5 Fakta British Museum, Mahakarya Peradaban Manusia Terbesar di Dunia

- British Museum menyimpan lebih dari 8 juta objek sejarah dari berbagai peradaban, namun hanya sekitar 1% yang dipamerkan langsung, sementara sisanya didigitalisasi agar bisa diakses publik secara global.
- Tahun 2023 museum ini sempat diguncang skandal pencurian sekitar 2.000 artefak berharga, termasuk permata kuno dan perhiasan emas, yang kemudian sebagian berhasil ditemukan dan dipamerkan kembali.
- Didirikan tahun 1753 sebagai museum publik nasional pertama di dunia, British Museum tetap mempertahankan akses gratis bagi pengunjung meski menghadapi perdebatan soal kepemilikan artefak dari berbagai negara.
British Museum di London adalah titik temu berbagai peradaban manusia dari masa ke masa. Di dalam satu gedung ini tersimpan rekam jejak kehidupan sejak dua juta tahun lalu hingga era modern, mulai dari artefak sederhana hingga peninggalan bersejarah bernilai tinggi. Koleksinya mencakup beragam wilayah dunia dengan latar budaya yang berbeda-beda.
Gedung ini menarik karena menyimpan berbagai bukti fisik dari perjalanan panjang sejarah manusia. Sejak dibuka tahun 1753, tempat ini memang didesain sebagai perpustakaan dunia yang bisa diakses siapa saja untuk mempelajari sejarah secara gratis. Yuk, simak fakta-fakta menarik di balik kemegahan museum ini yang mungkin belum pernah kamu dengar sebelumnya!
1. Rumah bagi jutaan objek sejarah

Pengelola museum bertanggung jawab atas jutaan objek sejarah yang jumlahnya sangat masif dan mencakup berbagai era peradaban. Dilansir laman Hyperallergic, institusi ini memiliki koleksi sekitar 8 juta objek, namun hanya 80.000 artefak saja yang ditampilkan secara resmi di galeri pameran utama. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa hanya sekitar 1% dari total keseluruhan koleksi yang bisa dilihat langsung oleh pengunjung saat datang ke lokasi.
Jutaan barang lainnya tersimpan di dalam ruang penyimpanan khusus yang lokasinya terpisah karena keterbatasan area gedung yang tersedia saat ini. Pihak museum sekarang sedang melakukan proses digitalisasi besar-besaran agar masyarakat internasional bisa mengakses seluruh data dan foto koleksi tersebut melalui jaringan internet secara terbuka.
2. Skandal pencurian koleksi permata kuno

Sistem keamanan internal museum pernah mengalami kegagalan serius yang menyebabkan hilangnya ribuan barang berharga dari gudang penyimpanan. Masih dari laman Hyperallergic, pada tahun 2023 terdapat sekitar 2.000 objek yang dilaporkan hilang, termasuk permata kuno, perhiasan emas, dan batuan semi mulia dari zaman Romawi. Banyak artefak yang dicuri tersebut sempat muncul di situs jual beli daring komersial sebelum akhirnya berhasil diidentifikasi dan ditemukan kembali oleh pihak berwenang.
Museum kemudian memutuskan untuk memamerkan beberapa barang yang sudah berhasil kembali tersebut dalam sebuah eksibisi khusus bertajuk "Rediscovering Gems". Langkah ini merupakan bagian dari upaya manajemen museum untuk memperbaiki sistem pengawasan koleksi dan memberikan informasi jujur mengenai pemulihan aset sejarah yang sempat hilang.
3. Galeri mesir dengan koleksi mumi terbesar

British Museum memiliki koleksi artefak dari Lembah Sungai Nil yang cakupannya sangat luas mulai dari masa prasejarah hingga periode Islam. Dilansir laman Wonderful Museums, koleksi Mesir di museum ini merupakan yang terbesar kedua di dunia setelah Museum Mesir yang berada di Kairo. Keberadaan artefak dalam jumlah besar ini berasal dari berbagai kegiatan arkeologi, pembelian, dan hadiah diplomatik yang terjadi sepanjang abad ke-18 hingga awal abad ke-20.
Koleksi ini mencakup ribuan objek, termasuk mumi dan peti mati kuno, yang merekam perkembangan teknik pengawetan jenazah serta sistem kepercayaan spiritual masyarakat Mesir kuno. Kelimpahan artefak itu membuat museum ini salah satu rujukan penting bagi peneliti yang ingin memahami konsep kehidupan dan kematian dalam peradaban Mesir.
4. Institusi museum publik nasional pertama di dunia

Selain dikenal lewat koleksinya yang sangat beragam, British Museum memegang gelar sebagai museum publik nasional pertama yang didirikan untuk mencakup seluruh bidang pengetahuan manusia. Dilansir laman Mainly Museums, lembaga ini didirikan sejak tahun 1753 dan menjadi institusi budaya pionir yang membuka pintu bagi masyarakat umum dari berbagai latar belakang.
Sejak awal berdirinya, museum ini memiliki visi untuk menyediakan akses koleksi global yang luas bagi siapa saja yang ingin belajar. Konsep museum publik ini kemudian menjadi inspirasi bagi banyak negara lain dalam mendirikan institusi serupa untuk menjaga memori kolektif manusia secara terbuka. Hingga saat ini, statusnya sebagai salah satu museum seni dan sejarah paling banyak dikunjungi di dunia tetap bertahan dengan jutaan pengunjung setiap tahunnya.
5. Adanya dilema kepemilikan dan akses budaya gratis

Keberadaan benda-benda sejarah dari peradaban besar di gedung ini memicu diskusi panjang mengenai lokasi ideal penyimpanan artefak tersebut. Masih dari laman Mainly Museums, terdapat perdebatan mengenai hak kepemilikan artefak penting seperti patung Rameses II dan koleksi dari peradaban lain antara London atau negara asalnya. Masalah kepemilikan ini melibatkan pertimbangan antara pelestarian fisik benda sejarah dan aksesibilitas bagi masyarakat luas untuk mempelajarinya.
Meskipun menghadapi tuntutan pengembalian, museum ini tetap mempertahankan kebijakan tanpa biaya masuk bagi seluruh pengunjung yang ingin menambah pengetahuan budaya. Kebijakan akses gratis ini dianggap sebagai upaya museum untuk memfasilitasi keingintahuan publik terhadap sifat manusia dan pencapaian peradaban global secara terbuka.
Mempelajari seluruh isi British Museum memberikan gambaran jelas mengenai perjalanan sejarah manusia di berbagai belahan bumi secara mendalam. Seluruh koleksi yang ada di sana membantu kita memahami tata cara peradaban manusia berkembang melalui benda-benda nyata yang masih bertahan hingga sekarang.


















