Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
5 Fakta Bleeding Heart, Bunga yang Bentuknya Mirip Hati Menangis
Bleeding Heart (pixabay.com/Jürgen)
  • Bleeding Heart dikenal karena bentuk bunganya menyerupai hati dengan tetesan air, menjadikannya tanaman hias yang unik dan menarik perhatian.
  • Tanaman ini berasal dari hutan Asia Timur seperti Tiongkok, Korea, dan Jepang, tumbuh baik di tempat teduh dengan iklim sejuk.
  • Meski indah, seluruh bagian Bleeding Heart beracun dan tidak aman dikonsumsi oleh manusia maupun hewan peliharaan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Di antara banyaknya flora di dunia, Bleeding Heart (Lamprocapnos spectabilis) menjadi salah satu tanaman yang paling mudah menarik perhatian. Tanaman ini telah lama dibudidayakan dan kerap menjadi favorit karena tampilannya yang sangat berbeda dari kebanyakan bunga pada umumnya.

Namun, Bleeding Heart bukan hanya menarik untuk dipandang. Tanaman ini juga memiliki berbagai sisi menarik untuk dikenal, baik dari segi nama, asal-usul, maupun karakteristiknya. Yuk, simak lima fakta unik Bleeding Heart berikut ini!

1. Bentuk bunganya mirip hati yang sedang menangis

bentuk bunga Bleeding Heart yang menyerupai hati (commons.wikimedia.org/Andy Morffew from Itchen Abbas, Hampshire, UK)

Daya tarik utama Bleeding Heart terletak pada bentuk bunganya yang unik. Bunganya memiliki kelopak luar yang umumnya berwarna merah muda dan menyerupai hati. Di bagian bawahnya terdapat kelopak berwarna putih yang menjulur keluar, sehingga terlihat seperti tetesan air mata atau darah.

Keindahan bunga ini juga terlihat dari cara tumbuhnya. Kuntum-kuntumnya menggantung dan tersusun rapi di sepanjang tangkai yang melengkung, sehingga tampak semakin anggun saat bermekaran. Perpaduan bentuk hati dengan efek tetesan di bagian bawah inilah yang membuat tanaman ini diberi nama Bleeding Heart, yang berarti "hati yang berdarah" atau "hati yang menangis".

2. Memiliki nama lain “Lady in the Bath”

julukan "Lady in the Bath" berasal dari bentuk bunganya (commons.wikimedia.org/Holger Casselmann)

Selain dikenal dengan nama Bleeding Heart, tanaman hias ini juga memiliki julukan unik, yaitu "Lady in the Bath" (Wanita di dalam Bak Mandi). Julukan ini bukan merupakan nama ilmiah, melainkan nama umum yang muncul dari interpretasi orang saat melihat bentuk bunganya. Karena keunikannya, sebutan tersebut masih populer dan digunakan hingga sekarang.

Julukan "Lady in the Bath" muncul karena bentuk bunga ini dapat terlihat berbeda jika diamati dari sudut tertentu. Saat bunga dibalik dan kelopak luarnya dibuka secara perlahan, bagian dalamnya tampak menyerupai sosok seorang wanita yang sedang duduk berendam di dalam bak mandi. Meski hanya berdasarkan imajinasi visual, keunikan inilah yang membuat julukan tersebut begitu melekat.

3. Berasal dari hutan-hutan Asia Timur

Bleeding Heart berasal dari kawasan Asia Timur (commons.wikimedia.org/Susanne Nilsson)

Meski kini banyak dijadikan tanaman hias di berbagai negara, Bleeding Heart sebenarnya berasal dari kawasan Asia Timur, terutama Tiongkok bagian utara, Korea, dan Jepang. Sebelum dibudidayakan secara luas ke seluruh dunia, tanaman ini tumbuh secara alami di kawasan tersebut.

Di habitat aslinya, Bleeding Heart tumbuh di hutan yang teduh, sejuk, dan memiliki tanah yang lembap dengan drainase yang baik. Kondisi lingkungan seperti ini membuat tanaman tersebut lebih cocok tumbuh di daerah beriklim sedang daripada daerah yang panas sepanjang tahun. Karena itu, Bleeding Heart biasanya tumbuh lebih baik di tempat yang terlindung dari paparan sinar matahari langsung.

4. Memiliki masa berbunga yang relatif singkat

Bleeding Heart hanya berbunga pada musim tertentu (pixabay.com/RitaE)

Bleeding Heart tidak berbunga sepanjang tahun. Tanaman ini umumnya hanya mulai berbunga pada akhir musim semi hingga awal musim panas, dengan masa mekar yang berlangsung sekitar empat hingga enam minggu. Karena masanya yang cukup singkat, keindahan bunga ini hanya bisa dinikmati pada musim tertentu setiap tahunnya.

Setelah masa berbunga berakhir, daun dan batangnya akan mulai menguning, mengering, lalu perlahan menghilang. Kondisi ini menandakan bahwa Bleeding Heart sedang memasuki masa dormansi atau masa istirahat sebagai bagian dari siklus hidup alaminya. Saat musim yang sesuai tiba, tanaman ini akan kembali tumbuh dan berbunga.

5. Bukan tanaman yang aman untuk dikonsumsi

Bleeding Heart tidak aman untuk dikonsumsi (pexels.com/대정 김)

Meski memiliki bunga yang indah, Bleeding Heart bukanlah tanaman yang aman untuk dikonsumsi. Seluruh bagian tanaman ini mengandung senyawa alkaloid isokuinolin yang dapat menimbulkan efek negatif jika tertelan. Pada manusia, tanaman ini dapat menyebabkan gangguan kesehatan yang serius, sementara kontak langsung dengan getahnya juga berisiko menimbulkan iritasi ringan pada kulit bagi sebagian orang.

Kandungan racun tersebut juga sangat membahayakan hewan peliharaan, seperti anjing dan kucing. Oleh karena itu, jika kamu menanamnya di rumah, pastikan tanaman hias ini diletakkan di tempat yang tidak mudah dijangkau oleh anak-anak maupun hewan peliharaan agar tetap aman.

Itulah lima fakta unik Bleeding Heart. Meski memiliki sisi yang perlu diwaspadai, Bleeding Heart tetap menjadi salah satu tanaman hias yang menarik untuk dikagumi. Dengan segala karakteristik uniknya tersebut, tak heran jika tanaman ini selalu menjadi favorit para pencinta tanaman hias di berbagai belahan dunia.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article