Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Bikin Heran, 5 Hewan Ini Punya Ritual Minum Air Paling Aneh

Bikin Heran, 5 Hewan Ini Punya Ritual Minum Air Paling Aneh
ilustrasi hewan minum air (unsplash.com/NIR HIMI)
Intinya Sih
  • Lima hewan memiliki cara minum unik, mulai dari kadal berduri yang menyerap air lewat kulit hingga kumbang Gurun Namibia yang memanen kabut di punggungnya.
  • Burung kolibri terbukti menggunakan lidah seperti pompa elastis untuk mengisap nektar, menggugurkan teori lama tentang mekanisme kapiler pasif.
  • Katak menyerap air melalui perut, jerapah harus melakukan split berisiko saat minum, dan adaptasi ini menunjukkan keajaiban evolusi dalam menghadapi lingkungan ekstrem.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Share Article

Sebagai makhluk hidup, air adalah sumber kehidupan yang mutlak dibutuhkan untuk bertahan hidup. Kita sebagai manusia mungkin merasa beruntung karena urusan menghidrasi tubuh terbilang sangat praktis tinggal ambil gelas, tuang dari galon, lalu teguk. Namun, di dunia fauna, urusan mengisi ulang cairan tubuh tidak sesederhana itu. Setiap spesies dituntut untuk beradaptasi dengan lingkungan mereka, yang akhirnya melahirkan cara-cara bertahan hidup yang sangat bervariasi dan unik.

Bagi sebagian hewan, minum bukan sekadar perkara menjilat genangan air atau menyedotnya dengan belalai. Beberapa di antaranya justru memiliki metode yang benar-benar di luar nalar dan bikin geleng-geleng kepala, mulai dari minum lewat kulit hingga memanfaatkan bagian tubuh yang tidak terduga. Penasaran bagaimana aksi nyeleneh mereka saat haus melanda? Yuk, simak daftar hewan dengan ritual minum paling aneh di dunia berikut ini!

1. Kadal berduri, minum pakai kulit dan kaki

ilustrasi kadal berduri (unsplash.com/Craig Manners)
ilustrasi kadal berduri (unsplash.com/Craig Manners)

Kadal berduri merupakan salah satu reptil endemik unik asal gurun Australia yang memiliki adaptasi fisik luar biasa untuk bertahan hidup di lingkungan ekstrem. Struktur tubuhnya dirancang secara spesifik, tidak hanya untuk pertahanan diri melalui duri tajam, kemampuan kamuflase warna, dan tonjolan kepala palsu yang mengecoh predator, tetapi juga untuk mengatasi keterbatasan anatomi mulutnya.

Karena struktur rahang dan lidahnya telah berevolusi khusus hanya untuk berburu semut, kadal ini tidak dapat minum air secara normal seperti hewan lainnya. Sebagai solusinya, kulit dan kaki kadal berduri bertindak seperti spons berkat sistem mikro kapiler dan jaringan saluran yang saling terhubung di antara sisik mereka. Arsitektur jaringan ini memanfaatkan gaya kapilaritas yang mampu melawan gravitasi, sehingga air dari berbagai sumber seperti genangan, embun, bahkan pasir basah dapat tersedot otomatis dan mengalir langsung menuju sudut mulut mereka.

2. Burung kolibri, menggunakan lidah seperti pompa

ilustrasi kolibri (unsplash.com/Candi Foltz)
ilustrasi kolibri (unsplash.com/Candi Foltz)

Sebuah penelitian ilmiah yang dipimpin oleh Alejandro Rico-Guevera dari University of Connecticut berhasil mematahkan teori berusia lebih dari 180 tahun mengenai  cara minum burung kolibri. Sejak tahun 1833, para ilmuwan meyakini bahwa burung kolibri memanfaatkan gaya kapiler yaitu fenomena pasif di mana cairan mengalir dengan sendirinya melalui celah sempit melawan gravitasi untuk menyedot nektar bunga melalui alur silinder pada lidah mereka.

Namun, melalui pengamatan video berkecepatan tinggi dan pemodelan matematis, tim peneliti membuktikan bahwa teori kapiler tersebut keliru karena prosesnya terlalu lambat bagi standar metabolisme tinggi burung kolibri. Faktanya, penelitian ini mengungkapkan bahwa lidah burung kolibri bekerja layaknya sebuah pompa mikro elastis. Saat paruh burung menjepit lidah untuk mengeluarkan nektar ke dalam mulut, bagian ujung lidah akan memipih, memadat, dan menyimpan energi elastis.

3. Katak, menyerap air lewat perut

ilustrasi katak (unsplash.com/David Clode)
ilustrasi katak (unsplash.com/David Clode)

Katak memiliki mekanisme pemenuhan cairan tubuh yang sangat tidak biasa karena tidak minum melalui mulut seperti hewan vertebrata kebanyakan. Sebagai gantinya, mereka memanfaatkan kulit mereka yang sangat tipis dan berpori sebagai organ multi fungsi. Kulit ini bertindak layaknya spons yang tidak hanya berfungsi sebagai alat pernapasan untuk pertukaran gas, tetapi juga menjadi jalur utama masuknya air langsung ke dalam sistem sirkulasi tubuh mereka.

Dilansir laman American Museum of Natural History, secara lebih spesifik adaptasi anatomi yang luar biasa ini berpusat pada area khusus di bagian bawah tubuh amfibi yang dikenal sebagai drink patch (tambalan minum). Area perut ini memiliki konsentrasi pembuluh darah yang sangat padat dan kulit yang jauh lebih bisa dilewati dibandingkan bagian tubuh lainnya. Ketika katak mengalami dehidrasi atau membutuhkan asupan cairan, mereka cukup menempelkan atau menekan bagian perut ini ke permukaan yang lembap seperti dedaunan yang berembun atau basah untuk menyerap air secara langsung melalui proses osmosis.

4. Jerapah, harus melakukan split kaki yang berbahaya

ilustrasi jerapah minum air (unsplash.com/Nadine Marfurt)
ilustrasi jerapah minum air (unsplash.com/Nadine Marfurt)

Sebagai mamalia tertinggi di dunia, jerapah memiliki keunggulan anatomis yang luar biasa berupa leher yang menjulang dan kaki sepanjang sekitar 1,8 meter. Karakteristik fisik ini memberikan keuntungan besar bagi jerapah untuk menjangkau sumber makanan di pucuk pohon yang tidak bisa digapai oleh hewan lain, sekaligus berfungsi sebagai “menara pengawas” alami yang sangat efektif untuk mendeteksi keberadaan predator dari jarak jauh di hamparan sabana Afrika yang luas.

Namun, postur tubuh yang sangat tinggi ini juga mendatangkan kerugian dan bahaya besar saat jerapah harus memenuhi kebutuhan hidrasinya di sumber air. Karena leher mereka tetap tidak cukup panjang untuk mencapai tanah dalam posisi berdiri biasa, jerapah terpaksa harus meregangkan dan melebarkan kaki depannya secara canggung (split). Posisi ini sangat tidak menguntungkan karena membuat jerapah berada dalam kondisi paling tidak terlindungi dan sangat rentan terhadap serangan mendadak dari predator besar seperti singa. Jerapah sebenarnya hanya perlu minum beberapa hari sekali, karena sebagian besar kebutuhan air harian mereka sudah berhasil terpenuhi dari kelembapan dan kadar air yang terkandung di dalam daun-daun segar yang mereka konsumsi setiap hari.

5. Kumbang Gurun Namibia, menangkap kabut dengan punggung

ilustrasi kumbang Gurun Namibia (commons.wikimedia.org/Hans Hillewaert)
ilustrasi kumbang Gurun Namibia (commons.wikimedia.org/Hans Hillewaert)

Gurun Namibia merupakan salah satu wilayah paling kering di bumi dengan curah hujan tahunan yang sangat minim, terutama di bagian barat yang berbatasan langsung dengan Samudra Atlantik. Namun, kondisi ekstrem ini diatasi secara cerdas oleh kumbang Gurun Namibia (Stenocara gracilipes) melalui kemampuan unik memanen air dari udara. Memanfaatkan angin yang membawa kabut laut dari samudra, kumbang ini melakukan posisi khas seperti berdiri terbalik di puncak bukit pasir untuk menangkap titik-titik air pagi hari yang terbawa angina. Punggung kumbang tersebut memiliki kombinasi tekstur berupa tonjolan bersifat hidrofilik (menari air) yang berfungsi mengondensasikan uap kabut menjadi butiran air, serta jalur-jalur halus bersifat hidrofobik (menolak air) di sekitarnya. Ketika butiran air di area tonjolan sudah cukup besar dan berat, gaya gravitasi akan membuat air tersebut menggelinding ke bawah melalui jalur hidrofobik dan jatuh tepat ke dalam mulut kumbang untuk memenuhi kebutuhan hidrasinya.

Adaptasi ekstrem yang mereka lakukan bukan sekadar untuk gaya-gayaan, melainkan strategi bertahan hidup yang luar biasa di tengah kerasnya habitat asli mereka. Mulai dari menyerap embun lewat punggung hingga memanfaatkan metabolism tubuh sendiri, ritual minum yang tidak biasa ini menjadi bukti betapa kayanya evolusi makhluk hidup di bumi.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Ane Hukrisna
EditorAne Hukrisna

Related Articles

See More