Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
5 Fakta Benteng Bahla, Situs Warisan Dunia UNESCO Pertama di Oman
Benteng Bahla (commons.m.wikimedia.org/Francisco Anzola)
  • Benteng Bahla di Oman menjadi situs warisan dunia pertama UNESCO di negara itu, mencerminkan kemajuan arsitektur dan sistem sosial masyarakat oasis Arab masa lampau.
  • Dibangun dari bata lumpur dengan teknik adobe, benteng ini berfungsi sebagai pusat pemerintahan Bani Nebhan sekaligus pertahanan strategis yang mengatur distribusi air dan keamanan wilayah.
  • Setelah mengalami kerusakan akibat erosi, Benteng Bahla direstorasi selama lebih dari dua dekade hingga dibuka kembali pada 2012, menjadi simbol pelestarian sejarah Oman.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Benteng Bahla yang terletak di wilayah pedalaman Oman merupakan kompleks pertahanan bersejarah yang mencerminkan perkembangan peradaban Arab di masa lalu. Sebagai situs warisan dunia pertama di Oman yang diakui UNESCO, benteng ini menjadi bukti perkembangan arsitektur dan sistem sosial masyarakat oasis di Jazirah Arab.

Kompleks ini tidak hanya terdiri dari bangunan utama, tetapi juga mencakup permukiman warga, masjid, pasar tradisional, dan sistem irigasi kuno. Seluruh kawasan ini dikelilingi oleh tembok sepanjang 12 kilometer yang berfungsi melindungi lahan pertanian dan pusat pemerintahan pada masanya.

1. Benteng Bahla pernah menjadi pusat pemerintahan dinasti Bani Nebhan

Benteng Bahla (commons.m.wikimedia.org/Prof. Mortel)

Benteng Bahla merupakan pusat kekuatan politik dan militer Bani Nebhan (Nabahina), dinasti yang menguasai pedalaman Oman antara abad ke-12 hingga ke-15. Bani Nebhan memilih lokasi ini sebagai pusat pemerintahan untuk mengawasi rute perdagangan dan memperkuat aliansi antar-suku.

Besarnya ukuran kompleks ini mencerminkan pengaruh kelompok penguasa saat itu. Struktur bangunan yang dilengkapi menara pengawas dan tembok keliling yang luas menunjukkan adanya sistem birokrasi pertahanan yang teratur. Selain menjadi pusat komando militer, benteng ini juga berfungsi mengelola distribusi sumber air bagi masyarakat sekitar.

2. Teknik pembangunan benteng menggunakan bahan dasar bata lumpur

Benteng Bahla (commons.m.wikimedia.org/Davide Mauro)

Ciri khas Benteng Bahla terletak pada penggunaan material bata lumpur dalam pembangunannya. Seluruh bangunan berdiri di atas fondasi batu pasir dengan dinding tebal yang dibuat dari campuran lumpur, jerami, dan air. Teknik yang disebut adobe ini membuat suhu di dalam ruangan tetap sejuk meski cuaca di luar sangat panas.

Sebagai bangunan pertahanan masa lalu, desain benteng ini mengutamakan pengawasan dan perlindungan fisik. Menara bundar dan jalur patroli di atas tembok memungkinkan penjaga melihat keadaan di sekitar pemukiman. Susunan ruangan dan koridor di dalam benteng dirancang sedemikian rupa untuk memperkuat keamanan bagi para pemimpin yang tinggal di sana.

3. Sejarah penyelamatan Benteng Bahla sebagai situs warisan dunia

Benteng Bahla (commons.m.wikimedia.org/Ekrem Canli)

Pada tahun 1987, UNESCO menetapkan Benteng Bahla sebagai Situs Warisan Dunia karena nilai sejarah dan arsitekturnya. Namun, setahun kemudian, situs ini masuk dalam kategori terancam karena kerusakan struktur akibat erosi pada material bata lumpur. Kondisi cuaca dan kurangnya perawatan saat itu sempat mengancam kelestarian bangunan.

Pemerintah Oman kemudian melakukan upaya pemulihan yang memakan waktu lebih dari dua dekade. Setelah melalui proses restorasi besar-besaran sejak tahun 1990-an, benteng ini dinyatakan pulih dan dikeluarkan dari daftar bahaya pada 2004, hingga akhirnya dibuka untuk umum pada 2012. Proses perbaikan ini menjadi catatan penting dalam manajemen perawatan bangunan bersejarah di Oman.

4. Peran sistem pengairan Falaj Al Maitha bagi masyarakat oasis

Benteng Bahla (commons.m.wikimedia.org/Ekrem Canli)

Kehidupan di sekitar Benteng Bahla sangat bergantung pada sistem falaj, yaitu metode pembagian air tradisional yang memanfaatkan gaya gravitasi. Jaringan saluran air bawah tanah ini mengalirkan air dari sumbernya menuju pemukiman dan kebun kurma. Sistem ini merupakan bagian penting yang memungkinkan masyarakat tetap bertani di wilayah yang kering.

Salah satu yang paling terkenal adalah Falaj Al Maitha. Sistem pengairan ini unik karena menggabungkan dua jenis saluran, yaitu Dawoodi dan Ghaili. Menurut cerita masyarakat setempat, pembangunan saluran air ini dipelopori oleh seorang tokoh perempuan bernama Maitha, yang menunjukkan keterlibatan berbagai lapisan masyarakat dalam membangun infrastruktur kota.

5. Beragam mitos dan cerita rakyat yang menyelimuti Benteng Bahla

Benteng Bahla (commons.m.wikimedia.org/Francisco Anzola)

Selain nilai sejarahnya, Benteng Bahla juga dikenal melalui berbagai cerita rakyat dan kepercayaan mistis. Sebagian masyarakat menyebut tempat ini sebagai "Kota Jin" karena adanya mitos yang berkembang secara turun-temurun. Salah satu cerita yang populer menyebutkan bahwa tembok panjang yang mengelilingi kota tersebut dibangun oleh kekuatan gaib dalam waktu singkat.

Ada pula legenda tentang dua sosok perempuan yang dianggap berjasa membangun tembok pertahanan dan sistem irigasi. Cerita-cerita seperti ini, termasuk kisah mengenai fenomena aneh di malam hari, telah menjadi bagian dari identitas budaya penduduk Bahla. Meskipun sulit dibuktikan secara ilmiah, narasi ini tetap dijaga oleh masyarakat sebagai bagian dari warisan budaya lisan mereka.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team