang

Burung paok pancawarna merupakan burung dengan ukuran panjang tubuh berkisar antara 20 cm hingga 23 cm dengan berat berkisar antara 93 hingga 106 gram. Menurut laman Birding Direct, burung paok pancawarna yang memiliki corak warna yang indah ini akan memanjakan mata para pengamat burung di alam kiar yang beruntung dapat melihat kehadirannya secara langsung di batang pohon, lantai hutan atau pun di tengah semak belukar yang hijau. Sesuai namanya, paok pancawarna, burung ini memiliki kombinasi 5 warna, yaitu: hitam, kuning, biru, merah dan coklat.
Secara visual pejantannya memiliki warna yang lebih cemerlang dibandingkan dengan betinanya. Pada bagian kepalanya terdapat warna hitam dengan alis lebar berwarna kuning mencolok (khas pejantan). Bagian punggung dan sayap berwarna coklat serta terdapat garis putih pada sayap. Dagu berwarna terang dengan bagian leher sedikit biru. Ekor berwarna biru dengan pangkal ekornya berwarna merah. Burung betinanya memiliki warna yang lebih lembut dan memiliki daya tarik tersendiri dengan warna coklat hangat yang dilapisi garis-garis indah.
2. Memiliki kicauan yang monoton
Meskipun berasal dari keluarga burung berkicau namun tak seperti kicauan spesies burung jalak yang bervariasi, kicauan burung paok pancawarna ini tak bervariasi dan monoton. Sejumlah sumber informasi menuliskan bahwa kicauan burung paok pancawarna ini pendek dan keras, dengan bunyi seperti" POUW" yang diulang-ulang setiap beberapa detik sekali. Karena kicauannya yang monoton tersebut ada anggapan bahwa spesies burung tersebut tak diminati dalam perdagangan di pasar burung.
Namun anggapan tersebut tak sepenuhnya benar, sebagaimana dilaporkan oleh laman National Geographic, dalam artikelnya yang berjudul "Even This Incredibly Elusive Bird Isn't Safe from Traffickers", terdapat fakta bahwa, para peneliti menemukan sejumlah spesies burung paok di 7 dari 8 pasar burung yang mereka kunjungi di Jawa pada periode tahun 2014 hingga 2015 silam. Dalam pengamatan tersebut, burung paok pancawarna adalah spesies yang paling sering terlihat dalam perdagangan burung tersebut. Ini membuktikan bahwa burung paok pancawarna ditangkap dari alam dan dijual secara ilegal sejak kurun waktu yang lama kepada para konsumen yang tertarik karena kecantikan warnanya.
3. Memangsa serangga dan memiliki perilaku kawin yang unik

Sejumlah sumber informasi menuliskan bahwa burung paok pancawarna ini diketahui memiliki habitat di hutan primer dan sekunder hingga ketinggian 1.500 mdpl. Mereka bersarang di atas pohon yang tidak terlalu tinggi dari permukaan tanah. Habitat hutan yang rimbun tersebut menyediakan lingkungan yang ideal bagi burung tersebut utamanya menyediakan serangga seperti kumbang dan semut yang melimpah untuk makanan utamanya. Sejumlah laporan ilmiah juga menyebutkan selain serangga, burung ini juga memangsa siput dan cacing dari lantai hutan.
Burung paok pancawarna ini juga memiliki perilaku kawin yang unik. Dilansir laman My Bird Buddy, selama musim kawin, pejantan akan merayu pasangannya dengan tarian rumit dengan cara memamerkan bulu-bulu indah mereka yang berwarna cerah. Umumnya burung-burung ini menunjukkan pola perkembangbiakan monogami, membentuk ikatan pasangan yang kuat serta dapat bertahan hingga beberapa musim kawin. Selama musim kawin, burung betina bertelur 2 hingga 4 butir dengan masa pengeraman berlangsung sekitar 18 hari. Setelah menetas induk betina dan jantan secara aktif memberi makan anak-anaknya. Anak-anak burung tersebut akan terbang dalam waktu 14 hingga 17 hari sejak menetas.
4. Satwa yang dilindungi pemerintah

Burung paok pancawarna ini adalah satwa Indonesia yang dilindungi berdasarkan peraturan Permenhut P/.106/MENLHK/SETJEN/KUM/.1/2018 yang menyebutkan secara eksplisit nama ilmiah Hydrornis guajanus sebagai satwa yang dilindungi, artinya memelihara dan memperdagangkan burung tersebut adalah ilegal dan merupakan pelanggaran hukum.
Menurut laman International Union for Conservation of Nature (IUCN) redlist, status konservasi untuk burung paok pancawarna per tahun 2024 adalah Least Concern yang artinya tak terancam untuk punah di alam, namun ditemukan pula fakta bahwa mulai terdapat trend penurunan populasinya. Selain perdagangan ilegal satwa yang dilindungi, ancaman deforestasi merupakan salah satu ancaman nyata jangka panjang yang mengancam kelestarian burung paok pancawarna ini di alam. Merupakan tanggung jawab kita bersama untuk menjaga kelestariannya di alam.
Semoga informasi ini dapat menambah wawasan kamu mengenai burung cantik endemik Pulau Jawa dan Bali ini, ya!



















