Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

5 Bencana Alam yang Memunculkan Fenomena Langka di Berbagai Negara

4 min read
5 Bencana Alam yang Memunculkan Fenomena Langka di Berbagai Negara
Pepohonan yang dipenuhi jaring laba-laba (flickr.com/DFID)
  • Danau Nyos di Kamerun melepaskan COâ‚‚ pada 1986 lewat letusan limnik, menewaskan sedikitnya 1.700 orang akibat kekurangan oksigen.
  • Erupsi Gunung St. Helens dan kebakaran pascatsunami Tohoku memunculkan petir vulkanik serta pusaran api, akibat interaksi material panas, abu, dan udara.
  • Banjir Pakistan menyelimuti pepohonan dengan jaring laba-laba, sementara letusan Hunga Tonga memicu tsunami dan gelombang tekanan atmosfer yang mengelilingi bumi.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Bencana alam tidak hanya menimbulkan kerusakan dan korban jiwa, tetapi terkadang juga memperlihatkan fenomena alam yang jarang terjadi. Perubahan lingkungan secara ekstrem dapat memicu berbagai peristiwa tidak biasa, mulai dari terbentuknya pusaran api hingga munculnya lapisan jaring laba-laba yang menyelimuti pepohonan.

Fenomena tersebut menarik perhatian karena memperlihatkan bagaimana alam merespons perubahan besar dalam waktu singkat. Beberapa di antaranya bahkan memberikan kesempatan bagi peneliti untuk memahami proses geologi, atmosfer, dan perilaku organisme dalam kondisi ekstrem. Berikut lima bencana alam yang memunculkan fenomena langka di berbagai negara.

  1. 1. Danau Nyos, Kamerun

    Danau Nyos
    Danau Nyos (flickr.com/jbdodane)

    Pada 21 Agustus 1986, Danau Nyos di Kamerun melepaskan gas karbon dioksida dalam jumlah besar secara tiba-tiba. Danau di dalam kawah gunung berapi ini telah lama menampung COâ‚‚ yang merembes dari bawah permukaan bumi. Gas tak kasatmata itu mengalir menuruni lembah dan menyebabkan sedikitnya 1.700 orang meninggal akibat kekurangan oksigen.

    Fenomena ini disebut letusan limnik, yakni pelepasan mendadak gas terlarut dari danau, bukan letusan gunung berapi. Smithsonian Institution mencatat bahwa COâ‚‚ dari mata air bawah tanah menumpuk di dasar danau dan dapat terlepas jika lapisan air terganggu. Peristiwa ini menunjukkan bahwa danau kawah dapat menyimpan ancaman yang tidak terlihat dari permukaan.

  2. 2. Gunung St. Helens, Amerika Serikat

    Gunung St. Helens
    Gunung St. Helens (unsplash.com/Missy Fant)

    Pada 18 Mei 1980, Gunung St. Helens mengalami letusan besar yang menyebarkan abu hingga ratusan kilometer. Penelitian yang diterbitkan dalam Journal of Geophysical Research: Solid Earth pada 2009 menjelaskan bahwa kolom erupsi Plinian Gunung St. Helens mencapai ketinggian sekitar 14–18 kilometer selama salah satu fase letusan. Terdapat juga kilatan petir dan hujan es vulkanik saat erupsi.

    Petir vulkanik terbentuk ketika tumbukan antarpartikel abu dan material letusan memisahkan muatan listrik di dalam awan vulkanik. Ketika perbedaan muatan cukup besar, listrik dapat dilepaskan dalam bentuk kilatan. Fenomena ini menunjukkan bahwa kolom abu gunung berapi dapat menghasilkan aktivitas listrik di atmosfer.

  3. 3. Jepang, Gempa dan Tsunami Tohoku 2011

    Tsunami Tohoku 2011
    Tsunami Tohoku 2011 (commons.wikimedia.org/Mitsukuni Sato)

    Gempa bumi bermagnitudo 9,0 yang mengguncang Jepang pada 11 Maret 2011 memicu tsunami besar di pesisir timur. Gelombang dan kerusakan infrastruktur kemudian memicu kebakaran di sejumlah lokasi, termasuk Kesennuma, Prefektur Miyagi. Di tengah kebakaran pascatsunami tersebut, saksi mata melihat pusaran api yang menjulang dan berputar.

    Fenomena itu disebut fire whirl, yakni pusaran udara yang membawa nyala api dan material panas ke atas. Dokumen National Institute of Standards and Technology mencatat pusaran api terlihat di Kesennuma pada 15 Maret 2011. Menurut kesaksian yang dihimpun, pusaran vertikal tersebut bertahan sekitar lima menit sebelum menghilang.

  4. 4. Banjir Pakistan dan Pepohonan Berselimut Sutra

    Pepohonan yang dipenuhi jaring laba-laba
    Pepohonan yang dipenuhi jaring laba-laba (commons.wikimedia.org/DFID)

    Banjir besar yang melanda Pakistan pada 2010 membuat sejumlah wilayah di Provinsi Sindh terendam selama berbulan-bulan. Untuk menghindari genangan, jutaan laba-laba naik ke pepohonan dan membuat jaring di antara ranting serta dedaunan. Akibatnya, pohon-pohon tampak diselimuti lapisan sutra putih menyerupai kepompong raksasa.

    National Geographic mendokumentasikan fenomena tersebut melalui foto Russell Watkins, pekerja bantuan yang berasal dari Inggris. Genangan yang bertahan lama menyediakan tempat berkembang biak bagi nyamuk, yang kemudian menjadi sumber makanan bagi laba-laba. Peristiwa ini memperlihatkan cara sebagian hewan mencari tempat berlindung ketika habitatnya terendam banjir.

  5. 5. Letusan Hunga Tonga dan Gelombang Tekanan Atmosfer

    Hunga Tonga
    Hunga Tonga (commons.wikimedia.org/Damien Grouille)

    Pada 15 Januari 2022, gunung api bawah laut Hunga Tonga-Hunga Ha'apai di Tonga meletus dengan ledakan sangat besar. Letusan itu memicu tsunami sekaligus mengirimkan gelombang tekanan ke atmosfer yang terdeteksi di berbagai belahan dunia. Gelombang tersebut bahkan tercatat melintasi wilayah yang sangat jauh dari Samudra Pasifik.

    NOAA menjelaskan bahwa gelombang tekanan dari letusan tersebut mengelilingi bumi selama beberapa hari. Sensor satelit merekam pola gelombang yang menyebar dari Pasifik Selatan dan melintasi bumi berkali-kali. Fenomena ini memperlihatkan bahwa ledakan gunung api bawah laut dapat memengaruhi atmosfer jauh melampaui kawasan sumber letusan.

    Berbagai bencana alam memperlihatkan bahwa perubahan ekstrem pada lingkungan dapat memunculkan fenomena yang tidak biasa. Mulai dari pelepasan gas beracun dari danau hingga perubahan perilaku hewan, setiap peristiwa memberikan gambaran tentang kompleksitas proses alam. Fenomena tersebut juga menjadi bahan penting bagi penelitian untuk mengantisipasi risiko bencana di masa mendatang.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Related Articles

See More