Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
5 Fakta Akiapolaau, Burung Unik yang Berperan Layaknya Pelatuk
Burung akiapōlāʻau hanya hidup di Pulau Hawaii. (inaturalist.org/Dario Taraborelli)
  • Akiapōlāʻau adalah burung endemik Pulau Hawaii dengan paruh atas berkait dan paruh bawah seperti pahat untuk mencungkil kayu serta mengambil serangga secara presisi.
  • Di Hawaii yang tidak memiliki burung pelatuk, akiapōlāʻau mengisi relung serupa dengan mengetuk kulit kayu dan mengambil mangsa, contoh evolusi konvergen.
  • Populasinya diperkirakan sekitar 1.900 individu dan berstatus terancam punah; reproduksi lambat, kerusakan habitat, penyakit, serta predator invasif memperparah penurunan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Akiapōlāʻau (Hemignathus wilsoni) adalah burung berwarna kuning kehijauan yang hanya bisa dijumpai di Pulau Hawaii. Sekilas, penampilannya tampak seperti burung kecil pada umumnya. Namun, jika diperhatikan lebih dekat, burung ini memiliki paruh yang sangat unik.

Tak hanya unik, paruh ini berperan penting bagi akiapōlāʻau untuk bertahan hidup, lho! Paruh unik ini membuatnya mampu mengisi peran burung pelatuk, meski keduanya tidak berkerabat dekat. Penasaran lebih lanjut dengan burung satu ini? Yuk, simak lima fakta akiapōlāʻau selengkapnya berikut ini!

1. Paruh uniknya berfungsi seperti kait dan pahat

Akiapōlāʻau memiliki bentuk paruh yang unik. (commons.wikimedia.org/Carter T. Atkinson)

Akiapōlāʻau memiliki salah satu bentuk paruh paling unik di dunia. Berbeda dengan kebanyakan burung yang memiliki paruh atas dan bawah dengan bentuk serupa, akiapōlāʻau memiliki bentuk paruh yang yang berbeda. Rahang atasnya panjang dan melengkung seperti kait, sedangkan rahang bawahnya pendek, tebal, lurus, dan menyerupai pahat.

Paruh unik tersebut membantu akiapōlāʻau mencari makanan. Rahang bawah digunakan untuk mengetuk dan mencungkil kulit kayu, sementara rahang atas berfungsi mengait dan mengeluarkan larva, ulat, laba-laba, serta serangga lain yang bersembunyi di dalam kayu. Saat menangkap mangsa, kedua bagian paruhnya dapat bekerja seperti pinset sehingga burung ini mampu mengambil mangsa dengan sangat presisi. Adaptasi inilah yang membuat akiapōlāʻau menjadi salah satu burung dengan paruh paling istimewa di dunia.

2. Burung endemik Pulau Hawaii

Akiapōlāʻau hanya hidup di Pulau Hawaii. (commons.wikimedia.org/Historynerd2)

Akiapōlāʻau merupakan burung endemik Pulau Hawaii, sehingga tidak ditemukan secara alami di tempat lain di dunia. Dahulu, burung ini menghuni hampir seluruh kawasan hutan di Pulau Hawaii. Namun, populasinya terus menurun sehingga kini hanya bertahan di beberapa hutan pegunungan pada ketinggian sekitar 1.280–2.000 meter di atas permukaan laut.

Akiapōlāʻau sangat bergantung pada hutan yang masih didominasi pohon asli Hawaii. Burung ini mencari makan di pohon koa (Acacia koa) dan hampir selalu bersarang di pohon ʻōhiʻa lehua (Metrosideros polymorpha). Karena bergantung pada habitat tertentu, Akiapōlāʻau sangat rentan terhadap kerusakan dan fragmentasi hutan.

3. Mengisi peran burung pelatuk di Hawaii

Kepulauan Hawaii tidak memiliki burung pelatuk (Picidae). Untuk mengisi relung ekologis yang kosong tersebut, akiapōlāʻau berevolusi dengan cara yang unik. Burung ini menggunakan paruh bawahnya yang pendek dan kuat untuk mengetuk serta mencungkil kulit kayu, kemudian memanfaatkan paruh atasnya yang panjang dan melengkung untuk mengait larva, ulat, laba-laba, dan serangga lain yang bersembunyi di dalam batang pohon.

Saat mencari makan, akiapōlāʻau bergerak menyusuri batang dan cabang pohon sambil mengetuk permukaannya Jika menemukan bagian kayu yang menyimpan mangsa, ia  akan mencungkil kulit kayu, lalu mengambil mangsanya menggunakan paruh dan lidahnya yang berbentuk seperti sikat. Cara mencari makan tersebut sangat mirip dengan burung pelatuk, meski kedua burung ini tidak memiliki hubungan kekerabatan dekat. Hal ini menjadikan akiapōlāʻau sebagai salah satu contoh evolusi konvergen yang terjadi di dunia burung. Evolusi konvergen sendiri adalah proses ketika spesies yang berbeda mengembangkan kemampuan yang serupa untuk menempati relung ekologis yang sama.

4. Hanya membesarkan satu anak dalam satu musim berkembang biak

Induk akiapōlāʻau sedang memberi makan anaknya. (commons.wikimedia.org/HarmonyonPlanetEarth)

Akiapōlāʻau termasuk spesies burung yang memiliki laju reproduksi yang rendah. Dalam satu musim berkembang biak, burung ini biasanya hanya menghasilkan satu telur dan sangat jarang dua telur. Selain itu, setelah berhasil membesarkan anak, pasangan akiapōlāʻau diduga baru akan berkembang biak kembali sekitar dua tahun kemudian. Akibatnya, populasinya bertambah dengan sangat lambat.

Betina hampir sepenuhnya bertugas membangun sarang dan mengerami telur, sedangkan jantan mencari makanan untuk pasangannya. Setelah telur menetas, kedua induk bekerja sama merawat anaknya. Anakan mulai meninggalkan sarang sekitar 21 hari setelah menetas, tetapi masih bergantung pada kedua induknya selama empat hingga lima bulan. Anakan akiapōlāʻau perlu belajar mencari makan dan bertahan hidup sebelum hidup mandiri di alam liar. Laju reproduksi yang lambat ini membuat populasi akiapōlāʻau sulit pulih ketika menghadapi berbagai ancaman di alam.

5. Populasinya terus menurun dan berstatus terancam punah

Akiapōlāʻau kini masuk dalam kategori spesies endangered menurut IUCN. (commons.wikimedia.org/ALAN SCHMIERER )

Saat ini akiapōlāʻau masuk dalam kategori spesies terancam punah (endangered) menurut IUCN. Burung ini menjadi salah satu burung endemik Hawaii yang paling langka. Populasinya diperkirakan hanya tersisa sekitar 1.900 individu. Kini, ia hanya ditemukan di beberapa kawasan hutan pegunungan di Pulau Hawaii. Jumlah tersebut terus menurun akibat menyusutnya habitat alaminya.

Penurunan populasi akiapōlāʻau dipicu oleh berbagai ancaman, mulai dari pembukaan dan fragmentasi hutan, penyakit seperti malaria burung dan cacar burung yang ditularkan nyamuk, hingga predator introduksi seperti kucing liar dan tikus. Selain itu, berkurangnya serangga akibat masuknya predator dan parasit asing juga mengurangi sumber makanan burung ini. Berbagai upaya konservasi, seperti restorasi hutan asli dan pengendalian spesies invasif, terus dilakukan agar akiapōlāʻau tidak mengalami nasib yang sama seperti kerabat dekatnya, nukupuʻu, yang telah punah.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article