Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

3 Perbedaan Erupsi Strombolian dan Erupsi Menerus Anak Krakatau

3 Perbedaan Erupsi Strombolian dan Erupsi Menerus Anak Krakatau
ilustrasi erupsi strombolian (pexels.com/Lillyfee_photography Linda Ohde)
  • Anak Krakatau beralih dari erupsi menerus sekitar 25 jam pada 4–6 September 2026 ke erupsi Strombolian, yang letusannya terjadi berkala dengan jeda.
  • Erupsi Strombolian melontarkan batu pijar, lapili, dan percikan lava, sedangkan erupsi menerus dapat memuntahkan magma stabil sebagai lava fountain serta aliran lava.
  • Kedua tipe erupsi berbahaya: Strombolian mengancam lewat lontaran material, sementara erupsi menerus dapat menghasilkan aliran lava; warga dilarang mendekati kawah dalam radius 3 kilometer.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Aktivitas Gunung Anak Krakatau kembali menjadi perhatian setelah gunung api tersebut mengalami perubahan karakter erupsi dalam beberapa hari terakhir. Sebelumnya, Anak Krakatau mengalami erupsi menerus selama sekitar 25 jam pada 4–6 September 2026. Setelah episode tersebut berakhir, gunung berapi ini kembali mengalami erupsi Strombolian yang ditandai dengan letusan-letusan secara berkala.

Perubahan tersebut menunjukkan bahwa erupsi gunung berapi tidak selalu berlangsung dengan pola yang sama. Hal ini kemudian menimbulkan pertanyaan di kalangan masyarakat, apa sebenarnya perbedaan erupsi Strombolian dan erupsi menerus? Berikut tiga perbedaannya yang perlu kamu ketahui.

  1. 1. Erupsi strombolian terjadi berkala, erupsi menerus berlangsung lebih lama

    ilustrasi erupsi strombolian
    ilustrasi erupsi strombolian (pexels.com/Gylfi Gylfason)

    Erupsi strombolian dan erupsi menerus sama-sama dapat menghasilkan material vulkanik, tetapi keduanya memiliki pola aktivitas yang berbeda. Pada erupsi strombolian, letusan umumnya terjadi secara berkala atau berulang, dengan jeda di antara satu ledakan dan ledakan berikutnya. Mengutip dari U.S. Geological Survey (USGS), erupsi Strombolian di Gunung Stromboli, Italia, biasanya terdiri dari beberapa ledakan gas kecil yang terjadi dalam satu jam dan melontarkan material vulkanik ke udara.

    Sementara itu, erupsi menerus menunjukkan aktivitas erupsi yang berlangsung secara kontinu dalam satu episode tanpa jeda panjang seperti pada letusan strombolian. Dilansir Badan Geologi Indonesia, Anak Krakatau mengalami episode erupsi menerus selama sekitar 25 jam, mulai 4 September pukul 23.07 WIB hingga 6 September 2026 pukul 00.04 WIB. Setelah episode tersebut berakhir, Anak Krakatau kembali mengalami seri erupsi strombolian yang menghasilkan lontaran batu pijar dan abu vulkanik.

  2. 2. Strombolian melontarkan material, erupsi menerus bisa membentuk lava fountain

    ilustrasi erupsi menerus
    ilustrasi erupsi menerus (pexels.com/Irving Joaquin Gutierrez )

    Perbedaan berikutnya dapat dilihat dari material yang terlihat saat gunung berapi mengalami erupsi. Pada erupsi strombolian, ledakan dapat melontarkan material pijar seperti batuan, lapili, dan percikan lava dari kawah. Mengutip dari Smithsonian Global Volcanism Program, aktivitas strombolian di sejumlah gunung berapi dapat menghasilkan lontaran material pijar yang jatuh di sekitar kawah.

    Sementara itu, pada erupsi menerus, magma dapat keluar secara lebih stabil dan membentuk lava fountain, yaitu semburan lava pijar yang menyerupai air mancur. Badan Geologi Indonesia menyebut, saat erupsi menerus Anak Krakatau pada September 2026, teramati semburan merah menyala yang berlangsung terus-menerus dan material pijar yang sebagian membentuk aliran lava. Jadi, perbedaannya bukan berarti erupsi strombolian tidak dapat menghasilkan lava, melainkan pola keluarnya material dan lava dapat berbeda pada setiap fase erupsi.

  3. 3. Keduanya berbahaya, tapi potensi ancamannya bisa berbeda

    ilustrasi erupsi gunung api
    ilustrasi erupsi gunung api (unsplash.com/Sebastian Alvarado Rojas)

    Baik erupsi strombolian maupun erupsi menerus tetap dapat menimbulkan bahaya bagi manusia dan lingkungan di sekitar gunung berapi. Pada erupsi strombolian, salah satu ancamannya adalah lontaran material pijar dari kawah yang dapat jatuh di area sekitar gunung. USGS menyebut, aktivitas strombolian ini bisa menghasilkan lontaran lava pijar, bom vulkanik, dan material vulkanik lain dari kawah.

    Sementara itu, erupsi yang berlangsung lebih menerus dapat menghasilkan aliran lava yang bergerak dari pusat erupsi menuju area di sekitarnya. Update terbaru dari Badan Geologi Indonesia, aktivitas Anak Krakatau saat ini masih berpotensi menghasilkan lontaran material pijar dan hujan abu lebat, sehingga masyarakat dilarang mendekati kawah dalam radius 3 kilometer. Karena itu, meskipun karakter erupsinya berbeda, keduanya tetap perlu diwaspadai karena dapat menghasilkan material vulkanik yang membahayakan.

    Erupsi strombolian dan erupsi menerus memiliki karakter yang berbeda, mulai dari pola letusan hingga material yang dikeluarkan. Perubahan karakter erupsi juga menunjukkan bahwa aktivitas gunung api dapat terus berubah dan perlu dipantau. Menurutmu, apakah perubahan pola erupsi Anak Krakatau ini menarik untuk terus diamati?

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More