Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

5 Fakta Black and White Casqued Hornbill, Penyebar Biji Hutan Afrika

Black-and-white-casqued hornbill
Black-and-white-casqued hornbill betina (commons.wikimedia.org/Bernard DUPONT)
Intinya sih...
  • Burung enggang asli hutan Afrika dengan persebaran luas di Afrika Barat, Tengah, dan sebagian Timur.
  • Memiliki penampilan hitam putih ikonik dengan paruh besar dan berperan sebagai penyebar biji alami yang penting bagi regenerasi hutan.
  • Burung monogami yang kawin di musim hujan, bersarang di pohon raksasa, dan memiliki peran besar dalam menjaga kelestarian hutan Afrika.
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Burung enggang dikenal dengan paruh besarnya yang ikonik dan mencuri perhatian. Salah satu yang paling mencolok adalah black-and-white-casqued hornbill (Bycanistes subcylindricus). Burung enggang khas hutan Afrika ini punya tampilan warna hitam-putih dan tonjolan paruh yang unik. Namun, daya tarik burung ini tidak berhenti pada penampilannya saja.

Di balik paruh besarnya, burung enggang ini dikenal sebagai penjaga ekosistem hutan Afrika berkat peran yang dilakukannya. Penasaran dengan burung yang satu ini? Yuk kenali lebih dekat melalui 5 fakta menarik black-and-white-casqued hornbill selengkapnya di artikel ini.

1. Burung eksotis asli hutan Afrika

Black-and-white-casqued hornbill
Black-and-white-casqued hornbill (commons.wikimedia.org/Tommy Andriollo)

Black-and-white-casqued hornbill merupakan spesies burung enggang asal Benua Afrika yang persebarannya sangat luas. Mereka dapat ditemukan di Afrika Barat, Afrika Tengah, hingga sebagian Afrika Timur. Negara-negara seperti Sierra Leone, Liberia, Nigeria, Kamerun, Republik Demokratik Kongo, Uganda, Kenya, dan Tanzania menjadi rumah bagi burung ini, bahkan ada satu populasi terpisah di Angola.

Habitat favoritnya adalah hutan tropis dan subtropis, baik di dataran rendah maupun daerah pegunungan. Burung ini sangat bergantung pada hutan lebat yang masih memiliki banyak pohon besar. Sebaliknya, keberadaannya jarang ditemukan di kawasan yang sudah rusak atau banyak campur tangan manusia, seperti perkebunan, savana kering, atau daerah perkotaan. Karena sangat sensitif terhadap kerusakan habitat, black-and-white-casqued hornbill sering dianggap sebagai indikator hutan yang masih sehat.

2. Penampilan hitam putih dengan tonjolan paruh yang ikonik

Black-and-white-casqued hornbill
Black-and-white-casqued hornbill (commons.wikimedia.org/Tommy Andriollo)

Sesuai namanya, burung ini punya warna tubuh hitam dan putih yang kontras. Panjang tubuhnya bisa mencapai 60–70 cm, membuatnya terlihat cukup besar saat bertengger di dahan pohon. Bagian atas tubuh didominasi warna hitam, sementara bagian bawahnya berwarna putih bersih.

Ciri paling mencolok tentu saja paruh besar berwarna kuning kecokelatan dengan tonjolan keras di atasnya yang disebut balung (casque). Menariknya, balung ini berbeda antara jantan dan betina. Burung jantan memiliki balung yang lebih besar dan mencolok, sedangkan balung betina cenderung lebih kecil.

3. Pemakan buah sejati dan penyebar biji andalan

Black-and-white-casqued hornbill
Black-and-white-casqued hornbill (commons.wikimedia.org/benjchristensen)

Black-and-white-casqued hornbill termasuk burung frugivora, alias pemakan buah. Sekitar 90 persen makanannya berupa buah-buahan, terutama yang tumbuh di kanopi hutan. Mereka berpindah dari satu dahan ke dahan lain, memetik buah dengan ujung paruhnya, lalu menelannya secara utuh.

Burung ini diketahui mengonsumsi buah dari lebih dari 41 jenis tumbuhan. Setelah buah dicerna, bijinya akan dikeluarkan kembali bersama kotoran di lokasi yang berbeda. Proses ini membuat burung enggang berperan sebagai agen penyebar biji alami yang sangat penting bagi regenerasi hutan.

Meski dominan pemakan buah, burung ini juga mengonsumsi hewan kecil seperti serangga, burung kecil, kelelawar, siput, dan kadal. Asupan protein ini biasanya meningkat saat musim berkembang biak untuk memenuhi kebutuhan energi tambahan.

4. Setia pada satu pasangan dan kawin di musim hujan

Black-and-white-casqued hornbill
Dua ekor black-and-white-casqued hornbill sedang berada di lokasi sarangnya (commons.wikimedia.org/Tommy Andriollo)

Black-and-white-casqued hornbill merupakan burung monogami yang hanya memiliki satu pasangan selama musim berkembang biak. Di Afrika Tengah, musim kawin terjadi antara Januari hingga Mei, sedangkan di Afrika Timur berlangsung sekitar Agustus hingga Maret. Pemilihan musim hujan bukan tanpa alasan, karena ketersediaan buah dan serangga sangat menentukan keberhasilan dalam membesarkan anak.

5. Drama rebutan sarang di pohon raksasa

Black-and-white-casqued hornbill
Black-and-white-casqued hornbill (commons.wikimedia.org/Tommy Andriollo)

Masalah terbesar bagi burung ini bukanlah soal makanan, melainkan sarang. Mereka bersarang di lubang alami pohon besar pada ketinggian 9–30 meter dari tanah. Pohon yang dipilih biasanya berukuran sangat besar, dengan keliling batang bisa mencapai lebih dari 3 meter.

Karena lubang alami seperti ini cukup langka, persaingan antarburung untuk mendapatkan sarang sangat sering terjadi. Setelah sarang ditemukan, pasangan enggang akan menutup pintu lubang dengan campuran lumpur, menyisakan celah kecil.

Di dalam sarang tertutup itu, betina akan bertelur sekitar dua butir dan mengeraminya selama sekitar 42 hari. Selama periode ini, betina sepenuhnya bergantung pada jantan yang setia mengantarkan makanan. Dalam satu kali kunjungan jantan bahkan bisa membawa ratusan buah untuk betina, lho!

Itulah 5 fakta menarik black-and-white-casqued hornbill, si burung enggang asal Afrika. Burung yang tidak hanya cantik dan ikonik, tapi juga punya peran besar dalam menjaga hutam Afrika tetap hidup. Mulai dari penyebaran biji hingga indikator kesehatan hutan, burung ini membuktikan bahwa satu spesies saja bisa memiliki dampak luar biasa bagi ekosistem. Oleh karena itu, penting bagi kita untuk menjaga kelestarian makhluk hidup di lingkungannya.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Ane Hukrisna
EditorAne Hukrisna
Follow Us

Latest in Science

See More

4 Tanda Kucing Memiliki Trauma, Harus Diwaspadai!

12 Jan 2026, 18:05 WIBScience